Ini Saran Pakar Geologi UGM Cegah Longsor Susulan di Bantul

oleh -1.306 Kali Dibaca
Pakar Geologi Univeristas Gadjah Mada (UGM), Dr. Wahyu Wilopo memaparkan Kajian Geologi Gerakan Tanah dan Banjir di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, khsusunya di kompleks Pemakaman Raja-Raja Yogyakarta di Imogiri, Kamis 21 Maret 2019, di Fakultas Geologi FT UGM. [Foto UGM | Rienews]

RIENEWS.COM – Bencana tanah longsor susulan masih mengintai warga Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terlebih jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.

Pakar Geologi Univeristas Gadjah Mada (UGM), Dr. Wahyu Wilopo mengatakan hujan dengan intensitas tinggi menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya longsor di daerah Imogiri. Guna mencegah bencana longsoran susulan, Wahyu merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan longsor.

Disebutkan Wahyu, salah satunya dengan menutup retakan tanah dengan material kedap air dapat mencegah terjadinya longsor susulan. Langkah tersebut perlu dilakukan untuk menghambat air hujan masuk ke retakan tanah yang dapat memicu terjadinya bencana longsor susulan.

“Menutup retakan-retakan yang ada dengan material kedap air seperti terpal, agar air tidak masuk ke dalam retakan,” ujar Wahyu dalam paparan Kajian Geologi Gerakan Tanah dan Banjir di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, khsusunya di kompleks Pemakaman Raja-Raja Yogyakarta di Imogiri, Kamis 21 Maret 2019, di Fakultas Geologi FT UGM.

Wahyu menyatakan gerakan tanah di kompleks pemakaman tersebut secara umum memiliki karakteristik tipe luncuran. Gerakan tanah ini merupakan longsor dengan bidang luncur yang berbentuk kurva melengkung.

Baca Berita: Bupati Karo Beri Cenderamata Uis Beka Buluh Pada Pimpinan ZBNF

Baca Juga: Ini Kegiatan Unik Jelang Peringatan Hari Air Sedunia 2019

Gerakan tanah di selatan pemakaman mengikuti alur sungai musiman sehingga berubah menjadi aliran debris.

Longsor berdampak pada rumah warga dan akses jalan.

Retakan utama berada di sisi barat bangunan calon makam HB X dengan lebar sekitar 25 meter dan kedalam kurang lebih 25 meter. Sementara retakan di pemakaman HB IX memiliki arah retakan N95°E (barat-timur) dengan arah pergherakan ke selatan. Panjang retakan sekitar 25 meter, penurunan tanah sekitar 30 cm dan lebar bukaan 10 cm.

Berikutnya, di utara bangunan calon makam HB X memilik panjang sekitar 10 cm dengan arah pergerakan ke utara. Retakan lainnya memiliki panjang kurang lebih 25 meter dengan arah pergerakan relatif ke timur.

“Lokasi yang berpotensi runtuh ada di sisi pintu masuk bagian barat,” ujar Wahyu dalam siaran pers UGM yang diterima Redaksi.

Lebih lanjut Wahyu menyampaikan upaya mitigasi lainnya untuk mencegah longsor susulan adalah dengan membersihkan material yang tidak stabil di sekitar retakan, misalnya bongkahan batu. Selain itu juga melakukan penataan sistem drainase agar aliran air tidak bergerak secara bebas di permukaan.

Tidak kalah pentingnya meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan warga mengenai bencana gerakan tanah. Menurut Wahyu,  masyarakat yang tinggal di kawasan rentan bencana longsor harus ramah terhadap lingkungan dengan melakukan pemantuan rutin kondisi tahan. Apabila terjadi hujan lebat, masyarakat diharapkan mengecek kondisi di atas lahan apakah terjadi retakan atau tidak.

“Jika ada retakan masyarakat diharapkan bisa segera melapor ke pihak berwajib dan  mengungsi ke tempat aman. Hanya saja masyarakat terkadang tidak aware, sudah tahu ada potensi longsor tapi tidak mengecek lingkungan sehingga memakan korban,” paparnya.

Sementara itu terkait banjir di Kali Celeng, Wahyu menjelaskan kejadian banjir disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya kondisi daerah aliran sungai (DAS) Kali Celeng memiliki elevasi antara 25-27 meter. Kelerengan di daerah aliran sungai Kali Celeng berkisar antar 0° hingga 14°.

Ditambah DAS tersebut merupakan pertemuan beberapa sungai yang mengalir ke selatan. Sehingga saat inntesitas hujan tinggi, aliran sungai tidak dapat mengakomodasi debit puncah sehingga terjadi banjir. Disamping itu kondisi geologi pada dataran banjirt berupa endapan dengan kondisi tidak terkonsolidasi. (Rep-02 | Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *