Aktivitas Gunung Karangetang Meningkat Warga Mengungsi

oleh -1.107 Kali Dibaca
Guguran lava dari gunung Karangetang di Kabupaten Kepualaun Siau, Provinsi Sulawesi Utara. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM – Warga di Kabupaten Kepulauan Siau, Provinsi Sulawesi Utara, mengungsi dampak meningkatnya aktivitas Gunung Karangetang. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, sekitar 190  warga mengungsi di sejumlah tempat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan warga maupun pengunjung tidak melakukan aktivitas di dalam zona bahaya gunung Karangetang.

Aktivitas vulkanik gunung ini dengan guguran lava, terjadi sejak November 2018 lalu. PVMBG menetapkan zona perkiraan bahaya yang meliputi radius 2,5 km dari puncak Kawah Dua (utara) dan Kawah Utama (selatan).

“Di samping itu, zona berbahaya juga mencakup sektoral dari puncak ke arah Barat – barat laut sejauh 3 km dan ke arah Barat Laut – Utara sejauh 4 km,” kata Sutopo, Senin 11 Februari 2019.

Baca Berita: Polsekta Berastagi Ringkus Tersangka Pengelapan Mobil Rental

Dampak aktivitas vulkanik gunung Karangetang, kata Sutopo, menyebabkan sekitar 53 kepala keluarga atau 190 jiwa mengungsi di beberapa titik. Di pengungsian Paseng terdapat 122 warga mengungsi, di pengungsian Sekolah GMIST Batubulan terdata 39 warga, sedangkan 29 warga lainnya mengungsi ke rumah kerabat mereka.

Baca Juga: Status Gunung Api Sinabung Akan Dievaluasi

“Mereka merupakan penduduk yang berisko terdampak aktivitas vulkanik, yaitu di Desa Batubulan yang memiliki luas 3,96 km2. Data penduduk tercatat sekitar 159 kepala keluarga atau 515 jiwa,” sebut Sutopo.

Sehubungan dengan potensi dampak terhadap masyarakat, PVMBG merekomendasikan warga yang menetap di Kampung Batubulan, Kampung Niambangeng dan Kampung Beba untuk dievakuasi ke tempat yang aman dari ancaman guguran lava atau awan panas.

Aktivitas vulkanik juga berdampak pada kerusakan materiil seperti akses jalan menuju Kampung Batubulan tertutup material vulkanik hingga ketinggian 50 meter dengan luasan 300 m2.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sitaro juga melaporkan 2 unit jembatan kampung tersebut rusak berat,” ungkap Sutopo.

Pemerintah daerah setempat dan unsur terkait, seperti TNI, Polri, sukarelawan telah melakukan upaya penanganan darurat.

“Evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar disediakan oleh pemerintah kepada para penyintas. BNPB turut mendukung penguatan pos komando dalam penanganan darurat,” tegas Sutopo.

Berdasarkan pemantauan PVMBG, sungai-sungai yang berpotensi menjadi jalur aliran lava dan guguran dari Kawah Dua, antara lain Sungai Melebuhe, Batuare, Batukole, Saboang, Niambangeng, Sumpihi, Kiawang, Kinal dan kawahang.

Sementara itu, awan panas guguran maupun aliran lava saat ini masih mengarah ke Sungai Melebuhe, namun berpotensi untuk berubah menuju ke Kali Batukore dan Batuare, serta Saboang.

Volume material vulkanik dapat berpotensi menjadi lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di Kawah Dua dan Kawah Utama.

Menghadapi aktivitas vulkanik yang masih terus berlangsung, PVMBG juga merekomendasikan kepada warga untuk menyiapkan masker, mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernafasan jika terjadi hujan abu.

Gunung Karangetang yang berjarak 146 km dari Kota Manado, kini berstatus level III (Siaga) sejak 20 Desember 2018 lalu. PVMBG melaporkan bahwa hingga kini kegempaan (vulkanik) masih fluktuasi. (Rep-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *