WISATA  

Bagaimana Mengelola BUMDes Menjadi Sukses

Diskusi Media Ekonomi Solidaritas Sosial, Pra-Konferensi Internasional tentang Ekonomi Transformatif, Jumat 8 November 2019, di Kampoeng Mataram, Jalan Ringroad Selatan, Desa Panggungharjo. [Foto Rienews]

RIENEWS.COM – Pasca diberlakukannya Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014, desa-desa bergeliat membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Tetapi, tidak banyak desa yang sukses dan berkembang dalam mengelola BUMDesnya. Sebaliknya, tidak sedikit pula BUMDes stagnan hingga bangkrut.

Tahun 2013, setahun sebelum diberlakukannya Undang-Undang Desa, Desa Panggungharjo di Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sudah membentuk BUMDes yang diberinama Panggung Lestari. Di tahun 2018, BUMDes Panggung Lestari dinobatkan sebagai BUMDes Terbaik.

Usaha milik desa tersebut menjadi lokomotif perekonomian yang mampu mendongkrak perkapita warga Desa Panggungharjo. Tahun 2018, BUMDes Panggung Lestari membukukan  omzet Rp5,2 miliar, naik drastis dari tahun sebelumnya Rp1,2 miliar.

Kesuksesan BUMDes Panggung Lestari dan predikat Nasional sebagai BUMDes Terbaik 2018, menjadikannya sebagai BUMDes rujukan di Tanah Air, kerap dikunjungi  pemangku kepentingan desa untuk studi banding, juga objek penelitian dari kalangan akademisi dan lembaga nonpemerintah pemerhati perekonomian kerakyatan. Bahkan, tahun kemarin, para pejabat tinggi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dilantik di Kampoeng Mataram, salah satu unit usaha BUMDes Panggung Lestari.

Reputasi BUMDes Panggung Lestari makin diakui dengan terpilih sebagai BUMDes dari Indonesia untuk menerima The 4th ASEAN Rural Development and Poverty Eradication Leadership Award. Penghargaan itu diterima Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi di Ibu Kota Nay Pyi Taw, Myanmar, pada Jumat 8 November 2019.  ASEAN Leadership Award adalah penghargaan ASEAN bagi Civil Society Organization (CSO) dan Private Sector (swasta) yang dinilai telah berkontribusi bagi pembangunan perdesaan dan pengentasan kemiskinan.

Baca Berita:

Pemkab Karo-BIG Teken MoU Atasi Berbagai Persoalan Termasuk Batas Wilayah

Innova Alami Kecelakaan Tunggal, Satu Orang Tewas

Kesuksesan BUMDes Panggung Lestari berawal dari permasalahan sampah.

Enam tahun lalu, warga Desa Panggungharjo dihadapkan pada persoalan sampah di pemukiman mereka. Persoalan ini disikapi dengan solusi, akhirnya membawa Desa Panggungharjo dikenal seantero Nusantara hingga mancanegara.

Direktur BUMDes Panggung Lestari, Eko Pambudi menceritakan pembentukan BUMDes Panggung Lestari dilatari permasalahan sampah yang dihadapi warga Desa Panggungharjo di tahun 2013 lalu. Permasalahan tersebut melahirkan ide membentuk  usaha yang kini dikenal dengan KUPAS (Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah).

“Saat itu keinginanan menyelesaikan permasalahan sampah yang dihadapi warga desa. Atas inisiatif pemerintah desa dibentuk unit usaha yang bergerak dalam pengelolaan sampah,” kata Eko.

Memulai usaha pengelolaan sampah itu, Pemerintah Desa Panggungharjo menggelontorkan angaran dari APBDes senilai Rp37 juta. Dana itu dikelola BUMDes Panggung Lestari dengan membentuk unit usaha KUPAS. Usaha ini sukses hingga mampu menghasilkan pendapatan sendiri dan memberdayakan warga desa dan juga anak gelandangan.

Suksesnya KUPAS, mendorong BUMDes Panggung Lestari mengembangkan dan mendirikan sejumlah unit usaha lainnya. Pemerintah Desa Panggungharjo seiring dengan pemberlakuan Undang-Undang Desa, menyertakan modalnya kepada BUMDes Panggung Lestari hingga tahun 2016.

“Modal awal 2013, saat itu kami dikasih modal Rp37 juta dari APBDes. Setelah adanya dana desa kami disertakan modal Rp100 juta dari 2014, 2015. Untuk mengembangkan dan membuka unit usaha, 2016 kami dikasih lagi penyertaan modal Rp150 juta. Setelah 2016 kami tidak lagi dapat penyertaan modal, tapi kami BUMDes sudah membagi keuntungan dari usaha-usaha ini kepada pemerintah desa sejak 2017,” tutur Eko.

Kini BUMDes Panggung Lestari memiliki lima unit usaha. Selain KUPAS, ada Kampoeng Mataram merupakan usaha di bidang edukasi wisata dan kuliner. Lalu usaha yang bergerak di bidang minyak nabati yang ditangani PT Sinergi, usaha di sektor Agrotani hingga pengelolaan area parkir.

“Secara landscape, Desa Panggungharjo tidak memiliki apa-apa. Kami tidak punya gunung, tidak punya pabrik, tidak punya objek wisata. Maka dari sebuah masalah itu, kita ubah menjadi sebuah potensi. Tidak semata profit oriented, tapi lebih kepada pelayanan masyarkatnya. Jadi itu menjadi bisnis sosial, embrionya,” kata Eko.

Sejarah berdirinya BUMDes Panggung Lestari itu diceritakan ulang oleh Eko Pambudi saat menjadi pembicara di diskusi Media Ekonomi Solidaritas Sosial, Pra-Konferensi Internasional tentang Ekonomi Transformatif, Jumat 8 November 2019, di Kampoeng Mataram, Jalan Ringroad Selatan, Desa Panggungharjo.

Diskusi yang digelar Dewan Ekonomi Solidaritas Asia (ASEC) dan Yayasan Bina Swadaya, juga menghadirkan pembicara Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Purwo Santoso,  Istianto Ari Wibowo dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Chandra Firmantoko dari  ASEC, dimoderatori Tommy Apriando (Ketua  AJI Yogyakarta).

Eko melanjutkan, BUMDes Panggung Lestari mengelompokan usaha yang dikelola dalam dua kategori.

“Bisnis murni dan bisnis sosial,” kata Eko.

Dia memberi contoh bisnis sosial yang dijalankan di bawah naungan BUMDes Panggung Lestari, KUPAS, Kampoeng Mataram, Agrotani dengan produk Bestari, hingga pengelolaan rest area di rumah makan Numani, Jalan Parangtritis. Untuk bisnis murni yakni usaha di bidang minyak nyamplung dan minyak jelantah (minyak goreng bekas pakai). Dalam menjalankan usaha ini, BUMDes Panggung Lestari mendirikan badan hukum tersendiri, PT Sinergi.

Ditegaskannya, kelima unit usaha BUMDes Panggung Lestari itu, mengutamakan pasokan bahan hingga tenaga kerja dari warga Desa Panggungharjo.

Suasana Kampoeng Mataram yang dikelola BUMDes Panggung Lestari. [Foto Rienews]
Faktor Sukses dan Gagal