Pemkab Karo Imbau Warga Tidak Pasok Ternak Babi dari Luar Daerah

oleh -692 Kali Dibaca
Wakil Bupati Karo Cory Seriwaty Sebayang memimpin rapat membahas penanganan wabah virus babi di Kabupaten Karo, di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Karo, Rabu 4 Desember 2019. [Foto Ist | Rienews]

RIENEWS.COM – Wabah hog cholera (virus babi) di Kabupaten Karo menyebabkan ribuan ternak babi mati. Dinas Pertanian Karo menyatakan penyebab kematian ternak babi itu disebabkan virus babi. Sementara hasil laboratorium dari Balai Veteriner Medan, hingga kini tak kunjung diterima.

Meski virus babi dinyatakan tidak berbahaya bagi manusia, Pemerintah Kabupaten kini mengopimalkan upaya penanganan dan penanggulangan atas wabah tersebut. Salah satunya meminta para peternak dan masyarakat tidak memasok ternak babi dari luar Kabupaten Karo.

Wakil Bupati Karo Cory Seriwaty Sebayang memimpin rapat membahas wabah hog cholera dan penanganannya. Dalam rapat yang dihadiri Sekda Karo Kamperas Terkelin Purba, Kadis Pertanian dan Peternakan Karo Metehsa Karokaro, terungkap bahwa wabah hog cholera terjadi di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Salah satunya di Kabupaten Karo.

Baca Berita:

Sejak 2015 Penderita HIV/AIDS di Karo Meninggal Mencapai 39 Orang

Pembangunan Kabupaten Karo Perlu Dukungan BI dan Bank Sumut

“Kita sangat prihatin dengan musibah virus babi, melanda peternak babi. Jika dihitung-hitung kerugian  mencapai miliaran rupiah. Kita harapkan Kadis Pertanian Karo bekerjasama dengan 16 kabupaten/kota lainnya agar mendesak Gubernur Sumatera Utara guna menyurati Menteri Pertanian terkait dampak dari virus babi,” kata Cory dalam rapat yang digelar di Dinas Pertanian dan Pertenakan Karo, Rabu 4 Desember 2019.

Metehsa Karokaro menyebutkan, kematian ternak babi di Kabupaten Karo disebabkan terjangkit wabah antar babi.

“Bahwasanya virus tersebut positif menjangkit antara babi ke babi. Namun tidak berbahaya bagi manusia,” katanya.

Metesha mengungkapkan, bahwa Dinas Pertanian dan Peternakan Karo hingga kini belum menerima hasil laboratorium dari Balai Veteriner Kementerian Pertanian di Kota Medan.

“Hasil lab yang resmi belum dikeluarkan oleh Balai Veteriner Medan,” katanya.

Upaya mencegah dan menanggulangi mewabahnya virus babi, sebut Metesha, Dinas Pertanian dan Peternakan Karo terus melakukan sosialisasi di berbagai kecamatan.

“Sudah kita bentuk tim penanganan vaksin oleh penyuluh lapangan di lokasi daerah masing-masing. Dan apa bila masyarakat yang mempunyai ternak babinya mati, agar segera dikubur, bila lokasi tidak ada dapat dibuang di bin sampah yang sudah ditentukan. Jangan buang di badan jalan apalagi dibuang sembarangan,” katanya.

Metesha mengungkapkan, data ternak babi yang mati akibat hog cholera di Kabupaten Karo mencapai  1.660 ekor.

“Sementara yang tidak terdata hampir 10.000 ekor,” pungkasnya.

Sekda Karo Kamperas Terkelin Purba mengharapkan para peternak babi harus menjaga kebersihan.

“Babi yang sudah mati harus dikubur, dan sementara tidak membeli dan memasukkan babi dari luar wilayah Karo,” tegasnya. (Rep-01)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *