Status Gunung Merapi Menjadi Siaga, Ini 12 Desa Masuk Wilayah Bahaya

oleh -173 Kali Dibaca
Gunung Merapi meletus pada Minggu 17 November 2019, sekitar pukul 10.46 WIB. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), meningkatkan status Gunung Merapi dari level Waspada (II) menjadi level Siaga (III), sejak Kamis 5 November 2020, pukul 12.00 WIB.

Peningkatan status Gunung Merapi yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi D.I. Yogyakarta, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan BPPTKG.

Melansir laman Kementerian ESDM dijelaskan, kronologi data hasil pemantauan aktivitas vulkanik meliputi; setelah letusan eksplosif 21 Juni 2020, kegempaan internal yaitu  Vulkanik Dalam (VA), Vulkanik Dangkal (VB) dan Fase Banyak (MP) mulai meningkat. Sebagai perbandingan, pada bulan Mei 2020  gempa VA dan VB tidak terjadi dan gempa MP terjadi 174 kali. Pada bulan Juli 2020 terjadi gempa VA 6 kali, VB 33 kali dan MP 339 kali.

Terjadi pemendekan jarak baseline EDM (Electronic Distance Measurement) sektor Barat Laut Babadan-RB1 (selanjutnya disingkat EDM Babadan) sebesar 4 cm sesaat setelah terjadi letusan eksplosif 21 Juni 2020. Setelah itu pemendekan jarak terus berlangsung dengan laju sekitar 3 mm/hari sampai September 2020.

Sejak bulan Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif. Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, Guguran (RF) 57 kali/hari, Hembusan (DG) 64 kali/hari. Laju pemendekan EDM Babadan mencapai 11 cm/hari. Energi kumulatif gempa (VT dan MP) dalam setahun sebesar 58 GJ.

Kondisi data pemantauan di atas sudah melampaui kondisi menjelang munculnya kubah lava 26 April 2006, tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi sebelum erupsi 2010.

Baca Berita:

Tingkatkan Minat Baca di Karo, FPPPK Bangun Sapo Literasi

Lahan Usaha Tani Warga Relokasi Tahap III di Siosar Terkendala Masalah Klaim Lahan Ulayat

Berdasarkan pengamatan morfologi kawah Gunung Merapi dengan  metoda Foto Udara (Drone) pada tanggal 3 November 2020 belum terlihat adanya kubah lava baru.

Sampai saat ini kegempaan dan deformasi  masih  terus meningkat. Berdasarkan hal tersebut dimungkinkan terjadi proses ekstrusi magma secara cepat atau letusan eksplosif.

Potensi ancaman bahaya berupa guguran lava, lontaran material dan awanpanas sejauh maksimal 5 km.

Berdasarkan evaluasi data pemantauan tersebut di atas disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik saat ini dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan penduduk. Sehubungan dengan hal tersebut maka status aktivitas G. Merapi ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) berlaku mulai tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB.

Video Erupsi Gunung Merapi 17 November 2019

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati menyatakan dengan kenaikan status Gunung Merapi menjadi Siaga, BPPTKG melakukan pemetaan sektoral terkait prakiraan daerah bahaya meliputi 12 desa yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah.

Wilayah administrasi desa yang masuk di dalam prakiraan daerah bahaya di DIY yaitu Glagaharjo, Kepuharjo dan Umbulharjo yang berada di Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah, prakiraan daerah bahaya berada di sejumlah wilayah desa dan kecamatan di Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten.  Di Kabupaten Magelang sebaran prakiraan daerah bahaya  meliputi Ngargomulyo, Krinjing dan Paten di Kecamatan Dukun, di Kabupatetn Magelang. Kabupaten Boyolali meliputi Tlogolele, Klakah dan Jrakah di Kecamatan Selo. Dan, Kabupaten Klaten meliputi Tegal Mulyo, Sidorejo dan Balerante di Kecamatan Kemalang.

“Di samping itu, rekomendasi kedua yang diberikan oleh BPPTKG yakni penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB) III direkomendasikan untuk dihentikan,” sebut Raditya dalam siaran persnya, Kamis siang.

Selanjutnya, pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi, termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

“Terakhir, Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segara sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat,” imbuh Raditya.

BPPTKG menginfokan bahwa pascaerupsi besar Gunung Merapi pada 2010 lalu, gunung yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah mengalami erupsi magmatis. Tercatat erupsi pada rentang waktu 11 Agustus 2018 hingga September 2019.

“Seiring dengan berhentinya ekstrusi magma, Gunung Merapi Kembali memasuki fase intrusi magma baru yang ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) dan rangkaian letusan eksplosif sampai dengan 21 Juni 2020,” tulis Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Kamis  5 November 2020.

Ia menambahkan, aktivitas vulkanik terus meningkat hingga saat ini. Hal tersebut berdasarkan data hasil pemantauan aktivitas vulkanik, seperti kegempaan dan deformasi yang masih terus meningkat. Kondisi tersebut dapat memicu terjadi proses ekstrusi magma secara cepat atau letusan eksplosif.

“Potensi ancaman bahaya berupa guguran lava, lontaran material dan awan panas sejauh 5 km,” tambah Hanik. (Red | Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *