AJI Surabaya Kecam Deportasi Jurnalis Yuli Arista dari Hongkong

oleh -126 Kali Dibaca
Yuli Arista setibanya di Bandara Juanda, Sidoarjo, pada Senin 2 Desember 2019. [Foto AJI Surabaya | Rienews]

RIENEWS.COM – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya mengecam keras deportasi yang dilakukan pemerintah Hongkong terhadap Yuli Arista, buruh migran cum jurnalis warga.

Dalam siaran persnya, Senin 2 Desember 2019, Ketua AJI Surabaya Miftah Faridl menyatakan, sebelum dideportasi, pemerintah Hongkong melalui imigrasi menjebloskan Yuli ke tahanan Pusat Imigrasi Castle Peak By selama 28 hari.

Penahanan yang kemudian berujung deportasi ini diduga dilakukan pemerinah Hongkong karena aktivitas jurnalistik yang dilakukan Yuli. Perempuan yang sudah 10 tahun menjadi buruh migran di Hongkong itu memang rutin melakukan reportase, baik tulisan maupun foto langsung dari titik demonstrasi.

Informasi-informasi yang disampaikan Yuli sangat bermanfaat bagi semua orang yang ingin mendapatkan informasi terkeit apa yang sebenarnya terjadi di Hongkong. Yuli menyajikan informasi dari narasumber yang ada di lokasi ketimbang hanya informasi dan peringatan normatif yang diberikan perwakilan Indonesia dalam hal ini KJRI Hongkong.

Baca Berita:

Coffee Morning Pejabat Pemkab Karo Bahas Hog Cholera

Bupati Karo Hadiri Natal Awal Desember 2019 di GPdi Imanuel

Aktivitas jurnalisme warga yang dilakukan Yuli dianggap berbahaya oleh otoritas Hongkong. Yuli menyajikan semua informasi yang didapatnya melalui media alternatif bernama Migran Pos yang digagasnya bersama sejumlah pekerja migran.  Yang dialami Yuli menjadi bukti semakin buruknya kebebasan berekspresi di era demokrasi. Sebelum membuat media sendiri, Yuli tercatat sebagai kontributor Suara, media lokal berbahasa Indonesia di Hongkong.

Yuli ditangkap pada 23 September 2019. Dia lantas banding dan pada 4 November, pengadilan pun menyatakan Yuli tidak bersalah karena minimnya bukti yang diajukan kepolisian. Namun pihak berwenang di Hongkong mencari celah agar bisa menghentikan aktivitas Yuli. Yuli pun dituduh melewati masa izin tinggal.

Menurut Yuli, masalah izin tinggal sebenarnya bersifat adiminstratif dan bisa diselesaikan dengan pengajuan izin. Apalagi, majikannya juga melakukan pembelaan. Namun, pihak berwenang malah menjebloskannya ke tahanan.

“Saya diperlakukan seperti kriminal. Mereka melanggar aturan yang mereka buat sendiri,” ujar Yuli.

Yuli mengaku diperlakukan tidak manusiawi. Tahanan imigrasi, menurutnya, lebih buruk dari tahanan atau penjara kriminal.

“Pertama, case saya bukan sebuah case yg biasa. Saya ditahan dengan alasan yang sebenarnya tidak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku di Hongkong. Kedua, dalam penahanan saya ada banyak kejanggalan dan saya jga menemuka teman-teman saya sesama, kami bukan kriminal tetapi diperlakukan lebih dari orang-orang yang ada dipenjara,” imbuhnya.

AJI Surabaya ikut menjemput Yuli saat tiba di Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo, pada 2 Desember 2019.

Sebelumnya, polisi Hongkong juga menembak mata jurnalis Indonesia, Veby Mega Indah, pada 29 September 2019. Veby dilaporkan buta setelah terkena peluru karet dari polisi Hongkong. Veby ditembak saat meliput demonstrasi yang mengguncang sejak Juni. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *