Kepastian Pasar
MCF menggunakan model contract farming, yakni petani jagung memasok bahan baku pakan langsung ke peternakan ayam petelur tanpa perantara. Petani mendapat kepastian pasar, peternakan mendapat pasokan pakan lokal. Dua sisi rantai pasok yang selama ini terputus, kini terhubung.
Hasilnya, delapan petani mencatatkan produksi jagung sebanyak 13.845 kilogram sepanjang Januari hingga September 2026. Pendapatan petani pun naik 31% menjadi Rp90,43 juta. Pada periode yang sama, peternakan MCF menghasilkan 188.366 butir telur dengan total pendapatan penjualan Rp327,41 juta.
“Dulu harga jagung kami bisa jatuh tiba-tiba dan kami tidak punya pilihan selain menerima. Posisi tawar sangat terbatas, tapi sekarang ada kepastian. Kami tahu jagung kami akan diserap dan harganya tidak dipermainkan,” ujar Suryadi, petani jagung yang tergabung dalam Kelompok Tani Mulia Bakti, Dusun IV Aek Sirara, Desa Sumuran.
Total 42 orang terlibat dalam ekosistem MCF, mencakup 20 petani jagung, 3 pengelola peternakan, 4 siswa SMK pertanian, 4 anggota tim pemasaran Bagas Silua, 7 perwakilan Dinas Pertanian dan Balai Penyuluh Pertanian, serta 4 petani milenial.
MCF juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang terwujud dalam pengolahan kotoran ayam menjadi pupuk organik untuk lahan pertanian. Selama Januari sampai Juni 2026, sekitar 29,3 ton kotoran ayam dimanfaatkan untuk memupuk 17,5 hektare lahan, dengan estimasi nilai ekonomi Rp16,3 juta. Ditambah penggunaan energi surya untuk operasional peternakan, program ini berpotensi menurunkan emisi hingga 6,02 ton CO₂e per tahun.
Berdasarkan analisis Social Return on Investment (SROI), dari investasi Rp582 juta, MCF menghasilkan total nilai manfaat senilai Rp717,74 juta, dengan rasio SROI 1,23. Artinya, setiap Rp1 investasi menghasilkan nilai manfaat senilai Rp1,23.
Dalam lima tahun ke depan, jumlah petani yang terlibat ditargetkan meningkat dari 20 menjadi 56 orang, dengan produksi telur diproyeksikan mencapai 2,55 juta butir per tahun pada tahun kelima. (Red)





