Kesejahteraan Tidak Diukur Dengan Pembangunan Jembatan-Jalan Tol

Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Lilies Setiartiti S.,E., (kanan) saat berbicara tentang perekonomian Indonesia 2018 pada Refleksi Akhir Tahun 2018 dan Outlook 2019 Program Pascasarjana UMY, Sabtu 29 Desember 2018. [Foto Ist | Rienews]

RIENEWS.COM – Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Lilies Setiartiti S.,E., menyatakan, ada beberapa indikator yang cukup penting untuk menilai kinerja ekonomi suatu negara. Ketika satu variabel indikator ekonomi makro itu baik maka akan memberikan dampak besar pada indikator lainnya. Sehingga perekonomian suatu negara dapat dikatakan sehat, pun sebaliknya.

Pertumbuhan ekonomi juga sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan dan kemiskinan suatu bangsa.

Lilies berpendapat, perekonomian Indonesia kian hari menunjukkan keprihatinan. Dilihat dengan fakta bahwa jumlah penduduk miskin dan rentan akan kemiskinan mencapai angka 100 juta.

“Kesejahteraan suatu negara atau kinerja ekonomi tidak diukur seberapa panjang jalan diaspal. Tidak diukur pula dari seberapa banyak jembatan dan jalan tol yang dibangun. Meski memang benar butuh infrastruktur yang bagus untuk menggerakkan ekonomi. Tapi kesejahteraan diukur dari berapa jumlah penduduk miskin berkurang dan daya beli yang semakin baik,” kata Lilies saat berbicara dalam “Refleksi Akhir Tahun 2018 dan Outlook 2019 Program Pascasarjana UMY” di ruang Sidang Direktur Pascasarjana UMY, Sabtu 29 Desember 2018.

Baca Berita: Mantan Menko Ekuin Sebut Adri Sebagai Calon Menteri Koperasi

Dikatakannya, Indonesia pada tahun 2015 menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,7 persen, tapi pada kenyataannya hanya berada di angka 4,9 persen.

“Dapat dikatakan melalui fakta itu bahwa ekonomi Indonesia tidak berjalan baik,” sebut Lilies.

Dia mengungkapkan, faktor yang menyebabkan hal itu terjadi karena harga BBM naik, impor yang semakin besar dibanding dengan ekspor, hutang yang semakin banyak, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin mencekik.

Baca Juga: Seramnya Puting Beliung di Cirebon, 1 Orang Meninggal dan Ratusan Rumah Rusak

“Dampaknya sangat dirasakan oleh warga masyarakat kelas menengah ke bawah seperti petani garam, beras, bahkan ketela,” tegas Lilies.

Banyak petani garam di Madura menangis, karena pemerintah impor garam 1,7 juta ton per tahun dari Australia dengan alasan garam lokal tidak berkualitas.

“Tapi menurut saya itu bukan solusi, harusnya petani garam atau yang lainnya diberikan edukasi bagaimana cara mendapatkan hasil panen yang berkualitas tinggi. Bukan solusinya beli, beli, dan beli. Ini membuat tingkat kebahagiaan Indonesia pun anjlok,” imbuh Lilies

Menukil laporan Kebahagiaan Dunia 2018 yang dikeluarkan PBB untuk mengukur kesejahteraan subjektif, kata Lilies, Indonesia berada di peringkat ke-96, turun dari peringkat 72.

Sementara Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia menggeser posisi Norwegia. (Rep-04 | Rel)