Wanita Usia Produktif Rentan Terserang Lupus

oleh -957 Kali Dibaca
Ahli Rematologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan-Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR. [Foto UGM | Rienews]

RIENEWS.COM – Ahli Rematologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan-Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR menyampaikan bahwa penyakit autoimun (Lupus) dapat menyerang siapa saja. Namun hingga saat ini kasus lupus paling banyak terjadi pada wanita usia produktif.

Wanita merupakan kelompok yang lebih sering terjangkit penyakit lupus dibanding laki-laki, karena berhubungan dengan aktivitas hormon dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat.

“Wanita muda usia kisaran 15-25 tahun merupakan kelompok yang lebih rentan terkena lupus,” ujar Nyoman Kertia, Kamis 9 Mei 2019,  di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito.

Lupus merupakan penyakit seribu wajah sebab memiliki gejala yang tidak khas. Gejala dan sakit yang ditimbulkan beragam, dan manifestasi lupus pada tiap orang yang terkena bisa berbeda-beda.

Meskipun sulit dikenali, Nyoman mengatakan, orang dapat mengenali gejala-gejala awal lupus melalui Saluri (Sadari Lupus Sendiri). Gejalanya antara lain nyeri pada sendi, demam, ruam di kulit, rambut rontok, demam, sariawan, dan sensitif terhadap paparan sinar matahari.

Baca Berita:

Terseret Truk Elpiji, Ringan Ginting Tewas Terlindas

Bupati Karo-Pertamina Geothermal Energy Bahas Bonus Produksi

“Jika sudah ada dua gejala, misalnya demam disertai nyeri sendi sebaiknya segera periksa ke dokter,” kata Nyoman juga Ketua Departemen Penyakit Dalam FKKMK UGM.

Hari ini, 10 Mei 2019, diperingati sebagai Hari Lupus Dunia.

Penyakit ini masih saja menjadi persoalan kesehatan global, diperkirakan terdapat 5 juta pasien lupus tersebar di seluruh dunia dan setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.

Nyoman menyebutkan, penyebab lupus belum diketahui secara pasti. Berbagai faktor diduga berperan pada patofisiologis lupus seperti faktor genetika, infeksi, dan lingkungan. Seperti polusi dan makanan tidak sehat.

Penyakit ini, kata Nyoman, tidak dapat disembuhkan, namun bisa dikendalikan. Sehingga terdapat kemungkinan untuk kambuh apabila daya tahan tubuh menurun.

Nyoman mengimbau para penderita lupus (odapus) untuk menjaga kondisi tubuh dengan baik.

“Penyakit ini bisa kumat, karenanya pasien tidak boleh kecapekan, tidak boleh stres, dan hindari berjemur,” ujarnya.

Disamping itu pengendalian lupus dapat dilakukan dengan rutin memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, penyakit ini dapat berbahaya jika tidak terkontrol ditangani dengan baik. Apabila lupus sudah menyerang organ dalam seperti paru-paru, ginjal hingga otak maka pasien sulit tertolong.

“Rata-rata ketidak berhasilan lebih dikarenakan pasien yang tidak rajin kontrol,” kata Nyoman.

Menjaga pola hidup sehat juga penting dilakukan seperti menghindari makanan cepat saji, makanan yang diolah dengan dibakar, serta merokok.

“Dengan begitu diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup odapus,” kata Nyoman. (Rep-04 | Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *