Gempa Halmahera, 2 Orang Meninggal, Ribuan Warga Mengungsi

oleh -1.487 Kali Dibaca
Dampak gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, pada Minggu sore, 14 Juli 2019. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COM – Gempa bumi berkekuatan 7,2  skala richter (SR) yang mengguncang Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, pada Minggu 14 Juli 2019, mengakibatkan dua orang meninggal dunia. Lebih dari 2.000 warga mengungsi di 14 titik pengungsian. Hingga Senin pagi, 15 Juli 2019, gempa susulan tercatat 65 kali terjadi.

Pelaksana harian (Plh) Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan, dua korban meninggal teridentifikasi berasal dari Desa Gane Luar dan Desa Papaceda, sedangkan pengungsian terbanyak berada di Kecamatan Bacan Selatan.

“Jumlah penyintas di titik tersebut mencapai 1.000 orang. Sementara itu, para korban telah mendapatkan penanganan darurat dari pemerintah daerah dan institusi terkait lainnya. Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari, terhitung 15 – 21 Juli 2019,” kata Agus Wibowo dalam siaran pers yang diterima wartawan, Senin 15 Juli 2019.

Gempa juga berdampak pada kerusakan bangunan dan infrastruktur lain. Kerusakan unit rumah di Desa Ranga-ranga, Kecamatan Gane Timur, 20 unit, Desa Saketa, Kecamatan Gane Barat, 28 unit, dan Desa Dolik, Kecamatan Gane Barat Utara, sejumlah 6 unit. Ketiga desa ini berada di wilayah Kabupaten Halmahera Selatan.

Baca Berita Gempabumi Di Sini

Kerusakan rumah juga terjadi di Desa Kluting Jaya, Kecamatan, Weda Selatan, Halmahera Tengah, sebanyak 5 unit, sedangkan kerusakan 2 unit jembatan terjadi di Desa Saketa.

“Hingga kini beberapa kendala dihadapi dalam penanganan darurat. Akses jalan ke lokasi terdampak hanya melalui laut dikarenakan akses jalan darat masih belum terbangun. Rute yang dapat ditempuh yaitu rute Ternate-Sofifi (Ibu Kota Provinsi Maluku Utara) melalui speedboat dan dilanjutkan perjalanan darat dari Sofifi menuju ke Saketa. Kemudian Ternate ke Labuha dengan pesawat atau kapal feri. Labuha menuju ke Saketa membutuhkan waktu 5 jam dengan speedboat,” sebut Agus.

Laporan BPBD Halmahera Selatan, kata Agus, menginformasikan masyarakat pesisir pantai masih mengungsi ke wilayah yang lebih tinggi.

Baca Berita:

Bupati Karo Hadiri Panel 60 Tahun Pengabdian Profesor Meneth Ginting

Rianto Hanyut di Pemandian Kasanova

“ Beberapa gempa susulan tercatat setelah gempa bermagnitudo 7,2 tersebut. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mencatat 65 kali gempa susulan dengan kedalaman rata-rata 10 km hingga 15 Juli 2019, pukul 07.00 WIB,” jelas Agus.

Gempa yang mengguncang Kabupaten Halmahera Selatan, terjadi pada Minggu 14 Juli 2019, sekitar pukul 16.10 WIB. Ini dirasakan dengan lokasi berada pada 0.59 LS,128.06 BT (62 km Timur Laut Labuha – Maluku Utara) dengan kedalaman 10 Km.

Guncangan kuat sebesar V MMI di daerah Obi, III MMI di Labuha, II – III MMI di Manado dan Ambon, dan II MMI di wilayah Ternate, Namlea, Gorontalo, Raja Ampat, Sorong, dan Bolaang Mongondow.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan,  pada Minggu 14 Juli 2019, gempa dirasakan dengan sekala II-III MMI di Pos Pengamatan Gunung Gamalama, dan II MMI di Pos Pengamatan Gunung Dukono.

“Gempa dirasakan kuat di Kota Ternate selama 2-4 detik. Masyarakat terlihat panik dan berhamburan keluar rumah. BPBD Halmahera melaporkan bahwa gempa dirasakan kuat di Kabupaten Halmahera Selatan selama 2-5 detik dan masyarakat panik berhamburan keluar rumah,” kaat Agus.

Gempa bumi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif yang berada di daerah tersebut. Pusat gempa bumi berada di darat. Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa disusun oleh batuan vulkanik dan sedimen berumur Tersier yang dapat bersifat urai, lepas, dan belum kompak (unconsolidated) sehingga memperkuat efek guncangan gempa bumi.

Masyarakat di Ternate dan Kabupaten Halmahera Selatan tetap dapat menikmati layanan Telkomsel secara normal baik layanan Voice, SMS maupun layanan data dikarenakan tidak ada gangguan yang bersifat masif.

“Sebelumnya, BTS sempat mengalami gangguan, namun sudah normal kembali sejalan dengan pulihnya aliran listrik di wilayah tersebut. Serta sarana dan fasilitas penyaluran BBM dan Elpiji Pertamina tidak mengalami kerusakan akibat gempa, sehingga layanan komoditas energi tersebut masih berjalan normal,” imbuh Agus. (Rep-02 | Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *