Wisatawan Nilai Pariwisata Kota Berastagi Monoton

oleh -671 Kali Dibaca
Suasana wisata di kawasan Pasar Buah, Kota Berastagi, Minggu 13 Oktobe 2019. [Foto Rienews]

RIENEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Karo diminta untuk lebih kreatif dalam membangun dan mengemas kawasan wisata di dataran tinggi di Provinsi Sumatera Utara itu.

Sejumlah spot destinasi wisata di Karo, di antaranya kawasan wisata populer Berastagi dinilai oleh para wisatawan monoton. Wisatawan juga menyoroti soal kebersihan, keasrian dan ketertiban di kawasan puncak itu.

Kepopuleran kawasan wisata Berastagi dengan udara sejuk dan panorama pengunungan; Gunung Sinabung dan Sibayak, sejatinya telah dikenal masyarakat luas di Sumatera hingga mancanegara.

Hanya saja, kata Saleh Siregar wisatawan dari Kabupaten Deli Serdang, kawasan wisata Berastagi kini terkesan tidak berkembang. Dia menyoroti soal kebersihan, keasrian di kawasan wisata di Berastagi di antaranya Pasar Buah.

Baca Berita:

Ribuan Warga Pangkalpinang Ramaikan Fun Walk PRB 2019

Tabrakan Beruntun di Sibolangit, Satu Orang Meninggal Dunia

“Untuk dirindukan (mendorong) datang lagi ke Berastagi ini sepertinya tidak ada, lah. Kesan yang ada, jorok. Kita lihat sendiri seperti di area Pasar Buah ini,” tuturnya saat ditemui wartawan, Minggu 13 Oktober 2019.

Dia menyayangkan sikap Pemerintah Kabupaten Karo yang dinilai kurang tanggap dalam pembangunan, mengemas kawasan wisata di Karo.

“Sayang sekali Pemerintahan Kabupaten Karo kurang tanggap membangun, memajukan kota wisatanya. Padahal lokasi wisata adalah aset,” imbuh Saleh yang mengisi hari libur ke Berastagi bersama keluarganya.

Rinaldi wisatawan asal Kota Medan, yang memboyong keluarganya dari Kota Medan untuk berwisata, menikmati suasana wisata di kawasan Berastagi.

“Singgah sebentar ke Pasar Buah menikmati segelas kopi dan jagung bakar. Baru turun (pulang) ke Medan. Bagi keluarga kami, Kota Berastagi merupakan tempat persinggahan bukan tujuan utama (wisata),” ungkapnya.

Rinaldi menilai, kawasan wisata Kota Berastagi dari tahun ke tahun tidak ada perubahan.

“Monoton itu-itu saja,” tegasnya. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *