Selamat Jalan Novelis N.H. Dini

N.H. Dini

RIENEWS.COM – Novelis N.H. Dini meninggal dunia dalam peristiwa kecelakaan lalulintas di Jalan Tol Km 10, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa 4 Desember 2018.

Informasi yang diperoleh redaksi, kecelakaan yang dialami pemilik nama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, saat menggunakan mobil Avanza H-1362-GG yang dikemudikan Suparjo (57 tahun).

Mobil Avanza yang ditumpangi N.H. Dini berbenturan dengan truk AD 1536 JU yang dikemudikan Gilang Septian (28 tahun), sekitar pukul 11.15 WIB, di Jalan Tol Km 10, Kota Semarang.

Baca Berita: Pembangunan Jalan Tol Medan-Berastagi Didukung Banyak Pihak

Benturan kedua kendaraan menyebabkan N.H. Dini dan pengemudi Suparjo dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth, Semarang, untuk mendapatkan pertolongan. Suparjo mengalami luka pada kaki kiri dan tangan kanan.Sementara N.H. Dini dalam insiden tabrakan itu mengalami luka di bagian kepala dan kanan.

Informasi yang dihimpun dari Kepolisian, truk yang dikemudikan Gilang Septian melaju dari arah Gayamsari (utara) menuju Tembalang (selatan), diduga mengalami kerusakan.

Sopir sempat menghentikan truk, kemudian melanjutkan perjalanan, namun truk  berjalan mundur hingga dari arah belakang melaju kendaraan yang ditumpangi N. H. Dini.

Sosok N.H. Dini

Lhir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936, Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin populer dengan nama N.H. Dini adalah sastrawan, novelis, dan feminis Indonesia.

Dia mulai tertarik menulis sejak kelas tiga di sekolah dasar. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri.

Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, sebagaimana yang dilakukan ibunya kepadanya, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang cerita. la malah bercita-cita jadi sopir lokomotif atau masinis.

Tapi itu tidak kesampaian karena tidak menemukan sekolah bagi calon masinis kereta api.

Kalau pada akhirnya ia menjadi penulis, itu karena Dini memang suka cerita, suka membaca dan kadang-kadang ingin tahu kemampuannya.

Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah telanjur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya.

Ia digelari pengarang sastra feminis. Pendiri Pondok Baca N.H. Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya.

Beberapa karya N.H. Dini yang terkenal di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998). (Rep-10/Berbagai Sumber)