Muhammadiyah Tegaskan Lagi Rokok Haram

oleh -3.542 Kali Dibaca
Penandatanganan darurat kawasan tanpa merokok, dilakukan di acara Wokrshop Pengendalian Tembakau di Indonesia, di Hotel Neo+ Awana Yogyakarta, pada Kamis 28 Maret 2019. [Foto UMY | Rienews]

RIENEWS.COM – Hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RISKESDAS) menunjukkan terjadi kenaikan angka prevalensi terhadap penyakit kanker pada usia lebih dari atau sama dengan 15 Tahun sebanyak 10,9 persen pada tahun 2018, dibandingkan tahun 2013 yang angkanya 7 persen.

Ketua Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Winny Setyonugroho dalam acara Wokrshop Pengendalian Tembakau di Indonesia, di Hotel Neo+ Awana Yogyakarta, pada Kamis 28 Maret 2019,  mengungkapkan, salah satu penyebab kenaikan kanker adalah karena perilaku merokok.

“Hasil Sirkemas Tahun 2016 menunjukan bahwa terjadi kenaikan konsumsi tembakau yang dihisap maupun dikunyah oleh usia 15 tahun ke atas. Ini memang memilukan, dari 32.8 persen menjadi 33.8 persen,” kata Winny.

Berdasarkan hasil riset RISKESDAS, kenaikan tersebut juga dibarengi dengan kenaikan perokok pada penduduk umur 10-18 tahun, yaitu 7.2  persen pada tahun 2013, di 2016 menjadi 8.8 persen, dan 9.1 persen pada 2018.

Winny menyebutkan, MTCC UMY bekerjasama dengan Muhammadiyah Tobacco Control Network Indonesia serta Pimpinan Wilayah Aisyiyah DIY, Jawa Tengan, dan Jawa Timur beserta Organisasi Otonom di lingkungan Muhammadiyah sepakat dan menegaskan rokok hukumnya haram sesuai dengan Hukum Merokok Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 6/SM/MTT/III/2010.

Baca Berita:

BPS Puji Kinerja Bupati Karo Tekan Angka Kemiskinan

Danyonif 125/Simbisa Pimpin “Jumat Bersih” di Masjid Agung Kabanjahe

Ketua PP Muhammadiyah Prof. Yunahar Ilyas yang menghadiri kegiatan workshop, menegaskan, bahwa kewajiban untuk mengendalikan konsumsi produk tembakau atau rokok, tidak hanya ditujukan pada umat Muslim khususnya warga Muhammadiyah. Namun juga, menjadi kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia.

“MTCC UMY sudah berkomitmen sejak dilahirkannya Fatwa Majelis Tarjih PP Muhammadiyah untuk menjadi aksentuantor dari gerakan dakwah Muhammadiyah,  khususnya dalam mengimplementasikan fatwa tersebut. Dan, wajib hukumnya bagi kita mengupayakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan derajat masyarakat setinggi-tingginya dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya suatu kondisi hidup sehat yang merupakan hak setiap orang yang juga sebagai tujuan syariah kita,” ungkap Yunahar.

Wakil Ketua MTCC UMY Dianita Sugiyo menambahkan, demi mewujudkan derajat kesehatan yang tinggi di Indonesia perlu mengamankan zat adiktif seperti nikotin, yang telah diatur dalam pasal 113 sampai dengan pasal 116 dan pasal 199 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009, sudah jelas bahwa produk tembakau merupakan zat adiktif. Oleh karena itu demi kemajuan bangsa ini dan melindungi generasi penerusnya kita perlu melakukan pengamanan salah satunya dengan memaksimalkan kawasan tanpa rokok agar generasi penerus kita terlindungi dari paparan asap rokok konvensional maupun elektrik yang menyebabkan penyakit dan mudarat bagi mereka,” tegas Dianita.

Dalam acara ini juga dilakukan penandatanganan, menegaskan bahwa Indonesia darurat kawasan tanpa merokok juga regulasi iklan, reklame, promosi, display, dan sponsorship, serta segala jenis produk rokok yang perlu lebih dikendalikan oleh pemerintah. (Rep-02 | Rel)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *