Musibah Banjir Bandang di Flores Timur, 5 Warga Meninggal Dunia

oleh -63 Kali Dibaca
Material lumpur terbawa dalam bencana banjir bandang yang terjadi di dua kecamatan, Kabupaten Flores Timur, NTT, Minggu 4 April 2021. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM – Banjir bandang melanda Kabupaten Flores Timur, Provini Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu dinihari, 4 April 2021. Dilaporkan lima warga meninggal dunia dalam bencana banjir bandang di Kabupaten Flores Timur.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati mengungkapkan, BPBD Kabupaten Flores Timur melaporkan lima warga Desa Lamanele meninggal dalam musibah banjir bandang tersebut.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur masih melakukan pendataan di lapangan terkait korban meninggal dunia maupun luka-luka. Petugas di lapangan masih melakukan penanganan darurat pascainsiden yang terjadi pada dini hari tersebut,” kata Raditya dalam siaran pers kepada jurnalis, Minggu pagi.

Wilayah terdampak banjir bandang Kabupaten Flores Timur meliputi wilayah Desa Lamanele di Kecamatan Ile Boleng, dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur.

“Data sementara di Desa Lamanele disebutkan oleh BPBD, sebanyak 5 orang meninggal dunia, 5 lainnya menderita luka-luka, dan 9 KK (kepala keluarga) atau 20 jiwa terdampak. Sedangkan di Desa Waiburak, sebanyak 4 orang mengalami luka-luka. Mereka sudah dirawat di Puskesmas setempat,” imbuh Raditya.

Pantauan BPBD Kabupaten Flores Timur, puluhan rumah warga tertimbun lumpur di Desa Lamanele. Ada juga rumah warga yang hanyut terbawa banjir. Di samping itu, jembatan putus di  Desa Waiburak Kecamatan Adonara Timur.

Baca Juga:

Banjir di Pasuruan, 2.970 Rumah Warga Tergenang Air

Luncuran Awan Panas Erupsi Gunung Merapi Capai 1,5 Kilometer

“Pihak pemerintah daerah telah melakukan rapat terbatas antara Bupati, TNI, Polri dan instansi terkait. Salah satunya dengan pembentukan posko penanganan darurat,” kata Raditya.

Dijelaskannya, saat ini kendala di lapangan yang diidentifikasi petugas BPBD yaitu akses satu-satunya adalah penyeberangan laut ke Pulau Adonara. Sedangkan hujan, angin dan gelombang yang tinggi mengakibatkan pelayaran tidak diperbolehkan oleh otoritas setempat.

“BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Flores Timur dan memantau penanganan darurat. Apabila dibutuhkan mobilisasi bantuan, BNPB telah siap dengan pengerahan sumber daya,” katanya.

Sementara itu, BMKG (badan meteorologi, klimatologi dan geofisika) memprakirakan terdapat potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat-sangat lebat, angin kencang dan gelombang tinggi dalam periode sepekan ke depan di sebagian wilayah Indonesia.

Dalam sepekan kedepan potensi hujan sedang hingga lebat diprediksi terjadi di wilayah, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Papua.

Sedangkan potensi hujan sangat lebat diprediksi terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan NTT.

Potensi angin kencang diprediksi terjadi di wilayah Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, NTT dan Sulawesi Selatan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *