5.929 Personel Gabungan Tangani Bencana Karhutla di 5 Provinsi

oleh -834 Kali Dibaca
Pemadaman kebakaran hutan dan lahan dari udara oleh Satgas Udara menggunakan helikopter. [Foto Sipongi MenLHK | Rienews]

RIENEWS.COM –  Tim gabungan penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan  (Karhutla) di 5 provinsi terus bekerja memadamkan api dan pendinginan di lokasi kebakaran. Hingga Senin 29 Juli 2019, 5.929 tim gabungan disebar di 5 provinsi yang alami karhutla.

Plh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengungkapkan, para personel gabungan disebar ke Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Personel gabungan pemadaman karhutla merupakan bagian dari Satuan Tugas (Satgas) Darat berasal dari unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan kementerian/lembaga.

“Total personel gabungan berjumlah  5.929 personel yang tersebar di 5 provinsi, yaitu  Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah masing-masing berjumlah 1.512 personel, sedangkan Kalimantan Barat berjumlah 1.395 personel. Upaya Satgas Darat didukung oleh operasi udara dibawah kendali Satgas Udara. Jumlah tersebut belum mencakup dukungan dari pihak swasta, seperti APP Sinar Mas yang berkekuatan 3.180 personel tersebar di 5 provinsi,” kata Agus Wibowo, Selasa 30 Juli 2019.

Baca Berita Karhutla Di Sini

Satgas Udara mengerahkan armada helikopter dan fixed wing yang difungsikan untuk pemadaman, pendinginan, patroli dan survei.

Menghadapi kebakaran hutan dan lahan  tersebut, helikopter disiagakan di empat provinsi, yaitu Riau 17 helikopter, Sumatera Selatan 3 unit helikopter, Kalimantan Barat 6 helikopter, dan Kalimantan Tengah 7 helikopter.

“Helikopter yang ditempatkan di Riau merupakan dukungan dari BNPB 7 unit, KLHK 1, swasta 8, dan TNI 1. Total air yang digunakan untuk pemadaman dan pendinginan sejumlah 61.066.300 liter untuk semua wilayah terdampak. Selain armada helikopter, satuan tugas udara didukung pesawat untuk operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC). Operasi ini dimaksudkan untuk memicu terjadinya hujan di wilayah-wilayah yang papar hotspot dengan menebarkan garam di awan potensial,” katanya.

Baca Berita:

Menteri Basuki Perhatikan Pembangunan di Karo

Bupati Karo Resmikan Jembatan Napak Tilas Pahlawan Kiras Bangun

Disebutkan Agus, hingga 29 Juli 2019 pukul 16.00 WIB, luas lahan terbakar di Riau seluas 27.683,47 hektar.  Dampak luas lahan di wilayah Riau terbesar dibandingkan wilayah lain di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Luas lahan terbakar teridentifikasi di wilayah Kalimantan Barat 2.273,97 hektar, Sumatera Selatan 236,49 hektar, Kalimantan Selatan 52,53 hektar, Kalimantan Tengah 27 hektar, dan Jambi 4,18 hektar.

Sementara itu, hotspot atau titik panas dengan kategori kepercayaan lebih dari 80 persen  atau tinggi terpantau di wilayah-wilayah tersebut.

“Titik panas tercatat hingga pukul 16.00 WIB, Senin 29 Juli 2019, di Riau 27 titik, Jambi 26, Kalimantan Tengah 14, Kalimantan Barat 12, dan Sumatera Selatan 5, sedangkan Kalimantan Selatan tidak teridentifikasi adanya hotspot,” kata Agus.

Meskipun terpantau adanya titik panas, kualitas udara (PM10) di Pekanbaru, Riau kategori baik. Kualitas udara tersebut sempat pada kategori sedang pada tengah hari tadi. (Rep-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *