Begini Antusiasme Pedagang Terhadap Sihar “DJOSS” Sitorus

oleh -995 Kali Dibaca
Sihar Sitorus dan seorang pedagang di Pasar Tradisional Mas Deli, Lubukpakam, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, melakukan salam ala pancho.

 

Sihar Sitorus dan seorang pedagang di Pasar Tradisional Mas Deli, Lubukpakam, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, melakukan salam ala pancho.

RIENEWS.COM – Kehadiran Sihar Sitorus di Pasar Tradisional Deli Mas, Lubukpakam, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, menyulut kehebohan para pedagang.

Para pedagang tak menyiakan kesempatan tersebut untuk berswafoto dengan Sihar Sitorus yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat “DJOSS” dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgub Sumut).

KLIK: Fungsi Anjungan Cerdas Versi Bupati Karo  

Dalam blusukan ke Pasar Tradisional Deli Mas, kemarin, Sihar mendengarkan sejumlah keluhan dan harapan para pedagang.

“Kita percaya Pak Sihar akan membenahi pasar ini setelah dilantik menjadi Wakil Gubernur Sumut nantinya. Karena itu kita paparkan semua yang kita butuhkan,” kata pedagang di Pasar Tradisional Mas Deli.

Tak hanya pedagang yang menuturkan sejumlah keluhan, para konsumen di Pasar Tradisional Mas Deli, turut menyampaikan unek-unek mereka akan kondisi pasar tradisional.

Sihar Sitorus merespons keluhan para pedagang. Pasar tradisional, kata pengusaha muda asal Sumatera Utara itu, tidak sekadar lokasi jual-beli.

“Pasar tradisional bukan hanya sebagai tempat transaksi jual beli. Tetapi juga tempat membangun kehidupan sosial. Sehingga harus layak dan baik untuk digunakan masyarakat,” ujar Sihar.

Secara filosofis, ungkap Sihar, pasar tradisional itu merupakan ruang publik yang sangat dibutuhkan warga masyarakat. Di pasar tradisional masyarakat bisa saling menyapa dan bertukar pikiran. Serta pasar tradisional juga menjadi tempat untuk membangun silaturahmi yang baik.

“Tetapi kalau pasar tradisionalnya tidak layak dan tidak memadai, maka filosofi itu tidak akan teraplikasikan,” tegasnya.

Sihar menganalogikan pasar dengan komputer, jika pasar tradisional adalah hardware, maka software-nya adalah filosofi tersebut. Sehingga ketika filosofi itu berjalan maka sudah diaplikasikan.

“Tetapi tidak mungkin software yang besar dapat dioperasikan oleh hardware yang tidak memadai. Demikian juga pasar tradisional, tidak mungkin difungsikan menjadi ruang publik yang baik jika fasilitasnya tidak mendukung,” imbuh Sihar. (ROM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *