Bayar Rp26 Juta, Gagal Masuk Rehabilitasi Lido

oleh -957 Kali Dibaca
Ika menemui Kepala BNN Karo AKBP Heppi Karokaro, Kamis 29 Agutus 2019. [Foto Ist | Rienews]

RIENEWS.COM – Keluarga korban penyalahgunaan narkoba, mendatangi Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Karo. Ika br Tarigan memprotes BNN Karo lantaran abang kandungnya, tidak masuk Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong , Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Ika mengaku sudah memberikan uang puluhan juta rupiah kepada oknum BNNK Karo untuk memasukkan abangnya ke Lido. Tetapi korban penyalahgunaan narkoba itu tidak diterima di Lido, dan BNNK Karo memasukkannya ke rehabilitasi Panti Sosial Pamardi Putra Galih Pakuan, Bogor. Belakang diketahui saudaranya itu melarikan diri dari Galih Pakuan, pada Minggu 11 Agustus 2019.

Tidak terima dengan kejadian itu, Ika mendatangi Kantor BNNK Karo mempertanyakan nasib saudaranya.

“Di mana saat ini abang saya tidak saya ketahui lagi keberadaannya,” tutur Ika di ruang kerja Kepala BNNK Karo AKBP Heppi Karokaro, Kamis 29 Agustus 2019.

Ika menceritakan, awal Agustus lalu, ia mendatangi Kantor BNNK Karo di Jalan Pahlawan, Kabanjahe, guna berkonsultasi mengatasi masalah kecanduan abangnya. Ika diterima petugas perawat Rehab BNNK Karo, Maranata br Meliala.

Menurut Ika, petugas tersebut menyatakan dapat membantu dan meminta keluarga, Ika menyediakan uang Rp26 juta. Biaya itu disanggupin oleh Ika.

Baca Berita:

Soal Dana Desa, Para Emak Ini Minta Bupati Nonaktifkan Kades Nageri

Pemkab Karo Perjuangkan Jalan Tol Medan-Berastagi

Uang sebesar Rp21 juta diserahkan Ika disertai dengan kuitansi bukti penyerahan uang yang diterima Rismanti Sinuhaji. Setelah uang diserahkan, diaturlah rencana untuk menangkap abang Ika.

Rencana penangkapan dilakukan pada Kamis 8 Agustus 2019, keesokan harinya, Jumat 9 Agustus 2019, korban dibawa petugas BNNK Karo menuju rehabilitasi Lido. Ika mengakui dirinya kembali dihubungi petugas dan meminta anggaran Rp5 juta.

“Itu pun gak apa-apa. Kupenuhi juga asalkan abang bisa direhab di Lido. Langsung aku transfer ke rekening salah seorang personel,” kata Ika.

Setibanya di Bogor, Ika mengaku mendapatkan pesan dari Maranata melalui Whatsapp, isinya kembali meminta uang untuk pembelian seragam di Lido dan biaya makan serta penginapan.

“Di-WA lagi aku oleh Maranatha dan meminta uang untuk penambahan beli seragam di Lido dan uang makan serta hotel personel,”  kata Ika menceritakan sambil menangis.

Namun, sebut Ika, abangnya tidak diterima di rehabilitasi Lido, karena mengalami gangguan jiwa.

“Pihak BNNK Karo menaruh abang di Galih Pakuan, Bogor. Berarti dokter BNNK Karo tidak memeriksa keadaan jiwa abang saya. Sementara biaya tes kejiwaan yang diminta Kasi Rehabilitasi, dokter Rosie Beru Pinem sebesar Rp1,8 juta saya berikan,” tutur Ika.

Dia menyatakan kini tidak mengetahui keberadaan saudara kandungnya itu.

“Janganlah membodoh-bodohi masyarakat yang tidak tahu apa-apa. Kalau semua masyarakat yang ingin merehab keluarga  kecanduan narkotika, dan dibuat seperti ini pasti kecewa,” ucap Ika.

Kepala BNNK Karo  AKBP Heppi Karokaro menyatakan biaya yang telah dikeluarkan itu berdasarkan kesepakatan dan itu lumrah karena BNNK Karo tidak memiliki anggaran untuk (pemberangkatan) pasien ke Lido.

Soal dialihkannya residen (pasien) ke Galih Pakuan, menurut Heppi, dilakukan atas persetujuan keluarga.

“Saya rasa uang Rp26 juta yang diminta sebagai biaya pemberangkatan dan keperluan ini, itu, hal yang wajar. Karena di sini (BNNK Karo) tidak disediakan dana untuk itu,” kata Heppi.

Soal residen (pasien) yang kabur, Heppi menegaskan hal itu bukan tanggungjawab BNNK Karo. Karena prosedur memasukkan korban ke panti rehabilitasi narkoba sudah dilakukan sesuai prosedur.

“Kita hanya sebatas mengantarkan saja. Dan, untuk dipindahkannya residen ke pusat rehabilitasi Galih Pakuan sesuai persetujuan dari pihak keluarga pasien. Karena ada negosiasi di situ makanya diantar ke Galih Pakuan,” kata Heppi.

Dikatakannya, pasien ditolak masuk ke Rehabilitasi Lido karena ada beberapa kriteria persyaratan. Pasien dinyatakan mengalami gangguan jiwa.

“Sesuai prosedur, kita telah melakukan rangkaian asessment terhadap pasien, dan pasien dinyatakan bisa diterima di Lido. Jika ternyata pasien ditolak di Lido karena mengalami gangguan jiwa. Bukan hak kami lagi, karena setiap asessment dokter berbeda-beda,” pungkas Heppi. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *