10 Kebudayaan Tradisional Suku Karo Peroleh Sertifikat EBT Kemenkumham

oleh -182 Kali Dibaca
Bupati Karo Terkelin Brahmana menunjukkan sertifikat Ekspresi Budaya Tradisional yang diserahkan Direktur Kerja Sama dan Pemberdayaan Kekayaan Intelektual, Ditjen Kekayaan Intelektual, Kemenkumham, Daulat P. Silitonga. [Foto Ist | Rienews]

RIENEWS.COM – Sepuluh kebudayaan tradisional suku Karo, Sumatera Utara, memperoleh sertifikat Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Perolehan sertifikat EBT ini menandakan hak kekayaan intelektual (HKI) atas ke-10 kebudayaan suku Karo tersebut kini dilindungi Undang-Undang Hak Cipta.

“Semuanya telah dicatatkan dalam EBT, sehingga  hak kekayaan intelektual dilindungi Undang- Undang Hak Cipta,” kata Bupati Karo Terkelin Brahmana usai menerima sertifikat EBT dari Direktur  Kerja Sama dan Pemberdayaan Kekayaan Intelektual, Ditjen Kekayaan Intelektual, Kemenkumham, Daulat P. Silitonga, Kamis malam, 3 September 2020, di Hotel Four Point by Sheraton Medan.

Kesepuluh kebudayaan tradisional suku Karo yang mendapatkan sertifikat EBT Kemenkumham yakni, Gendang Lima Sendalanen; Erdemu Bayu; Anding-Andingan; Tari Telu Serangke; Ngampeken Tulan-Tulan; Perkolong Kolong; Ermayan; Tari Guro Guro Aron; Tari Roti manis; dan  Catur Karo.

Terkelin mengungkapkan, terserifikasinya ke-10 kebudayaan tradisional suku Karo tersebut atas dukungan dan fasilitas dari Kantor Wilayah Kemenkumham Sumatera Utara.

Baca Berita:

Terkelin Brahmana Pukul Gong Pembukaan Sosialisasi Kekayaan Intelektual Kemenkumham

Pemkab Karo Terima Bantuan Masker dari Konjen RRT

“Keberhasilan ini atas dukungan dan difasilitasi Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham pada saat Pemda Karo mengusulkan  kekayaan intelektual warisan leluhur suku Karo agar  terjaga pelestariannya, supaya tidak punah,” tegas Terkelin.

Dikatakannya, warisan kebudayaan juga adalah modal, kekayaan, dan kekuatan sosial. Mak, harus terus dijaga kelangsungannya dan pelestarian nilai-nilai budayanya.

Bupati mengungkapkan, selain ke-10 kebudayaan tradisional suku Karo di atas, masyarakat Karo memiliki warisan kebudayaan lainnya, seperti budaya pesta kerja tahun, merdang merdem dan pesta mejuah juah.

“Ini kedepan juga akan kita usulkan agar terdaftar dan  tercatat hak kekayaan intelektual,  sehingga pelestarian dapat terjaga tidak dapat diklaim oleh orang lain,” ucap Terkelin.

Direktur Kerja Sama dan Pemberdayaan Kekayaan Intelektual, Daulat P. Silitonga mengatakan bahwa langkah Pemda Karo mendaftarkan ke-10 kebudayaan tradisional suku Karo mendapatkan hak kekayaan intelektual sangat tepat.

“Pasalnya, budaya yang telah bersertifikat akan tercatat dan mendapat perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional, tujuannya agar tidak dapat diklaim oleh orang lain. Perlindungan EBT bagi Pemda Karo akan menjadi pilot project untuk daerah lain yang saat ini belum mendaftarkan HKI (kebudayaannya) sebagai suatu  ciri khas budaya di setiap daerah. Pendaftaran HKI adalah investasi jangka panjang. sehingga sebaiknya ditempatkan pada pos investasi bukan beban atau biaya,” pungkas Daulat. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *