Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’

Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas di Jalan Sudirman Nomor 52, Kota Yogyakarta, Senin, 2 November 2026. Foto Istimewa.
Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas di Jalan Sudirman Nomor 52, Kota Yogyakarta, Senin, 2 November 2026. Foto Istimewa.

Di Bernas pula, Dedi mengenal Fuad Muhammad Syafrudin atau Udin, jurnalis yang bergabung di media cetak itu sejak 1986 yang mempunyai kode berita “saf”. Komplek ini pun menjadi saksi bisu keberadaan seorang jurnalis, pembawa berita kasus-kasus korupsi di Bantul usai dianiaya.

Kematiannya pada 16 Agustus 1996 menjadi catatan kelam perjalanan pers Indonesia karena Negara tak mengusut tuntas.

Lantas, bagaimana Udin yang saat itu berstatus sebagai koresponden bekerja di Bernas? Dedi menjelaskan, karena lokasi liputannya relatif dekat dengan Kantor Bernas, Udin menyerahkan berita dengan datang ke sana. Tiba di kantor melalui sisi samping dari tempar parkir, menulis berita, menyerahkan file kepada editor desk DIY. Kerap dia pulang agak malam sampai berita daerah tertempel pada dummy di meja paste up.

Berita daerah, termasuk Bantul, biasanya sudah tertempel pada dummy sekitar pukul 21.00-21.30. Udin kadang ingin tahu apakah beritanya terpasang atau tidak. Dia salah satu dari amat sedikit reporter yang menengok ruang paste up untuk memastikan berita yang diketiknya akan dicetak untuk koran esok hari.

“Kadang kan berita yang sudah tertempel di dummy bisa dicopot lagi, diganti berita lain,” terang dia.

Dan malam itu, 13 Agustus 1996, setelah dari ruang paste up, Udin pamit kepada Manajer Produksi. Dia menuju ke lokasi parkir, tempat Honda Tiger 2000 merahnya siap mengantar pulang. Setengah jam kemudian, Manajer Produksi menerima telepon yang menginformaskan, bahwa Udin kecelakaan dan sudah dibawa ke ICU RS Bethesda yang tak jauh dari Kantor Bernas. Dan malam itu, terakhir kali Udin menjejakkan kakinya di Harian Bernas untuk selamanya.

Acara napak tilas ini merupakan program baru dari Gejayan.id, yakni Gejayan Civic Memory Lab yang didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI), International Federation of Journalist (IFJ), BBC Media Action, Brave Media dan Kopi Nako Jogja. Sebuah ikhtiar media alternatif ini untuk memproduksi arsip gerakan sosial yang rapi, etis, terverifikasi, dan bisa diakses dengan mudah oleh publik. Baik melalui produk jurnalistik maupun media sosial. Arsip tersebut sekaligus menjadi pengalaman publik, karena melibatkan publik melakukan napak tilas berbasis rute, cerita, dokumen, suara, foto, dan refleksi warga.

“Arsip gerakan sosial, khususnya di Yogyakarta kan berserak ya. Ada yang sudah didokumentasikan, ada yang mengendap dalam ingatan, hanya cerita dari mulut ke mulut. Jadi kami kulik, gali, kumpulkan, verifikasi dan dokumentasikan lagi,” papar Pimpinan Redakasi Gejayan.id, Pito Agustin.

Napak tilas juga tidak diposisikan sekadar tur nostalgia. Melainkan cara membaca Yogyakarta melalui jejak gerakan masyarakat sipil secara berkelanjutan. Dari jurnalisme menjadi arsip, dari arsip menjadi pengetahuan publik. (Red)