Gunung Anak Krakatau “Mengamuk” 576 Kali Meletus

oleh -3.287 Kali Dibaca
Visual erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu 18 Agustus 2018, pukul 18.09 WIB. [Foto BNPB | Rienews]

RIENEWS.COMPusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG) melaporkan, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Provinsi Lampung, meletus ratusan kali.

Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau PVMBG melaporkan Gunung Anak Krakatau erupsi seharian, dengan jumlah erupsi sebanyak 576  pada Sabtu 18 Agustus 2018.

Tinggi letusan bervariasi 100 meter hingga 500 meter dari puncak kawah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan selama 24 jam dari pukul 00.00 – 24.00 WIB, Gunung Anak Krakatau meletus 576 kali kejadian dengan amplitudo 23-44 mm, dan durasi letusan 19-255 detik.

Berita Terkait: Letusan Gunung Anak Krakatau Hari Ini Capai 1.305 Meter

Berita Populer: Ini 4 Tersangka Korupsi Tugu Menjuah Juah Berastagi Rp650 Juta

“Letusan disertai lontaran abu vulkanik, pasir, lontaran batu pijar, dan suara dentuman. Secara visual pada malam hari teramati sinar api dan guguran lava pijar. Hembusan berlangsung 80 kali kejadian, amplitudo 5-30 mm dengan durasi 10-80 detik,” kata Sutopo, Minggu 19 Agustus 2018.

Terpantau pada  pukul 18:09 WIB, terjadi letusan dengan tinggi kolom abu teramati ± 500 meter di atas puncak (± 805 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara.

“Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 42 mm dan durasi ± 2 menit 33 detik,” jelas Sutopo.

Ini adalah letusan yang terbanyak kedua sejak adanya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak Senin 18 Juni 2018. Letusan terbanyak adalah sebanyak 745 kali letusan Sabtu 30 Juni 2018. Sedangkan letusan terbanyak kedua terjadi Sabtu 18 Agustus 2018, sebanyak 576 kali.

“Meskipun terjadi letusan sebanyak 576 kali, namun tidak ada letusan yang besar yang menimbulkan dampak merusak. Letusan yang terjadi hanya kecil namun beruntun. Letusan tidak berpengaruh pada jalur penerbangan dan jalur pelayaran di Selat Sunda,” tegas Sutopo.

Status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada (level II) dengan radius zona berbahaya di dalam radius 2 km, ditetapkan sejak Januari 2012 hingga sekarang.

Status Waspada artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya erupsi dapat terjadi kapan saja. Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitasnya di dalam radius 2 km.

Masyarakat dihimbau tetap tenang. BPBD Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVMBG dan BKSDA telah melakukan langkah antisipasi.

“Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi tidak melakukan aktivitas di dalam radius 2 km dari puncak kawah. Di luar itu aman,” pungkas Sutopo.

Gunung Anak Krakatau baru muncul dari permukaan laut tahun 1927. Rata-rata tambah tinggi 4-6 meter per tahun. Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar.

Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan ibunya yaitu Gunung Krakatau pada 1883. Bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. (Rep-03)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *