AKB-AKI Rendah, Bupati Karo Kaitkan Dengan Tradisi

oleh -1.069 Kali Dibaca
Ilustrasi

RIENEWS.COM –Secara nasional angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI)  di Kabupaten Karo rendah. Bupati Karo Terkelin Brahmana mengaitkan hal ini dengan tradisi warga Karo dalam proses perawatan ibu dan bayi yang baru melahirkan.

Hal ini diungkapkan Bupati Karo Terkelin Brahmana saat membuka lokakarya Kampanye Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir, yang digelar USAID Jalin, Jumat 24 Mei 2019 di Hotel Mickie Holiday Resort, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Kesehatan dinyatakan Kabupaten Karo termasuk wilayah yang memiliki angka rendah infant mortality rate (angka kematian bayi), dan angka kematian ibu yang baru melahirkan. Angka kematian bayi dan ibu merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, baik pada tataran kabupaten, provinsi, maupun nasional.

“Dari Kemenkeslah saya dapat informasi bahwa angka kematian ibu baru melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan di Kabupaten Karo tergolong rendah secara nasional,” tegas  Terkelin Brahmana.

Menurutnya, hal itu mungkin dipengaruhi bahwa setiap ibu yang baru melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan di Kabupaten Karo masih melekat atau mewarisi tradisi-tradisi hingga sekarang. Yakni, setiap ibu yang baru melahirkan disembur atau dikuningi dengan menggunakan bahan-bahan alami.

Baca Berita:

Warga Protes Bongkar Muat Truk di Kabanjahe

Kabupaten Karo Jadi Pilot Project Pertanian ZBNF

“Saat persalinan hingga beberapa bulan usai melahirkan, ibu dan bayi di Kabupaten Karo dirawat dengan baik dan memiliki tradisi kuat menggunakan rempah-rempah. Demikian juga saat mandi, baik ibu maupun bayi menggunakan rempah-rempah termasuk makananpun sangat dijaga dengan menggunakan rempah-rempah seperti lada yang ditumbuk halus,” tutur Terkelin.

Lokakarya Kampanye Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir dengan tema; Masyarakat, Mainkan Peranmu, Ibu Ketahui Hakmu, dihadiri Kepala Bappeda Nasib Sianturi, Kepala Dinas Kesehatan Karo, Irna Safrina S. Meliala, dengan peserta di antaranya dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), MUI, FKUB, PKK, KNPI, tokoh masyarakat, Dinas Kesehatan dari  Kabupaten Karo, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Kabupaten Samosir.

Regional Manager Program USAID Jalin, Nasril Lubis menjelaskan, dari data Kementerian Kesehatan dan  Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, tingkat kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia, dan Provinsi Sumatera Utara secara khusus, masih relatif tinggi. Di Sumut setiap minggunya ada lima  ibu dan 18 bayi baru lahir meninggal dunia.

Sebagian besar kematian ibu dan bayi baru lahir itu sesungguhnya dapat dicegah.

“Fakta di Indonesia, 8 bayi baru lahir dan dua ibu meninggal setiap jam. Di antara negara ASEAN, Kamboja dan Myanmar memiliki angka kematian ibu dan bayi baru lahir yang lebih baik. Program USAID bertujuan untuk berkontribusi terhadap upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia dengan pendekatan yang berbeda,” kata Nasril.

Beberapa hal penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi baru dilahirkan, menurut Nasril, masih banyak masyarakat, terutama dari kalangan menengah ke bawah yang belum mengetahui adanya jaminan persalinan dari pemerintah, sehingga ­mereka enggan memeriksakan kehamilan dan melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.

Melalui lokakarya ini, kata Nasril, diharapkan terjalin kolaborasi dan sinergitas yang berkelanjutan antara pemerintah dan semua pemangku kepentingan, agar memiliki kepedulian tentang persoalan ini sehingga upaya menekan AKI dan AKB bisa berkelanjutan untuk masa-masa mendatang. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *