FDR Komponen Black Box Sriwijaya Air SJ182 Telah Ditemukan

oleh -95 Kali Dibaca
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Bagus Puruhito menyerahkan FDR pesawat Sriwijaya Air SJ182 kepada Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam konferensi pers, Selasa 12 Januari 2021, di Jakarta International Container Terminal (JICT). [Foto Basarnas | Rienews]

RIENEWS.COM – Tim SAR gabungan berhasil menemukan komponen black box pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang mengalami kecelakaan di perairan Kepulauan Seribu. Komponen black box yang ditemukan itu Flight Data Recorder (FDR/perekam data penerbangan), kondisinya sudah tidak utuh.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan komitmen TNI mendukung penuh Basarnas dalam operasi SAR terhadap pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang mengalami kecelakaan dalam penerbangan rute Jakarta-Pontianak, pada Minggu 10 Januari 2021.

Dalam konferensi pers di Jakarta International Container Terminal (JICT), Selasa 12 Januari 2021, Panglima TNI mengungkapkan mendapatkan laporan dari KSAL Laksanama TNI Yudo Margono bahwa di area yang sebelumnya sudah ditandai (marking) ditemukan pecahan Underwater Acoustic Beacon (UAB) yang fungsinya memberikan sinyal.

“Saya minta agar FDR yang kemungkinan besar masih berada di sekitar itu untuk terus dicari,” ujar Panglima TNI.

Baca : Sinyal Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Ditemukan di Kedalaman 23 Meter Permukaan Laut

Selanjutnya, kata Marsekal Hadi Tjahjanto, pukul 16.40 WIB KSAL kembali melaporkan bahwa FDR telah berhasil ditemukan.

Setelah penemuan FDR, yang menjadi orientasi pencarian berikutnya adalah Cockpit Voice Recorder (CVR/ perekam suara kokpit).

“Dengan keyakinan yang tinggi Cockpit Voice Recorder akan segera ditemukan. Operasi ini belum selesai, karena akan terus kita lakukan evakuasi korban termasuk seluruh potongan body pesawat kita upayakan diangkat,” pungkas Panglima TNI.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengapresiasi kerja keras, sinergitas, dan soliditas hingga hari keempat pelaksanaan operasi SAR.

“Koordinasi yang apik antara TNI, Polri, Basarnas, KNKT, dan seluruh stakeholder yang terlibat dalam pelaksanaan operasi SAR,” katanya.

Baca Berita:

Longsor di Cihanjuang Sumedang, 16 Orang Tewas, 23 Orang Hilang

Kabupaten Karo Masuk Program Sekolah Penggerak Kemendikbud

Menteri Budi juga menyampaikan tiga instruksi Presiden Joko Widodo terkait pelaksanaan operasi SAR. Yang pertama, harus cepat menemukan dan mengevakuasi black box, bagian tubuh para korban, dan potongan pesawat.Kedua, asuransi dan hak para korban segera diberikan kepada keluarga sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dan ketiga, penyebab kecelakaan harus segera ditemukan dan dijadikan pembelajaran untuk meningkatkan kinerja penerbangan nasional.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Bagus Puruhito mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan unsur TNI, khususnya TNI AL yang telah mengerahkan daya dan upaya sehingga operasi SAR dapat berjalan dengan baik.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyebutkan, data yang tersimpan dalam FDR sangat dibutuhkan mengungkap penyebab kecelakaan Sriwijaya Air SJ182.

“Data yang ada di dalam FDR itu sangat dibutuhkan untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat. Mohon doa dari masyarakat agar pengunduhan data FDR yang berlangsung sekitar 2 sampai 5 hari dapat berjalan dengan lancar,” kata Soerjanto.

Dalam konferensi pers itu, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyerahkan FDR yang dibawa KRI Kurau kepada Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Bagus Puruhito. Selanjutnya, FDR  diserahkan Kepala Basarnas kepada Ketua KNKT.

Apa Itu Black Box

Black box atau kotak hitam merupakan kumpulan perangkat perekam data penerbangan (flight data recorder/FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder/ CVR) dalam pesawat terbang.

Kotak hitam sebuah pesawat memiliki 2 komponen. Komponen pertama adalah FDR. Komponen berikutnya dari FDR adalah CVR.

Berdasarkan KNKT, baik FDR maupun CVR terdiri dari 3 bagian. Pertama adalah kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam.

Kedua adalah kotak tempat alat untuk merekam berada, seperti kaset, CD, atau chip. Sedangkan yang bundar adalah underwater locator beacon (ULB) yang bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air. ULB ini merupakan transmitor yang akan memancarkan gelombang akustik untuk memudahkan pendeteksian.

Yang membedakan CVR dengan FDR adalah, FDR berfungsi untuk merekam data-data penerbangan. Alat ini merekam data-data teknis pesawat, seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, autopilot, dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.

FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya, setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.

Data yang diperoleh lantas ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian data bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang salah satunya bernama Insight View. Dengan demikian, bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan.

Walaupun dinamakan kotak hitam tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam tetapi berwarna jingga (oranye), dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan. (Red)

Sumber : basarnas.go.id

                detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *