RIENEWS.COM – Kepala Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Yudi Prayudi dalam keterangan pers menegaskan, untuk mengatasi dampak dari serangan siber berupa ransomware, bank harus segera mengambil langkah-langkah untuk melindungi nasabah dan data mereka. Meliputi memberi tahu nasabah tentang insiden tersebut, menyarankan mereka untuk mengganti kata sandi dan meningkatkan keamanan rekening, serta memantau aktivitas mencurigakan pada rekening yang terkena dampak.
Selain itu, pihak bank harus bekerja sama dengan penegak hukum dan ahli keamanan siber untuk menyelidiki insiden tersebut dan mengambil tindakan pencegahan agar serangan serupa tidak terjadi di masa depan.
Berikut tanggung jawab utama pihak bank yang harus dilakukan apabila terjadi serangan ransomware.
Pertama, Mengidentifikasi dan Mengisolasi Infeksi.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi sistem yang terinfeksi dan mengisolasi mereka dari jaringan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Kedua, Melaporkan Kejadian.
Kejadian tersebut harus segera dilaporkan ke pihak berwenang yang relevan, termasuk penegak hukum dan regulator industri. Sejumlah negara ada yang menerapkan persyaratan hukum untuk melaporkan serangan siber seperti ini.
Ketiga, Komunikasi ke Pihak Luar.
Bank harus segera menginformasikan nasabah, mitra bisnis, dan pihak lain yang mungkin terpengaruh. Komunikasi harus jelas, transparan, dan tepat waktu, memberikan detail tentang apa yang terjadi, bagaimana hal ini mempengaruhi mereka, dan apa yang sedang dilakukan bank untuk menyelesaikan masalah.
Keempat, Pemulihan Data dan Sistem.
Jika memungkinkan, bank harus bekerja untuk memulihkan data dan sistem yang terkena dampak dari cadangan yang aman. Dalam beberapa kasus, alat-alat dekripsi mungkin tersedia dari sumber-sumber terpercaya yang dapat membantu dalam proses pemulihan.
Kelima, Analisis Forensik dan Pembelajaran.
Bank harus bekerja sama dengan ahli forensik siber untuk memahami bagaimana serangan terjadi, identifikasi kerentanan yang dieksploitasi, dan pelajaran apa yang dapat dipetik untuk mencegah serangan di masa depan.
Keenam, Meningkatkan Keamanan.
Setelah insiden, bank harus memperkuat keamanan mereka untuk mencegah serangan ulang. Ini mungkin termasuk pelatihan kesadaran keamanan tambahan untuk staf, pembaruan perangkat lunak dan sistem, dan peningkatan monitoring dan deteksi ancaman.
“Meskipun ada tekanan untuk membayar tebusan, banyak pakar keamanan dan penegak hukum menyarankan untuk tidak membayar tebusan yang diminta. Sebab tidak menjamin data akan dipulihkan dan hanya mendorong penjahat untuk melanjutkan tindakan mereka,” jelas Yudi lagi.
Pengamanan dari Nasabah
Selain dari sisi bank, keamanan data juga perlu dilakukan dari sisi nasabah. Maksudnya, nasabah yang telah mendapatkan informasi adanya serangan ransomware yang menyebabkan data kredensialnya pada bank tersebut terekspos, nasabah harus lekas mengambil sejumlah langkah.
Pertama, Ubah Kata Sandi.
Langkah pertama adalah mengubah kata sandi dan PIN untuk semua akun yang terkait dengan bank tersebut. Ini termasuk akun online banking, kartu kredit, dan akun lain yang mungkin terkait.
Kedua, Pantau Transaksi.
Nasabah harus mengawasi dengan cermat semua transaksi yang terjadi pada akunnya. Apabila nasabah melihat transaksi yang tidak dikenali atau mencurigakan, segera laporkan ke banknya.
Ketiga, Aktifkan Autentikasi Dua Faktor.
Melakukan pengaktifan autentikasi dua faktor (2FA) pada semua akun yang relevan. Ini memberikan lapisan keamanan tambahan dengan memerlukan bukti kedua dari identitas nasabah (biasanya kode yang dikirim ke ponselnya) sebelum nasabah dapat masuk ke akunnya.
Artikel lain
Ini Cara Kerja Serangan Ransomware, Jangan Bayar Tebusan
PPHI DIY Ingin Perbanyak Destinasi Wisata Halal di Yogyakarta
DPR Minta Pemerintah dan Perbankan Serius Antisipasi Peretasan
Keempat, Waspadai Phishing.
Penjahat mungkin akan mencoba memanfaatkan situasi ini dengan mencoba menipu nasabah untuk memberikan informasi pribadi atau kredensial login nasabah melalui email atau panggilan telepon yang mengaku dari bank nasabah.
“Jangan pernah memberikan informasi pribadi atau login Anda kecuali Anda yakin bahwa Anda sedang berkomunikasi dengan bank Anda,” kata Yudi tegas.
Pelajaran Penting Ransomware
Serangan ransomware pada sebuah bank tentunya merupakan peristiwa yang tidak diinginkan dan menimbulkan dampak yang signifikan. Berikut adalah beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari insiden tersebut.
Pertama, Pentingnya Keamanan Siber.
Keamanan siber tidak boleh dianggap enteng oleh organisasi mana pun, terutama bank yang menangani data sensitif. Investasi yang cukup dalam teknologi dan tenaga kerja keamanan siber adalah penting.
Kedua, Pencegahan Lebih Baik daripada Penyembuhan.
Lebih baik mencegah serangan daripada berurusan dengan konsekuensinya. Ini mencakup pelatihan karyawan tentang ancaman seperti phishing, memastikan semua sistem dan perangkat lunak diperbarui dengan patch keamanan terbaru, dan memiliki solusi keamanan endpoint yang kuat.
Ketiga, Pentingnya Backup.
Memiliki sistem backup yang baik sangat penting. Dalam kasus serangan ransomware, data yang dienkripsi oleh peretas bisa dihapus dan dipulihkan dari backup, selama backup tersebut disimpan secara aman dan terpisah dari jaringan utama.
Keempat, Rencana Respons Insiden.
Bank harus memiliki rencana respons insiden yang jelas yang dapat diimplementasikan segera setelah serangan terdeteksi. Ini harus mencakup langkah-langkah seperti isolasi sistem yang terinfeksi, analisis forensik, dan komunikasi krisis.
Kelima, Transparansi dan Komunikasi.
Dalam kasus serangan, bank harus berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan pelanggan mereka tentang apa yang terjadi, langkah-langkah yang mereka ambil, dan apa yang diharapkan pelanggan lakukan.
Keenam, Kerjasama Antar Lembaga.
Bank harus bekerja sama dengan penegak hukum dan organisasi keamanan siber lainnya saat merespons serangan dan dalam upaya pencegahan.
Ketujuh, Keberlanjutan Operasi.
Bank perlu memiliki rencana untuk memastikan bahwa operasi dapat berlanjut selama dan setelah serangan. Hal ini bisa meliputi penggunaan sistem cadangan atau pindah ke operasi manual sementara.
“Pelajaran ini bukan hanya relevan untuk bank, tetapi untuk semua organisasi,” kata Yudi.
Sebab ancaman keamanan siber adalah realitas dalam dunia modern dan harus dihadapi dengan serius. Bank memiliki tanggung jawab hukum dan etis untuk melindungi data nasabah dan memastikan keamanan sistem mereka. Dalam kasus serangan ransomware, bank harus segera melaporkan insiden tersebut kepada otoritas yang berwenang dan bekerja sama dengan penegak hukum serta ahli keamanan siber untuk menyelidiki serangan tersebut.
Bank juga harus menginformasikan nasabah tentang insiden keamanan dan memberikan bantuan yang diperlukan untuk mengatasi dampak dari serangan tersebut, seperti mengganti kata sandi atau memperbarui sistem keamanan rekening.
Artikel lain
Buntut Peretasan BSI, Politisi Aceh Desak Qanun Direvisi
Wamenkumham Polisikan Keponakannya Perkara Pencemaran Nama Baik
Hasil KTT ASEAN 2023, Indonesia Siap Bicara dengan Junta Militer Myanmar
Serangan ransomware terhadap bank BSI merupakan peringatan keras bagi industri perbankan untuk terus meningkatkan sistem keamanan mereka. Bank harus memastikan perlindungan data kredensial nasabah dan memenuhi tanggung jawab keamanan data mereka untuk mencegah serangan serupa di masa depan. (Rep-04)





![Penampakan letusan Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda, Provinsi Lampung, pada Kamis 21 Juni 2018. [Foto BNPB | Rienews.com]](https://www.rienews.com/wp-content/uploads/2018/06/Letusan-Gunung-Anak-Krakatau.jpg)
