Jumari, Pengumpul Sampah Terharu Putrinya Masuk UGM Tanpa Tes

oleh -2.645 Kali Dibaca
Jumari beserta keluarganya. [Foto UGM | Rienews]

RIENEWS.COM – Jumari (58 tahun) merasa bangga dengan keberhasilan putri bungsunya, Alyza Firdaus Nabila yang masuk Fakultas Kehutanan di Universitas Gadjah Mada (UGM) tanpa tes, melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN) Tahun 2019.

“Sangat bangga dan bersyukur, anak kami Lyza bisa diterima kuliah di UGM. Ini menjadi kebahagiaan tertinggi bagi keluarga kami,” ucap Jumari sembari menahan haru.

Jumari tak dapat menahan isak tangisnya, saat menceritakan perjuangannya dalam membesarkan anaknya. Setiap dua hari sekali Jumari menyewa mobil bak terbuka yang ia gunakan bersama putranya berkeliling mengambil sampah ke rumah-rumah penduduk di wilayah Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I Yogyakarta.  Sampah-sampah ini selanjutnya dibawa ke tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Piyungan.

Jumari menuturkan, sudah menjalani pekerjaan itu selama 13 tahun. Sebelumnya, Jumari melakoni pekerjaan sebagai sopir “panggilan”, namun pekerjaan itu ia tinggalkan karena faktor usia.

Perekonomian rumah tangganya yang pas-pas-an ini, bagi Jumari tidak pernah berpikir anaknya akan bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi.

Baca Berita:

Petani Tomat: Harapan Kami Harga Bertahan Sampai Lebaran

Bupati Karo-KPK Teken Komitmen Pencegahan Korupsi

“Rata-rata per bulannya dari angkut sampah dan usaha cucian (istrinya) sekitar Rp1,5 juta untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” tutur Jumari, dalam siaran pers UGM yang diterima Redaksi, Selasa 14 Mei 2019.

Melihat ketekunan putrinya dalam belajar, dan prestasi akademis yang baik, Jumari  yakin buah harinya nantinya dapat memperoleh pendidikan yang layak.

“Benar-benar tidak membayangkan,akhirnya Lyza bisa diterima kuliah di UGM,” ucap Jumari yang tinggal di Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY.

Alyza Firdaus Nabila, yang akrab disapa Lyza menuturkan ingin melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Keinginan itu terus diperjuangkan Lyza dengan kegigihan dalam belajar.

Sejak tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, Lyza berhasil meraih peringkat kedua. Di tingkat sekolah menengah atas, Lyza mampu meningkatkan prestasi akademinya hingga meraih peringkat pertama.

Atas prestasinya itu, Lyza berhasil masuk UGM tanpa tes dan saat ini mengajukan beasiswa BIDIKMISI, agar mendapat keringanan biaya pendidikan selama kuliah nantinya.

“Saya hanya terus belajar, berusaha, dan berdoa. Jika ada kemauan pasti ada jalannya dan Alhmadulilah, akhirnya bisa diterima di UGM,” kata Lyza.

Lyza berharap bisa sukses dan mampu mengangkat kehidupan keluarganya, dan berkeinginan memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah Haji.

“Kami orang tuanya hanya bisa mendukung doa semoga nantinya Lyza bisa lancar kuliahnya dan menjadi orang berhasil serta berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tutur ibu Lyza, Nur Hayati. (Rep-02 | Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *