• Minggu, 28 November 2021

15 Ribu Dosis Vaksin Sasar Pelajar Karo

- Jumat, 17 September 2021 | 17:09 WIB

RIENEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalokasikan 15.000 dosis vaksin Covid-19 untuk pelajar. Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di kalangan pelajar digelar di sejumlah titik Kabanjahe dan Berastagi, Jumat 17 September 2021.

Bupati Karo Cory Sriwaty Sebayang turun meninjau pelaksanaan vaksinasi pelajar  di Desa Samura, Kecamatan Kabanjahe. Selain di lokasi tersebut, pelaksanaan vaksinasi untuk kalangan pelajar juga digelar di SMP Negeri 1 Berastagi, SMA Negeri 1 Berastagi, STM Pijerpodi.

Di sela peninjauan vaksinasi itu,  Cory mengungkapkan, salah satu cara agar pelaksanaan PTM dapat segera dilakukan dengan melakukan vaksinasi kepada para pelajar.

Baca Juga:

Banjir Kembali Landa Pulau Buru, Jembatan Antar Desa Putus

Program Kartu Prakerja Gelombang 21 Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

"Semua siswa pasti sudah rindu dengan belajar tatap muka. Jadi, ajak teman kelas, sekolah untuk ikut vaksin. Jika kita mampu menurunkan angka Covid-19 maka level di Kabupaten Karo bisa turun, sekolah tatap muka bisa segera dilakukan tentunya dengan protokol kesehatan ketat," ujar Cory.

Kepala Dinas Kesehatan Karo, Irna Sabrina turut mendampingi Bupati Karo meninjau pelaksanaan vaksinasi kepada pelajar, menyatakan, vaksinasi sangat penting dilakukan untuk membentuk herd immunity atau kekebalan tubuh.

“Dosis pertama untuk merangsang antibodi, dan dosis kedua membentuk antibodi. Dengan mengikuti vaksin, kita lindungi diri kita, guru, keluarga dan masyarakat luas yang nantinya otomatis bisa secara perlahan memutus mata rantai penularan Covid-19. Dan level kita turun, serta sekolah tatap muka bisa segera dilakukan,” katanya.

Andre, pelajar SMPN 1 Berastagi yang mengikuti vaksinasi, mengaku rindu mengikuti proses pembelajaran tatap muka. "Pasti bahagia kalau semua ikut vaksin dan sekolah bisa tatap muka, sudah setahunan tidak ketemu teman," tuturnya.

PTM Terbatas Izin Pemda

-
Dirjen Pauddasmen, Kemendikbudristek, Jumeri disuntik vaksin Covid-19. [Foto Paud Dikdasmen]Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen Pauddasmen), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Jumeri menyebutkan wilayah berstatus level satu sampai tiga Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), membuka kesempatan bagi satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan izin dari pemerintah daerah.

 

Dari 514 kabupaten/kota, 471 daerah di antaranya berada di wilayah PPKM level 1-3. Jika dihitung dari jumlah sekolah sebanyak 540 ribu sekolah, 91 persen di antaranya diperbolehkan melakukan PTM terbatas. “Jadi ada 490.217 sekolah yang diperbolehkan. Tapi kecepatan daerah dalam melakukan PTM terbatas sangat bervariasi,” kata Jumeri sebagaimana dikutip dari laman resmi Ditjen Pauddasmen.

Menurut Jumeri, saat ini provinsi Aceh menduduki peringkat teratas dalam pelaksanaan PTM terbatas, yaitu sebanyak 81 persen. Secara nasional, sekolah yang sudah melakukan PTM terbatas berjumlah 50 persen dari jumlah sekolah yang sudah diizinkan melakukan PTM terbatas.

Jumeri menyampaikan, saat ini sebagian besar komponen pemerintah daerah, pemerintah pusat, guru, peserta didik, dan orang tua, sudah punya tujuan yang sama, yaitu agar sekolah segera bisa dibuka.

“Kita sudah satu frekuensi untuk segera membuka sekolah, untuk merelaksasi anak-anak kita, menolong anak-anak kita. Soal beda waktu membuka ini hanya soal perbedaan pertimbangan daerah,” tuturnya.

Vaksinasi Tidak Jadi Syarat 

Dirjen Pauddasmen, Jumeri menegaskan dalam upaya mengembalikan peserta didik ke sekolah, ada syarat yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan.

“Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah satuan pendidikan tersebut harus sudah masuk di wilayah PPKM level 1 s.d. 3. Apalagi jika pendidik dan tenaga kependidikannya sudah divaksinasi, sekolah wajib menyediakan opsi tatap muka terbatas, juga memberi opsi pembelajaran jarak jauh (PJJ),” tutur Jumeri.

Pendidik dan tenaga kependidikan yang belum divaksinasi di wilayah PPKM level 1 s.d. 3, menurut Jumeri, boleh melakukan PTM terbatas.

“Saat ini vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan dosis pertama mencapai 60 persen atau dari 5,5 juta guru sudah 3,4 juta orang yang divaksinasi. Sedangkan untuk dosis kedua sudah sebanyak 40 persen dari jumlah guru,” imbuh Jumeri.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, prioritas vaksinasi kepada pendidik dan tenaga kependidikan tetap berjalan. Pihaknya, kata dia, selalu mengingatkan kepada dinas kesehatan di seluruh wilayah provinsi, kabupaten, kota, untuk segera berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk mempercepat vaksinasi pendidik dan tenaga kependidikan.

“Jadi kita dorong untuk menunjang upaya kita dalam melakukan pembelajaran tatap muka,” tuturnya.

Nadia mengatakan bahwa proses PTM mengacu pada surat keputusan bersama empat menteri yang pernah diluncurkan sebelumnya. “Jadi tidak ada syarat seorang murid ataupun siswa harus divaksinasi dulu untuk bisa mengikuti PTM,” tegas Nadia.

Guna mendukung PTM terbatas ini, Nadia menyebut bukan hanya vaksinasi saja yang didorong, tapi juga upaya-upaya memastikan protokol kesehatan dijalankan dengan baik, dan ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai.

“Yang artinya jika kemudian ada kasus positif bagaimana melakukan kontak tracing, bagaimana melakukan testing, kemudian bagaimana hubungan dengan Puskesmas setempat, atau faskes mana yang akan ditunjuk. Nah, ini akan juga merupakan langkah-langkah awal bagaimana kita menyiapkan wahana pendidikan untuk bisa siap melakukan pembelajaran tatap muka,” katanya.

Dirjen Pauddasmen Jumeri menambahkan, apabila peserta didik akan mengikuti PTM terbatas, hal penting yang harus didapatkan adalah izin orang tua. Siswa dapat tetap belajar dari rumah apabila orang tua belum mengizinkan karena berbagai alasan, termasuk jika memiliki penyakit bawaan. Mengajar dari rumah juga boleh dilakukan oleh guru yang memiliki komorbid.

Jumeri mengingatkan para guru untuk tidak mengejar ketertinggalan materi sekaligus di awal saat pelaksanaan PTM terbatas. Ia mengatakan, di awal pembukaan sekolah, guru diimbau untuk membangun karakter dan kesenangan anak akan sekolah, agar mentalnya siap.

“Kita cek dulu secara psikologis, beri motivasi tentang kesehatan. Pastikan anak-anak kita mematuhi protokol kesehatan. Ketika anak-anak di sekolah akan lebih mudah dikontrol karena sehari hanya empat jam dan jumlahnya sedikit,” katanya.

Jumeri juga mengingatkan agar jangan sampai terjadi diskriminasi pada anak yang masih memilih untuk belajar dari rumah. Baik terkait materi pelajaran ataupun dalam pemberian nilai. Jumeri mengimbau agar materi yang diberikan sesuai dengan kondisi anak.

“Tidak boleh memberi soal yang sama pada siswa tatap muka dan PJJ, karena pemahamannya pasti berbeda. Berikan evaluasi sesuai kondisi anak, ini penting agar anak-anak kita tidak merasa takut,” jelasnya.

Selain kepada guru, Jumeri juga mengimbau kepala sekolah untuk mengatur pembelajaran di sekolah dengan baik. Saat PTM terbatas berlangsung, kata dia, siswa cukup diberikan materi-materi yang esensial. Apalagi, lanjutnya, sebagian besar waktu belajar siswa adalah di rumah.

“Karena seminggu hanya dua hari, empat harinya di rumah. Dan kepada anak yang belum bisa ke sekolah, jangan berkecil hati,” kata Jumeri. (Rep-01 | Red)  

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Pemkab Karo Gelar Upacara Peringatan Hari Pahlawan

Rabu, 10 November 2021 | 21:35 WIB

Bupati Karo Buka Pesparawi 2021

Senin, 8 November 2021 | 21:31 WIB

Bupati Karo Minta PKK Berperan di Tengah Masyarakat

Kamis, 28 Oktober 2021 | 22:26 WIB

Bupati Karo Resmikan Menara Jubelium 125 Tahun GBKP

Selasa, 19 Oktober 2021 | 22:28 WIB
X