119 ODHA Meninggal di Sukabumi

oleh -963 Kali Dibaca
Save ODHA
Save ODHA

POSBOGOR.COM – Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sukabumi mencatat sejak 2003 hingga 2016 ada 119 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang meninggal dunia.

“Pada tahun ini saja sudah ada empat ODHA yang meninggal dunia,” kata Seketaris KPA Kabupaten Sukabumi Asep Suherman di Sukabumi, kemaren.

Kasus ODHA yang meninggal dunia paling banyak terjadi pada 2007 yang jumlahnya mencapai 19 orang.

Mereka yang meninggal dunia karena kondisi daya tahan tubuhnya sudah tidak bisa lagi bertahan dari serangan HIV yang juga disertai penyakit lainnya seperti TBC.

Data ODHA hingga 2016 menunjukkan ada 557 orang yang tertular, 392 orang baru masuk fase HIV dan 165 sudah AIDS serta untuk yang masih hidup sebanyak 438 orang.

Seluruh ODHA yang meninggal dunia itu sudah masuk dalam fase AIDS karena kekebalan tubuhnya menurun drastis sehingga mudah terserang penyakit lainnya, mulai dari sariawan hingga TBC dan komplikasi penyakit lainnya.

“Untuk menjaga daya tahan tubuhnya, setiap orang yang sudah positif HIV wajib menjalani terapi dan mengkonsumsi ARV (Antiretroviral). Namun sayangnya masih banyak yang belum mengkonsumsi secara rutin ARV sehingga virus HIV yang ada di dalam tubuh ODHA tersebut dengan cepat berkembang biak dan menggerogoti sistem kekebalan tubuhnya,” tambahnya.

Di sisi lain, Asep mengatakan pihaknya saat ini terus berupaya menekan angka penularan HIV dengan menjaring berbagai komunitas di masyarakat agar lebih paham dan penduli tentang HIV/AIDS.

Selain itu, kepada orang yang sudah ODHA akan diberikan pembinaan dan terapi agar tetap bisa menjalani hidupnya dengan semangat, khususnya tidak menyebarkan virusnya tersebut kepada orang lain.

Kebanyakan orang yang tertular HIV awalnya tidak mengetahui dirinya sudah terjangkit virus mematikan tersebut dan baru mengetahui setelah menjalani pemeriksaan kesehatan sehingga virusnya tersebut sudah mulai menjalar menggerogoti sistem kekebalan tubuhnya.

“Kami juga mengimbau kepada siapapun khususnya komunitas rawan tertular untuk selalu atau secara rutin memeriksakan kesehatannya,” katanya.[ANT/OGI]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *