Adaptasi Pendidikan Dokter Atasi Penyakit Baru dan Kritis Pasien

oleh -942 Kali Dibaca
Prof. Dr. Gandes Retno Rahayu, M. Med. Ed., Ph.D., dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK-UGM). [Foto UGM | Rienews]

RIENEWS.COM – Dokter di masa depan menghadapi perubahan besar dalam dunia kedokteran. Salah satunya, perubahan pola dan penanganan penyakit secara global, peningkatan prevalensi penyakit karena gaya hidup, meningkatnya jumlah lansia, munculnya sejumlah penyakit baru, dan pasien yang semakin kritis dan menuntut pelayanan optimal. Hadapi perubahan itu, diperlukan adaptasi pendidikan kedokteran agar menciptakan dokter yang medical expert, communicator, collaborator, leader, helath advocate, scholar.

Hal ini disampaikan Prof. Dr. Gandes Retno Rahayu, M. Med. Ed., Ph.D., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK-UGM), yang dilangsungkan di Balai Senat UGM, Yogyakarta, Selasa 2 April 2019.

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Adaptasi Pendidikan Kedokteran Dalam Mendidik Dokter Masa Depan”. Gandes menyebutkan telah terjadi perubahan dalam dunia kedokteran. Salah satunya, perubahan pola dan penanganan penyakit secara global seperti peningkatan prevalensi penyakit karena gaya hidup, meningkatnya jumlah lansia, serta munculnya sejumlah penyakit baru.

Perubahan lainnya juga terjadi pada pasien yang semakin kritis dan menuntut pelayanan optimal. Selain itu juga perubahan karakteristik mahasiswa. Ditambah dengan laju evolusi teknologi informasi yang cepat turut mendorong laju evolusi teknologi kedokteran.

Menghadapi perubahan besar itu, Gandes menekankan pentingnya lembaga pendidikan kedokteran untuk mencetak lulusan professional, bisa menyediakan pelayanan yang aman bagi pasien.

Baca Berita:

Eksistensi Babinsa Kodim Tulang Bawang

Singkirkan Ratusan Pesaing, Hanna Sukses ke YSEALI Berkat Lidah Mertua

“Lulusan diharapkan mampu menjadi medical expert, communicator, collaborator, leader, helath advocate, scholar dan professional,” kata Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKKMK-UGM itu.

Gandes menyebutkan untuk menghasilkan lulusan seperti itu diperlukan penyesuaian dan perubahan dalam pendidikan kedokteran. Mulai dari mengubah proses seleksi mahasiswa, tidak hanya seleksi kemampuan kognitif seperti yang banyak dilakukan sebelumnya. Namun perlu dilengkapi dengan memepertimbangkan karakteristik individu, seperti EQ, kemampuan berempati, bekerja dalam tim, kemandirian, serta rekam jejak kerja sosial.

Berikutnya, seleksi tenaga pendidik/dosen juga perlu menggali kemampuan sebagai seorang pendidik. Misalnya, kemampuan menjadi fasilitator, desainer, asesor, dan pengembang sumber pembelajaran. Sementara untuk pengembangan profesionalisme dosen tidak hanya dengan workshop singkat, tetapi program yang terstruktur dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan setiap dosen.

Menurutnya, melalui seleksi dan pengembangan karier dosen yang tepat akan menghasilkan dosen dengan kemampuan teknis untuk melakukan pembelajaran yang benar, dengan pendekatan yang benar, dan oleh orang yang benar.

Selain itu penyesuaian kurikulum juga harus dilakukan.

“Kurikulum harus dibuat terstruktur untuk memberikan arah dan cara yang jelas dalam mencapainya. Adopsi kurikulum berbasis kompetensi yang responsif terhadap perubahan sangat diperlukan. Bukan kurikulum yang didiominasi oleh kegiatan pembelajaran yang statis. Kompetensi harus disesuaikan dengan konteks lokal dan global,” ungkap Gandes.

Hal lain, dengan menerapkan pembelajaran yang adaptif dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Gandes menyebutkan Fakultas Kedokteran perlu memupuk budaya berpikir kritis untuk memobilisasi pengetahuan ilmiah, pertimbangan etis, dan penalaran publik untuk menghasilkan transformasi sosial yang mencerahkan.

“Proses belajar yang menstimulus tumbuhnya kemampuan berpikir kritis, analitis, dan keterampilan menyelesaikan masalah harus menjadi warna utama pembelajaran pendidikan kedokteran,” tegasnya.

Kolaborasi dalam berbagai level, kata Gandes, menjadi sebuah kata kunci penting dan tidak dapat dihindari.

“Kolaborasi perlu dilakukan di dalam internal fakultas, lintas fakultas, secara nasional maupun lintas negara. Kemitraan bersama melalui jaringan, aliansi, dan konsorsium dengan berbagai pemangku kepentingan perlu diperkuat,” imbuh Gandes. (Rep-04 | Rel)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *