Fenomena Jarak Paling Dekat Matahari-Bumi, Ini Penjelasan BMKG

oleh -1.799 Kali Dibaca
Jarak Matahari dan Bumi. [Foto BMKG | Rienews]

RIENEWS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat tenang menyikapi fenomena astronomi equinox yakni matahari melintasi garis khatulistiwa. Imbauan ini dikeluarkan BMKG menyikapi beredarnya informasi fenomena equinox (jarak paling dekat matahari dengan bumi) yang menyebabkan peningkatan suhu ekstrem berakibat sun stroke dan dehidrasi.

Dikutip dari laman BMKG, Senin 25 Maret 2019, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Drs. Mulyono Rahadi Prabowo, M.Sc., menjelaskan equinox adalah salah satu fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September.

Mulyono menjelaskan saat fenomena ini berlangsung, matahari dengan bumi memiliki jarak paling dekat, konsekuensinya wilayah tropis sekitar ekuator akan mendapatkan penyinaran matahari maksimum.

Baca Berita: Cegah Stunting UMY Launching Program “Desa Pelita”

Namun begitu, lanjut Mulyono, fenomena ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis maupun ekstrem.

“Secara umum, diketahui rata-rata suhu maksimum di wilayah Indonesia berada dalam kisaran 32-36°C,” kata Mulyono.

Berdasarkan pengamatan BMKG, suhu maksimum tertinggi pada Sabtu 23 Maret 2019 tercatat 37,6°C di Meulaboh, Aceh.

Baca Berita: Hari Ini Kota Bitung dan Poso Diguncang Lindu Hingga 6,1 SR

Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa, Afrika, dan Amerika yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrem di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama,” ujar Mulyono.

Menyikapi hal ini, Mulyono mengimbau masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari equinox sebagaimana disebutkan dalam isu yang berkembang.

Secara umum kondisi cuaca di wilayah Indonesia cenderung masih lembab/basah. Beberapa wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki masa (periode) transisi/pancaroba.

Maka ada baiknya, masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan. (Rep-02)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *