Tragedi di Lapas Kelas 1 Tangerang, Presidium ICK Desak Kepolisian dan Menkum HAM Ungkap Penyebab Kebakaran

oleh -198 Kali Dibaca
Ketua Presidium Indonesia Cinta Kamtibmas, Gardi Gazarin.

RIENEWS.COM – Kebakaran di Lembaga Permasyarakat (Lapas) Kelas 1 Tangerang, Banten, merupakan peristiwa kebakaran Lapas terbesar yang pernah terjadi di Indonesia.

Kebakaran di Lapas Tangerang pada Rabu dinihari, 8 September 2021, menyebabkan 41 orang meninggal dunia, 8 orang mengalami luka bakar berat dan 72 luka bakar ringan.

Ketua Presidium Indonesia Cinta Kamtibmas (ICK), Gardi Gazarin, S.H., menyampaikan rasa duka cita dan prihatin atas peristiwa kebakaran Blok C2 Lapas Kelas 1 Tangerang.

“ICK meminta Tim DVI Polri yang mengidentifikasi  41 korban di RS Polri Keramat Jati segera mengumumkan nama-nama korban, yang dinanti para keluarga korban,” kata Gardi Gazarin dalam keterangan persnya, Rabu 8 September 2021.

Baca Juga:

Vaksinasi Kelompok Marjinal dari Solidaritas Masyarakat Sipil Yogya

Bupati Karo Serahkan Santunan Kemensos dan Pemprovsu Kepada Keluarga Korban Tanah Longsor

ICK meminta Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Fadil Imran untuk membuka penyidikan terkait terjadinya peristiwa itu.

Dugaan sementara, kebakaran diakibatkan arus pendek listrik (korsleting) pada Lapas yang dibangun pada tahun 1972. Saat ini Lapas Kelas 1 Tangerang dihuni lebih 2.000 warga binaan.

“ICK meminta Polda Metro Jaya untuk lebih dalam lagi melakukan penyidikan intensif. Apakah kebakaran Lapas itu benar karena human error akibat korsleting listrik atau ada aksi brutal sabotase? Polda Metro Jaya maupun Mabes Polri harus mengungkapkan hasil penyidikan yang sebenarnya,” ujar Gardi.

Dia juga mendesak Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly untuk membuka hasil investigasi. “Investigasi Menkum HAM harus membuka tabir penyebab kebakaran. Menkum HAM juga harus mengevaluasi kelayakan lebih mendalam seluruh Lapas di Indonesia untuk mengantisipasi terulangnya peristiwa yang memilukan ini. Menkum HAM harus berkaca dengan peristiwa kebakaran  terbesar lainnya pernah terjadi di Indonesia,” kata Gardi Gazarin. (Rep-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *