Titik Api di Sumatera dan Kalimantan Masih Tinggi

oleh -495 Kali Dibaca
Pemadaman kebakaran hutan dan lahan dari udara oleh Satgas Udara menggunakan helikopter. [Foto Sipongi MenLHK | Rienews]

RIENEWS.COM – Titik api di enam provinsi yang dilanda kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga Sabtu 21 September 2019, masih tinggi. Berdasarkan pantauan, titik api kategori sedang dan tinggi berjumlah 2.288 titik api untuk seluruh Indonesia.

Sedang pantauan titik api di enam provinsi prioritas pemadaman karhutla adalah Riau 114 titik api, Jambi 408 titik api, Sumatera Selatan 219 titik api, Kalimantan Barat 266 titik api, Kalimantan Tengah 810 titik api, dan Kalimantan Selatan 74 titik api.

“Kondisi enam provinsi dalam keadaan berasap dengan kualitas udara berdasar konsentrasi PM10 adalah Riau 314 (berbahaya), Jambi 238 (sangat tidak sehat), Sumatera Selatan 155 (tidak sehat), Kalimantan Barat 324 (berbahaya), Kalimantan Tengah 409 (berbahaya) dan Kalimantan Selatan 22 (baik),” kata Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo dalam dalam siaran pers, Sabtu 21 September 2019.

Sebaran asap karhutla di Pulau Sumatera, angin bertiup ke arah barat laut, dari Sumatera Selatan (Sumsel) mengarah ke Jambi dan Riau. Sehingga asap dari Sumatera Selatan dan Jambi masuk ke Riau.

Baca Berita:

Dua Kasat Polres Tanah Karo Gerebek Lokasi Judi Ketangkasan

Cegah Karhutla, Dinas LHK-BPBD Karo Pasang Spanduk di 17 Kecamatan

“Terdapat titik api yang sangat besar asap di Desa Bayung Lencir, Kabupaten Musi Bayu Asin, Sumsel yang berdekatan dengan perbatasan Provinsi Jambi. Titik api ini sudah menyala sejak pertengahan Agustus 2019 belum bisa dipadamkan dan mengeluarkan asap sangat besar dan tertiup angin mengarah ke Jambi dan Riau. Untuk memadamkan titik api ini dikerahkan 400 personel yang terdiri dari TNI, POLRI, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat serta Mahasiswa. Helikopter dari Jambi dan Sumsel juga akan digeser mendekati lokasi karhutla,” kata Agus.

Sedang di Pulau Kalimantan, angin juga bertiup ka arah barat laut dari Kalimantan Selatan (Kalsel) mengarah ke Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar).

“Hal ini menyebakan kualitas udara di Kalsel lebih baik dibanding Kalteng dan Kalbar,” ujar Agus.

Petugas pemadam kebakaran berdoa saat menghadapi kebakaran hutan dan lahan. [Foto BNPB | Rienews]
Operasi TMC Terus Dilakukan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi  (BPPT) hingga Sabtu 21 September 2019, terus melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengatasi karhutla di wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Agus mengungkapkan, operasi dilakukan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) mengirimkan informasi potensi awan hujan sebagai target penyemaian.

Operasi TMC pada Jumat 20 September 2019 kemarin, berhasil menyebar garam 800 kilogram di Kalimantan Barat, 1.500 kilogram  di Kalimantan Tengah dan 2.400 kilogram di Riau dan hujan turun di beberapa wilayah di Kalimanran Barat,  Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Riau.

Pesawat operasional TMC di Kalimantan diterbangkan dari Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalteng, dengan menggunakan Pesawat TNI AU.

Pesawat dengan tipe CN-295 tersebut berkapasitas 2.400 kilogram. TMC juga dilakukan dengan pesawat TNI AU jenis Cassa 212-200 yang berpangkalan di Bandar Udara Supadio, Pontianak, Kalbar.

Sementara itu, operasi TMC di wilayah Sumatera dilakukan dari Pangkalan Udara Roesmin Noerjadin, Pekanbaru, Riau, dengan  menggunakan pesawat TNI AU. Pesawat yang digunakan berjenis Hercules C-130 dengan kapasitas 4.000 kilogram dan Cassa 212-200 yang berkapasitas 800 kilogram. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *