Erupsi Gunung Semeru Jadi Trending Topik, Ini Penjelasan PVMBG

oleh -139 Kali Dibaca
Tangkapan layar dari laman magma.esdm.go.id, erupsi Gunung Semeru, Jawa Timur. [Foto Magma Indonesia | Rienews]

RIENEWS.COM – Gunung Semeru di Provinsi Jawa Timur, menjadi topik trending di linimasa, twitter, Selasa 1 Desember 2020.

Trending topik ini menyusul terjadinya aktivitas vulkanis Gunung Semeru (3.676 mdpl), secara administratif terletak di Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, pada Selasa dinihari.

Pengamatan Rienews, informasi Semeru di twittland mendapat respons dari akun MAGMA Indonesia @id_magma terhadap tuit salah satu pengguna twitter, yang menggunggah video letusan gunung. MAGMA Indonesia @id_magma menegaskan, bahwa video letusan gunung itu bukan Gunung Semeru.

Melansir dari siaran pers Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di laman vsi.esdm.go.id dan magma.esdm.go.id, Selasa pukul 09.27 WIB, dijelaskan, aktivitas Gunung Semeru, berstatus Level II (Waspada), saat ini terdapat di Kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru yang terbentuk sejak 1913.

Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian, berupa penghancuran kubah/lidah lava, serta pembentukan kubah lava/lidah lava baru. Penghancuran kubah/lidah lava mengakibatkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari Gunung Semeru.

Baca Kumpulan Berita Erupsi Gunung Api Di Sini

Data pemantauan visual; selama 1 Oktober hingga 30 November 2020 gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, timur, selatan, barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 19-32°C. Erupsi terjadi menerus, menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 500 m dari atas kawah/puncak.

Guguran batuan dari arah puncak terjadi tidak menerus sejak 19 Oktober 2020. Pada 28 November terjadi kenaikan jumlah guguran secara signifikan diikuti oleh kejadian awan panas guguran  yang berasal dari ujung lidah lava dengan jarak luncur maksimum 1 Km ke sektor tenggara lereng. Pada 1 Desember 2020 mulai pkl. 01.23 WIB, teramati awan panas guguran dari kubah puncak, dengan jarak luncur 2 hingga 11 Km ke arah Besok Kobokan di sektor tenggara dari puncak Gunung Semeru.

Baca Berita:

Inovasi Kabupaten Karo, Terkelin Berpesan Agar ASN Menyesuaikan dengan Pimpinan Baru

Pengungsi Erupsi Gunung Ili Lewotolok Bertambah Lebih 4.000 Jiwa

Kegempaan; jumlah dan jenis gempa yang terkam selama 1 Oktober hingga 30 November 2020 didominasi oleh Gempa Letusan dengan rata-rata 40 kejadian per hari. Pada 20 November 2020 jumlah Gempa Letusan cenderung menurun, dan terjadi kenaikan pada jumlah Gempa Guguran. Gempa Hembusan terjadi rata-rata 10 kejadian per hari, sedangkan gempa-gempa vulkanik (Gempa Vulkanik Dalam, Vulkanik Dangkal, dan Tremor) terekam dengan jumlah sangat rendah

Analisis pengamatan visual, menunjukkan adanya kenaikkan jumlah gempa guguran dan beberapa kali awan panas guguran. Kenaikkan ini diakibatkan oleh adanya ketidakstabilan kubah lava di bagian puncak. Dari kegempaan hingga 1 Desember 2020 pukul 06.00 WIB didominasi oleh Gempa guguran dan beberapa kali Gempa awan panas guguran.

Potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Semeru berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak, sedangkan material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin. Potensi ancaman bahaya lainnya berupa awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah/ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak. Jika terjadi hujan dapat terjadi lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak.

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, serta potensi ancaman bahayanya, maka tingkat aktivitas Gunung Semeru masih ditetapkan pada Level II (Waspada).

PVMBG merekomendasikan, agar masyarakat, pengunjung, wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak 4 Km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai, lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *