Harga Kubis Anjlok, Petani Karo Enggan Panen

oleh -1.617 Kali Dibaca
Ilustrasi kubis. [Foto Rienews]

RIENEWS.COM – Kubis (kol) pertanian di Kabupaten Karo, Sumatera Utara,  menjadi salah satu komoditas ekspor, di antaranya ke pasar negara Malaysia. Meski menjadi salah satu komoditas ekspor, petani di Bumi Turang saat ini enggan memanen kubis. Alasannya, harga jual kubis dalam tiga bulan terakhir dinilai rendah, mencapai Rp500 perkilogram.

James Tarigan, petani dari Desa Bulanjulu, Kecamatan Barusjahe, mengaku enggan memanen kubis tanamannya. Dia berdalih harga jual kubis saat ini tidak dapat mengembalikan modal petani kubis.

“Satu sisi kita bangga kol ini sudah diekspor ke Malaysia. Namun di sisi lain, harga tetap terjun bebas. Bayangkan, sudah hampir tiga bulan harga anjlok,” ungkap James Tarigan kepada wartawan, Selasa 26 Maret 2019.

James berharap dengan diekspornya kubis pertanian Kabupaten Karo, mestinya harga jual dari petani mengalami kenaikan. Namun kenyataannya, sebut James, harga jual kubis dari petani malah anjlok.

Baca Berita: Industri 4.0 Tantangan Pekerja Sektor Jasa Keuangan Indonesia

“Kalau sudah ekspor seharusnya harga pembelian ke petani naik jugalah. Ini tidak,” kata James.

Menurut James, dengan harga jual kubis perkilogram saat ini, Rp500, jelas membuat para petani kubis mengalami kerugian. James mengaku kondisi harga jual kubis saat ini mengancam keberlangsungan petani kubis.

Baca Berita: Bupati Karo Teken Komitmen SPAN-LAPOR

“Kalau begini terus, para petani kol terancam bangkrut. Aku sendiri sudah jera nanam kol,” tutur James.

Disebutkan James, modal untuk menaman kubis perbatang hingga panen (masa tanam 3 bulan) mencapai Rp700 hingga Rp1.000.

“Kalau tanaman itu tumbuh sempurna, bisa menghasilkan rata-rata 2 kilogram perbatang. Sudah jelas petani nombok (dengan harga jual Rp500/Kg),” kata James.

Menurut James, harga jual kubis yang diharapkan petani berkisaran Rp2.000 hingga Rp3.000 perkilogram.

Petani baru akan mendapat untung sedikit jika harga dikisaran mencapai Rp2000-3000/kg. Karena itu, James berharap pemerintan segera mencari solusi untuk mengatasi harga ini.

Akibat anjloknya harga kubis, petani enggan memanen.

“Kubiarkan saja kol itu busuk. Dirawatpun makin dalam kantongku koyak. Kecuali harganya bisa mencapai Rp5.000 perkilogram seperti tahun 2015 lalu,” ujar rekan James Tarigan.

Petani berharap Pemerintah Kabupaten Karo turut mencarikan solusi yang dihadapi petani kubis saat ini. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *