Aku Yang Membenci Hujan

oleh -1.593 Kali Dibaca
ilustrasi hujan ditakuti.

 

                                  

Ilustrasi

 Karya Rifqi Adhitya Afif

Asal mula kisah ku membenci satu alam yang tak mungkin kulupakan. Kisah yang membuat aku membenci hujan! Meski orang-orang bicara tentang “hujan merupakan sesuatu yang romantis dan membahagiakan”. Tetapi tidak bagiku?.

Bagiku hujan ibarat api, membakar jiwa raga menghantui masa silam bersama keluarga ku. Karena hujan pulalah rasa perih serasa menyayat di hati yang tidak akan aku lupakan hingga sampi detik ini!.

Ini kisah ku tentang hujan………….

***

Namaku Camelia. Aku membenci hujan sejak berumur 13 tahun.

Sejak kecil aku sangat dekat dengan ayahku. Bagiku ayah adalah pahlawan sekaligus cinta pertamaku. Ayahku…….. Selalu meluangkan waktu untuk membawa ku berlibur, selalu menjaga air mataku agar tak menetes dan selalu marah jika ada orang yang membuatku marah/menangis.

Jelas terekam dalam ingatanku ayah dan ibu tidak pernah bertengkar. Mereka terlihat saling mencintai serta menyayangi.

Namun, pada suatu malam yang indah dimana ribuan bintang terhampar di langit luas, ditemani rembulan sesaat berubah menjadi hitam kelam di langit ciptaan tuhan…

Saat itu juga rintik hujan mulai turun membasuhi bumi tempat manusia berpijak. Hujan turun dengan derasnya… Hembusan angin kencang serasa menembus kulit hingga masuk ke tulang rusuk. Akibat cuaca alam tersebut membuat semua orang tertidur dengan lelapnya.

Aku yang tadinya tertidur pulas serasa dalam pelukan ayah dan bermimpi indah bersama beliau, tiba–tiba terhenti dan terhempas dari alam sadarku?. Kuingat saat itu jam menunjukan pukul 01.00 wib.

***

Seperti detuman meriam dimalam kelam saat itu kudengar. Dikarenakan cadasnya suara teriakan saling caci maki dari orangtua yang kucintai, ditambah lagi dengan suara pecahan piring yang dihempaskan keras di lantai rumah, membuatku semakin terisak, terdiam dan membisu di atas ranjang!.

Pintu kamar tadinya tertutup rapat guna melindungi diri ini, kubuka dengan pelan-pelan. Kreeek…. Kucoba melangkahkan kakiku yang rapuh mulai tegar hingga saat ini, guna melihat dan menelusuri malam yang kelam saat itu.

Ternyata rasa cemasku terjawab sudah, seperti yang kutakuti akhirnya datang jua, dimana ayah dan ibuku bertengkar seperti ketakutanku sesaat di kamar tadi. Ya….. Asal mula detuman meriam, kelamnya malamku saat hujan tiba berasal dari rumahku sendiri.

Batinku meronta ingin melerai namun, aku tidak memiliki keberanian yang cukup. “Tidak bisakah kau menjauhi wanita jalang itu? Tidak bisakah kau memikirkan aku dan anak-anakmu?” Satu kalimat dari ibu yang membuat hatiku hancur.

***

Aku berlari kembali ke kamar menghempaskan diri di ruangan tersebut. Air mata ini tidak bisa kubendung, dengan derasnya mengalir seperti hujan yang turun saat itu. Menyadari kenyataan hidup yang tadinya indah kini sudah berubah kelam. Ayahku tidak lagi mencintai, menyayangi aku serta ibuku sepenuhnya. Ada wanita lain hadir diantara keluarga kami. Sesaat rasa dendam kepadaa ayah mengalir deras tidak bisa ku bendung lagi layaknya hujan membuat banjir perkampungan!.

“Cinta pertama sekaligus pahlawanku mengkhianatiku” fikiran itu tidak bisa aku hilangkan hingga saaat ini, hanya air mata yang setia menemani di malam itu, dimana lantai kamar mendekap diriku berselimutkan dinginnya malam itu hingga aku tertidur kembali.

Cauca masih sangat dingin dan hujan tak kunjung jua berhenti di jam 03.00 wib. Aku terbangun dan merasa kepalaku berat sekali. Ingin rasanya aku terlelap lagi namun, suara pertengkaran itu terdengar lagi. Aku tak memiliki keberanian untuk melihat langsung dan memilih untuk mengintip dari celah-celah pintu kamarku.

***

Mereka bukan hanya saling berteriak tapi ayah juga sudah ringan tangan menampar ibu, hingga berulang kali dan membuat bibir ibu berdarah. Ibu hanya diam dan pasrah. Tapi tidak dengan ku kali ini. Ku kumpulkan seluruh keberanian dan aku berlari menghampiri ibu, memeluknya, mengusap darahnya dan air matanya.

Ayah terus menampar ibu bahkan melemparkan semua benda yang ada disekitarnya ke arah ibu hingga ibu terduduk lemas dilantai. “Sudah yah sudah!!” teriakku sambil memohon mengehentikan semuanya dengan cara memeluk kaki ayahku. “Kamu masih anak kecil! Tidak usah ikut campur urusan orang tua!” bentak ayah sembari melepaskan kakinya dengan kasar. Lalu ayah membanting pintu dan mengunci kami dari luar.

Aku menghampiri ibu dan memapahnya ke kamarku. Kutidurkan wanita yang rela bertaruh nyawa untuk melahirkanku ditempat tidurku. Aku memeluknya dan menangis dipelukannya. Dalam kondisi terlemahnya, ibuku masih sempat membelai dan mengelus rambutku. “Jangan sedih sayang. Air matamu tidak boleh menetes.” kata ibu terbata sambil menghapus air mataku.

Aku semakin mengeratkan pelukanku dan tangisanku semakin pecah. Disaat suasana haru menyelimuti aku dan ibuku, tiba-tiba ayah berteriak. “Kamu sudah bukan istriku lagi, lia! Kita cerai!” teriak ayah dari luar rumah.

Ayah mengulangi ucapannya hingga tiga kali. Ibu hanya diam, meskipun aku tahu hati ibu sangat tersakiti dengan keputusan ayah. Aku menangis sambil mengeratkan pelukanku dan berharap agar ibu lebih tenang.

Beberapa hari kemudian, ibu dan ayah resmi bercerai. Tidak ada waktu untuk kami bersama lagi dan aku mulai terbiasa dengan keadaan itu. Semenjak kejadian itu, aku seolah mati rasa, hingga membenci hujan! dan selalu menampilkan senyum palsu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *