Ini Analisis Kapolri Usai Tinjau Karhutla di Riau

oleh -553 Kali Dibaca
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian berada di lokasi kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau, Minggu 15 September 2019. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian meninjau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, Minggu 15 September 2019.

Setelah terbang menggunakan helikopter TNI AU selama 25 menit dari Lanud Pekanbaru, rombongan mendarat di lapangan bola Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, untuk meninjau karhutla di dekat pompa minyak Pertamina di Blok Eka Kuning.

Sepanjang perjalanan, kendaraan rombongan melintasi jalan terjal berupa tanah di antara belantara perkebunan kelapa sawit.

Sebelum tiba di Blok Eka Kuning, rombongan disambut dengan bekas lahan dan hutan yang terbakar, bahkan masih teramati adanya asap dari kebakaran tersebut.

Sesampainya di titik lokasi pemadaman, Panglima TNI segera mengambil komando untuk menggerakkan pasukan dan melakukan analisa dan evaluasi (Anev) terkait kendala dan kebutuhan pemadaman yang dilakukan melalui darat. Panglima TNI mendapat laporan bahwa perlu adanya alat berat untuk membuka dan memperluas parit. Selain itu pompa air berikut selangnya juga harus ditambah sehingga dapat menjangkau titik api.

“Kita akan kirim eskavator untuk memperlebar parit. Kemudian juga pompa air beserta selangnya,” kata Panglima TNI.

Baca Berita:

Minggu Dini Hari Warga Desa Lau Baleng Panik, 4 Unit Rumah Terbakar

Bupati Karo-Danbrigif 7/RR Lepas 2.400 Pesepeda Tour de Sinabung VI

Kemudian sebagai alat pantau siaga karhutla, TNI juga akan mengirimkan drone yang akan terbang selama 24 jam siang dan malam. Hal itu penting karena menurut Hadi terdapat perbedaan data pada saat dan sesudah matahari terbenam.

Drone ini akan diterbangkan 24 jam penuh untuk memantau. Api ini harus terus diamati karena siang dan malam beda. Kadang api padam saat siang, lalu malamnya menyala lagi,” kata Hadi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku heran setelah melihat sendiri karhutla yang ada di Provinsi Riau, dari helikopter. Pasalnya dari sekian ribu hektar luas lahan yang terbakar tidak satupun yang mencakup lahan perkebunan sawit dan tanaman industri lainnya.

Tito menganggap bahwa hal itu sekaligus menunjukkan masalah karhutla ini murni karena ulah manusia dan pelakunya adalah oknum yang sama.

“Apa yang sudah kami lihat dari helikopter bersama Panglima TNI dan Kepala BNPB, lahan yang sudah jadi perkebunan, baik sawit maupun tanaman industri lainnya, kok tidak ada yang terbakar. Misalpun ada paling hanya sedikit dan di pinggir. Ini menunjukkan adanya praktik ‘land clearing‘ dengan mudah dan murah memanfaatkan musim kemarau,” ungkap Tito, dalam siaran pers Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, Minggu sore.

Fokus dalam upaya pemberantasan karhutla, Tito akan memberi  reward and punishment bagi anggotanya. Tito meminta agar pasukan Satgas Karhutla dapat lebih kompak dan menjaga solidaritas sehingga permasalahan  ini bisa diselesaikan dengan baik.

“Polda beserta jajarannya akan kami berikan reward and punishment,” kata Tito.

Melihat permasalahan yang ada, Kepala BNPB Doni Monardo kembali menekankan upaya pencegahan untuk kedepannya melalui pendekatan kesejahteraan masyarakat dengan pertanian produktif. Selain itu perilaku masyarakat harus diubah sejak dini.

Doni mencontohkan bahwa ada beberapa jenis tanaman produktif yang bisa menjadi alternatif untuk menumbuhkan perekonomian warga seperti; kopi liberika, lidah buaya, cabai dan sebagainya.

“Ini masalah cara pikir manusia. Harus diubah. Mulailah dengan menanam tanaman produktif seperti cabai, kopi liberika, lidah buaya atau bisa juga pisang,” kata Doni.

Hingga Minggu pagi, 15 September 2019, terdeteksi ada 27 titik api kategori tinggi di Provinsi Riau.

Secara umum Kota Pekanbaru masih diselimuti asap tipis hingga tebal dengan jarak pandang mencapai 1 kilometer pukul 07.00 WIB dan pada pukul 10.00 WIB. Jarak pandang berkisar antara 1 kilometer hingga 2,2 kilometer dan suhu berkisar hingga 37 derajat celcius.

Sedangkan kualitas udara menurut pengukuran PM10 pada pukul 07.00 s/d 10.00 WIB berada pada kisaran 182 sd 201 ugram/m3 atau dalam level tidak sehat. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *