• Minggu, 28 November 2021

Pancaroba, 2 Kabupaten Ini Dilanda Banjir Hingga 1 Meter

- Sabtu, 2 Oktober 2021 | 17:38 WIB

RIENEWS.COM – Dua kabupaten di Provinsi Bengkulu dan Gorontalo dilanda banjir. Dampak banjir menyebabkan ratusan rumah dan ribuan warga terdampak.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyatakan sejumlah wilayah di Indonesia diprediksi akan mengalami musim hujan lebih besar dari biasanya. Di antaranya sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian selatan, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian barat hingga selatan, Sulawesi, Maluku Utara bagian barat, Pulau Seram bagian selatan, dan Papua bagian selatan.

Puncak musim hujan periode 2021/2022 sendiri diprediksi akan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2022.

"Pada musim peralihan, gelombang tinggi, badai, angin kencang, atau cuaca buruk dapat sewaktu-waktu terjadi. Ketinggian gelombang bisa mencapai kisaran 4 - 6 meter," kata Dwikorita Karnawati, dikutip dari laman BMKG.

Dwikorita menyebut, berdasarkan pemantauan parameter anomali iklim global oleh BMKG dan institusi-institusi internasional lainnya, terdapat indikasi/peluang bahwa ENSO Netral akan berkembang menjadi La Nina dengan kategori lemah hingga moderat menjelang akhir tahun 2021 hingga awal tahun 2022. Sementara itu, Indian Ocean Dipole Mode (IOD) Netral diprediksi bertahan setidaknya hingga Januari 2022.

Baca Juga:

Forkopimda Karo Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Cuaca Ekstrem di Padang Pariaman, Korban Meninggal Bertambah Menjadi 8 Orang

“Jika La Nina terjadi, maka akan berdampak pada peningkatan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Hal ini juga berdampak pada risiko terjadinya bencana hidrometeorologi," imbuhnya.

Banjir di Seluma

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengungkapkan, banjir dengan tinggi muka air 35 sentimeter hingga 100 sentimeter melanda Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.

Banjir yang melanda Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, mengakibatkan tiga rumah warga rusak. Peristiwa yang terjadi sejak empat hari lalu, (air) akhirnya surut pada hari ini, Jumat (1 Oktober 2021), sekitar pukul 17.30 WIB. BPBD setempat melaporkan tidak ada korban pada kejadian tersebut,” kata Muhari, Sabtu 2 Oktober 2021.

BPBD Kabupaten Seluma mencatat rumah rusak berat sebanyak dua unit dan rusak ringan satu. Selain kerusakan, rumah warga terdampak sebanyak 241 unit. Sedangkan dampak pada fasilitas umum maupun Pendidikan, BPBD masih melakukan pendataan di lokasi. Banjir tidak sampai menyebabkan terjadinya pengungsian. Namun banjir berdampak pada 241 KK atau 914 jiwa yang tersebar di lima desa.

Kelima desa terdampak berada di di Kecamatan Talo Kecil, yaitu Desa Bakal Dalam, Napalan, Tebat Sibun, Taba dan Talang Padang. Saat banjir terjadi, tinggi muka air berkisar 35 hingga 100 cm.

Banjir di wilayah Seluma ini dipicu salah satunya hujan berintensitas tinggi pada Selasa (28 September 2021) lalu. Hujan lebat menyebabkan debit air sungai setempat meluap hingga mengakibatkan banjir. Saat kejadian ini berlangsung, tim reaksi cepat BPBD melakukan kaji cepat dan memberikan bantuan logistik kepada warga yang bertahan di rumah masing-masing,” tutur Muhari.

Dikatakannya, hingga dua hari ke depan wilayah Bengkulu berpotensi hujan lebat disertai petir atau kilat serta angin kencang.

“Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG di tingkat kecamatan, Talo Kecil masih berpeluang berawan tebal, hujan petir dan ringan pada esok hari (Minggu), sedangkan pada lusa (Minggu 3 Oktober 2021) wilayah ini masih berpeluang hujan ringan,” jelas Muhari.

Diungkapkannya, dari analisi inaRISK, sebanyak 13 kecamatan berada pada potensi bahaya banjir pada kategori sedang hingga tinggi. Salah satu kecamatan tersebut yaitu Talo Kecil dengan luasan bahaya hingga 755 hektar.

“Masyarakat diimbau untuk waspada dan siap siaga dalam menghadapi potensi bahaya selama musim hujan. Kesiapsiagaan keluarga sangat penting untuk memastikan setiap anggota keluarga dapat merespons bahaya yang dihadapi, bertahan dan tetap selamat dari bencana. Kenali ancaman dan siapkan strateginya sehingga setiap keluarga terhindar dari bencana,” imbuhnya.

Gorontalo Dilanda Banjir

Dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, dilaporkan banjir berangsur surut. Empat kecamatan di kabupaten itu dilanda banjir yang dipicu hujan lebat hingga beberapa sungai meluap, pada Jumat malam, 1 Oktober 2021.

“BPBD Kabupaten Gorontalo memonitor sekitar tiga jam setelah banjir, genangan berangsur-angsur surut. Fenomena ini disebabkan empat sungai tidak mampu menampung debit air hujan, yaitu Sungai Bulota, Biyonga, Uwabu dan Marisa. Kondisi tersebut menyebabkan 13 desa atau kelurahan yang tersebar di empat kecamatan terdampak,” Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

Adapun wilayah terdampak banjir, Kelurahan Hunggaluwa, Tenilo, Hutuo, Kayubulan dan Bolihuanga di Kecamatan Limboto. Kemudian di Kecamatan Limboto Barat, desa terdampak di Yosonegoro, Tunggulo dan Haya-haya, sedangkan di Telaga dan Pulubala wilayah terdampak antara lain Desa Ulapato B, Dulamayo, Ulupato A, Talumelito dan Tuladenggi.

“Sebanyak 2.300 warga terdampak di empat kecamatan tersebut.  Dampak lain, BPBD Kabupaten Gorontalo juga mencatat jembatan rusak sebanyak 4 unit. Saat banjir terjadi, tinggi muka air berkisar 20 hingga 50 cm,” kata Muhari.

BPBD Gorontali telah melakukan berbagai upaya penanganan darurat, seperti evakuasi, pendataan korban terdampak, pendistribusian makan siap saji. Di beberapa titik petugas gabungan membantu warga untuk membersihkan material yang terbawa banjir.

“Analisis inaRISK mengidentifikasi 17 kecamatan berpotensi bahaya banjir dengan kategori sedang hingga tinggi. Dari jumlah tersebut, beberapa wilayah terdampak termasuk ke dalam kecamatan yang berpotensi tersebut. Sedangkan dilihat dari peringatan dini cuaca BMKG, wilayah Gorontalo masih berpeluang hujan lebat yang dapat disertai petir atau kilat dan angin kencang pada hari ini (Sabtu) dan esok hari (Minggu 3 Oktober 2021),” tutur Muhari.

Berdasarkan data kejadian BNPB, sepanjang kurun waktu lima tahun, 2015 – 2020,  sebanyak 20 kejadian bencana banjir terjadi di Kabupaten Gorontalo.

“Jumlah korban meninggal dan hilang berjumlah lima jiwa pada periode waktu tersebut,” ujar Muhari.

Masyarakat diminta waspada dan siaga tidak hanya pada bahaya banjir, tetapi juga tanah longsor. Berdasarkan analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kabupaten Gorontalo juga rentan terhadap gerakan tanah. Beberapa wilayah berpotensi di 12 kecamatan, dengan rincian 9 kecamatan pada kategori menengah, 2 pada menengah hingga tinggi, sedangkan 1 lainnya pada kategori tinggi, yaitu di Pulubala. (Rep-02)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Sudah Satu Pekan Kota Tanjungbalai Dilanda Banjir

Sabtu, 27 November 2021 | 11:40 WIB

Sei Wampu Meluap, 258 Rumah Terendam Banjir di Langkat

Minggu, 14 November 2021 | 00:16 WIB

Hujan Lebat 13 Desa di Ketapang Dilanda Banjir

Senin, 1 November 2021 | 20:33 WIB

Kepala BNPB Tekankan Antisipasi Dampak La Nina

Sabtu, 30 Oktober 2021 | 23:06 WIB

Banjir 2,5 Meter di Sekadau Telan Satu Korban Jiwa

Kamis, 28 Oktober 2021 | 22:40 WIB
X