Di Markas PBB, Kepala BNPB Bicara Peran Dunia Internasional

oleh -2.034 Kali Dibaca
Kepala BNPB Willem Rampangilei saat berbicara peranan dunia internasional dalam penanganan darurat pascagempa Sulawesi Tengah di acara CERF Annual High-Level Pledging Event digelar di Markas PBB, New York, Jumat 7 Desember 2018. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM –  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem  Rampangilei di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, berbicara penanganan pascagempa di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Bencana gempabumi Sulteng pada 28 September 2018, mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia, luka, dan kehilangan tempat tinggal.

Dalam penanganan darurat pascagempa Sulteng, sebut Willem, tidak terlepas dari dukungan mitra internasional, ASEAN dan Badan PBB.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan sumber daya, energi, dan kemitraan yang kuat antara Indonesia dan mitra regional dan internasional untuk penguatan kapasitas penanggulangan bencana. Kami sekarang dapat memutuskan dengan cepat ketika kami akan menerima bantuan dari negara-negara sahabat dan organisasi internasional,” ujar Willem di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, Jumat 7 Desember 2018.

Baca Berita: Korban Pembantaian KKB Asal Kabupaten Sergai Tiba di Rumah Duka

Di acara CERF Annual High-Level Pledging Event, Willem menyatakan, Pemerintah Indonesia telah bekerjasama dengan AHA Centre.

“Dengan dukungan ASEAN, kami telah bekerjasama dengan AHA Centre yang membuktikan kerjasama yang berharga dalam pelayanan koordinasi penanganan bencana tahun ini,”kata Willem dalam siaran pers yang diterima Redaksi.

Kepala BNPB juga menyampaikan terima kasih di hadapan para delegasi, bahwa sistem kemanusiaan internasional telah menyediakan dukungan pada saat dibutuhkan.

Indonesia mendapatkan dukungan finansial untuk penanganan pascagempa Sulteng sebesar Rp218 miliaar.

Bantuan melalui mekanisme Central Emergency Response Fund (CERF) tersebut sangat cepat dipergunakan untuk penanganan darurat pascagempa.

Kurang dari satu minggu setelah kejadian bencana, bantuan telah digunakan oleh badan PBB dan organisasi-organisasi nonpemerintah untuk memberikan bantuan darurat secara cepat kepada pemerintah (Indonesia).

CERFerupakan dukungan dana bersifat cepat dan efektif dari PBB yang dapat digunakan untuk penanganan darurat bagi masyarakat terdampak krisis yang terjadi di dunia. CERF dibentuk oleh PBB pada 2005 dan selanjutnya dapat diakses oleh Badan PBB dan pelaku penanggulangan bencana untuk melakukan penanganan darurat di mana pun.

Pemerintah Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang konsisten memberikan sumbangan kepada CERF. Indonesia telah menyumbang dengan total Rp29 miliar hingga kini.

Di samping itu, Indonesia juga memiliki perwakilan yang bekerja sebagai unsur pengarah CERF. (Rep-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *