Kasus Audrey, Medsos Picu Perilaku Bullying

oleh -1.272 Kali Dibaca
Ilustrasi

RIENEWS.COM – Kasus bullying yang dilakukan siswi SMA terhadap siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mengundang keprihatinan banyak khalayak. Dalam kasus Audrey yang menjadi korban perundungan di Kota Pontianak, tidak terlepas dari pola pendidikan dan pengaruh media sosial.

Psikolog Sosial dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., menyebutkan, media sosial (Medsos) bisa mempengaruhi perilaku sosial seseorang, termasuk bullying.

“Medsos berpengaruh besar memicu tindakan bullying,” ungkap Koentjoro, merefleksi kejadian yang dialami Audrey di Kota Pontianak.

Ketua Dewan Guru Besar UGM ini menyatakan, penggunaan gadget dan Medsos pada anak saat ini kurang begitu terkontrol. Anak-anak zaman sekarang banyak yang menggunakan media sosial dan bebas menulis status serta komentar. Padahal mereka belum sepenuhnya mampu menyaring informasi yang diperoleh.

“Seringnya anak-anak mengumbar kekesalan, dan rasa benci terhadap sesuatu atau seseorang tidak lagi secara face to face, tetapi via Medsos tanpa adanya kroscek. Hal ini sangat mudah menyulut kemarahan dan kebencian,” sebut Koentjoro, Kamis 11 April 2019.

Baca Berita:

Over Kapasitas Tidak Hambat Kreativitas di Rutan Kelas IIB Kabanjahe

Peneliti UGM Sebut Lahan Sawah di Bantul Rusak Akibat Tambang Batu Bata

Koentjoro menekankan perlunya kontrol orang tua atau keluarga dalam penggunaan media sosial pada anak dan menggunakannya secara bijak. Tak hanya itu, penanaman nilai-nilai luhur dari orang tua sangat penting dilakukan.

Munculnya tindakan bullying salah satunya terjadi akibat kurangnya peran orang tua atau keluarga dalam mendidik anak. Beragam faktor dalam keluarga menyebabkan anak menjadi pelaku bullying seperti kurang perhatian orang tua, pola asuh yang terlalu tegas, serta kurang penghargaan orang tua dan lainnya.

Bullying anak ini menunjukkan ada yang salah dengan pendidikan dalam keluarga. Orang tua kurang memberikan penanaman nilai-nilaya budaya lokal dan nilai-nilai untuk memahami orang lain,” kata Koentjoro.

Untuk mencegah terjadinya perilaku bullying, Koentjoro menyebutkan pemberian hukum yang tegas perlu dilakukan terhadap pelaku. Dengan begitu, bisa memberikan efek jera, disertai pula dengan pembinaan oleh pihak terkait.

Tidak kalah pentingnya, menyadarkan orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar.

“Apa yang dilakukan anak itu sebagai akibat dari pola didik orang tua. Perilaku yang salah dalam keluarga harus diperbaiki,” tegasnya.

Lalu bagaimana jika anak menjadi korban bullying?

Koentjoro menguraikan, pentingnya bagi orang tua korban untuk menunjukkan empati dengan berusaha mendengarkan keluhan anak, serta membesarkan hati untuk membangkitkan kepercayaan diri anak.

“Apabila dirasa diperlukan memfasilitasi anak menjalani intervensi psikologis,” imbuh Koentjoro. (Rep-04 | Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *