Achmad Ushuluddin Perkenalkan SMART Model di Bidang Kesehatan

oleh -1.216 Kali Dibaca
dr. Achmad Ushuluddin, M.Kes.bersama tim penguji dan promotor usai sidang terbuka disertasi di ruang Pascasarjana lantai 4 Kampus Terpadu UMY, Senin 15 April 2019. [Foto UMY | Rienews]

RIENEWS.COM – Kandidat doktor Program Studi Doktor Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), , dr. Achmad Ushuluddin, M.Kes., berhasil meraih predikat cum laude dalam disertasi berjudul; Pendidikan Kesehatan Holistik Peran Ruhani dalam Perspektif Psikologi Islam. Dalam disertasinya, Achmad mengenalkan SMART Model (Sains, Manusia, Ruh dan Tuhan) sebagai cara pandang baru relasi sains dan agama, termasuk dalam ilmu pendidikan dan kesehatan. Achmad mengungkapkan disertasinya terinspirasi dari Al Qur’an Surah Al-Isra ayat 85.

Pada sidang terbuka disertasi di ruang Pascasarjana lantai 4 Kampus Terpadu UMY, Senin 15 April 2019, Achmad Ushuluddin mengemukakan, pendidikan dan kesehatan holistik yang merupakan alternatif baru atas gagasan pendidikan dan kesehatan reduksionistik yang memandang manusia secara parsialistik dan mekanistik.

“Model pendidikan holistik mengkombinasikan kecerdasan Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ) dan juga multiple intellectual. Sedangkan pada model kesehatan holistik memadukan antara kesehatan secara biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam hal ini, pendidikan dan kesehatan holistik sama-sama memandang pentingnya dimensi spiritual sebagai pusat diri ruhani. Dalam penelitian ini, mengintegrasikan pendidikan dan kesehatan holistik dalam perspektif psikologi Islam,” ujar Achmad dihadapan 100 akademisi, di antaranya merupakan guru besar dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Achmad mengatakan penelitian-penelitian tentang pendidikan kesehatan yang selama ini dilakukan masih berkutat di seputar pendidikan kesehatan laboratories dan populasionis.

“Beberapa penelitian di antaranya memang telah menyentuh aspek holistik, namun masih berbasis pada spirit bukan ruhani sebagaimana dalam penelitian ini. Perbedaannya terletak pada kata “spirit” yang dipahami selama ini masih berupa material yaitu saraf otak yang tidak terkait dengan Tuhan. Sedangkan ruhani basisnya adalah nonmaterial berupa cahaya atau nur yang diyakini berasal dari Tuhan,” urai Achmad.

Baca Berita:

Warga Temukan Tulang Manusia Diduga Korban Masa Penjajahan

DPP Fisipol UGM Rilis Pemetaan Potensi Politik Uang Pemilu 2019

Dalam penelitiannya itu,  Achmad memperkenalkan cara pandang baru relasi sains dan agama, disebut SMART Model.

“SMART Model merupakan akronim dari Sains, Manusia, Ruh dan Tuhan, yang mana adalah suatu cara pandang baru relasi sains dan agama, termasuk dalam ilmu pendidikan dan kesehatan. Keempat elemen yang disebutkan tadi digambarkan dalam bentuk kuadran yang saling terhubung. Dalam SMART model juga dapat diketahui posisi sains teknologi yang bersifat fisik material, dan agama yang bersifat nonfisik serta nonmaterial,” jelas Achmad.

Dia juga menggagas Ruhiologi sebagai pengembangan dari psikologi.

“Jika psikologi menjadi basis material IQ, EQ, dan SQ maka ruhiologi menjadi basis immaterial Ruhani Quotient (RQ) sebagai gagasan kecerdasan keempat. Konsep ini terinspirasi dari Q.S Al-Isra (17) ayat 85,” kata Achmad.

Ruhiologi adalah ilmu roh yang menyadarkan setiap manusia, apapun profesinya, sukunya, agamanya, dan warna kulitnya semua diberikan anugerah ruh oleh sang maha pencipta. Ruhiologi akan berimplikasi pada munculnya kesadaran intersubjektif berketuhanan, yaitu kesadaran relasi etis antar manusia yang bersifat subjek terhadap subjek. Manusia tidak lagi dibeda-bedakan karena profesinya yang membentuk relasi subjek terhadap objek, seperti halnya relasi antara dokter kepada pasiennya atau dosen kepada mahasiswanya. Dalam relasi subjek terhadap subjek posisi seperti dokter kepada pasien harus sama-sama dipandang sebagai subjek yang unik, sehingga memunculkan model kesadaran rekognitif-intersubjektif.

“Jika objek hanya memiliki dimensi eksterior atau tubuh, maka subjek memiliki dimensi eksterior dan interior yang disebut tubuh dan ruh, yang khas itu justru dari subjek adalah dimensi interiornya atau ruhaninya,” jelasnya.

Ditemui usai menyampaikan disertasinya, Achmad menjelaskan latar belakasng disertasinya, pertanyaan apa sebenarnya manusia ini, unsur apa yang membuat manusia itu bisa menghasilkan sains dan teknologi yang sangat berkembang.

“Sebagai seorang dokter, pada masa saya studi, saya sempat terpikir dari apa sebenarnya manusia ini, unsur apa yang membuat manusia itu bisa menghasilkan sains dan teknologi yang sangat berkembang. Pada saat saya melihat mayat, melihat orang tidur, dan diinfus, keduanya memiliki komponen yang sama. Tapi kemudian mana yang bisa memberikan kehidupan pada manusia. Setelah saya gali, dalam psikologi Islam banyak berbicara tentang spiritualitas. Saya menemukan sedikit celah bahwa yang lebih dalam dari spiritualitas itu adalah ruh. Hal inilah yang menjadi center bahwa manusia itu bisa berpikir, bangun dari tidurnya itu semua bisa terjadi karena adanya ruh. Maka dari itu, saya memberanikan diri dari seorang dokter untuk belajar tentang psikologi Islam,” ungkap Achmad.

Dia berharap agar penelitiannya tersebut bisa terus dikembangkan dan bisa mengubah paradigma masyarakat dari partikularistik menjadi lebih holistik.

Prof. Siswanto Masruri selaku promotor Achmad Ushuluddin, mengatakan kehadiran 100 akademisi sebagian besar adalah guru besar dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri, karena tingginya animo pada akademisi.

Achmad berhasil menjadi lulusan Pascasarjana UMY tercepat dengan masa studi kurang dari 3 tahun dalam usia relatif muda, yakni 33 tahun. Dr. dr. Achmad Ushuluddin, M.Kes., juga berhasil dinyatakan lulus sebagai doktor ke 69 Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam UMY. (Rep-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *