Buntut Pemutusan Listrik di PDAM Tirta Malem, Ini Penjelasan Bupati Karo

oleh -659 Kali Dibaca
Bupati Karo Terkelin Brahmana melakukan inspeksi mendadak ke PDAM Tirta Malem pasca PLN memutus aliran listrik karena BUMD Kabupaten Karo itu tak mampu membayar tagihan listrik. [Foto Ist | Rienews]

RIENEWS.COM – Bupati Karo Terkelin Brahmana mengimbau masyarakat Kabupaten Karo tidak terhasut informasi yang tidak benar terkait dampak pemutusan aliran listrik oleh PLN kepada PDAM Tirta Malem.

Hasil penelusuran dan pengumpulan informasi, ditemukan adanya kesimpang siuran informasi dampak pemutusan aliran listrik ke PDAM Tirta Malem, akibat menunggak pembayaran tagihan listrik senilai Rp1 miliar kepada PLN.

Didampingi Plt Asisten II Ekbang Gelora Fajar Purba, Kabag Ekonomi Rismawati Ginting, Kabag Hukum Monika  Purba, Camat Kabanjahe Frans Leo Surbakti, Bupati Karo melakukan inspeksi mendadak ke PDAM Tirta Malem, Jumat 6 Desember 2019. Di sana, Terkelin Brahmana bertemu dengan Plt Dirut PDAM Tirta Malem, Jonara Tarigan dan  Dewan Pengawas PDAM Willem Prangingangin serta sejumlah pegawai PDAM Tirta Malem.

Terkelin menegaskan, berdasarkan data dan informasi yang didapat, akibat pemutusan hubungan listrik oleh PLN pada Senin 2 Desember 2019, menyebabkan salah satu mesin PDAM di sumber mata air, tidak dapat beroperasional dan menyuplai air bersih kepada pelanggan.

Berita Terkait: Tunggak Tagihan Rp1 Miliar, PLN Putus Aliran Listrik ke PDAM Tirta Malem

Terkelin menyatakan, PDAM Tirta Malem memiliki empat sumber mata air menyuplai air bersih kepada masyarkat pelanggan PDAM. Keempat sumber mata air itu adalah Aek Bolon, Lau Bawang Lau Melas dan Lau Berneh.

Dijelaskannya, pemutusan listrik oleh PLN menyebabkan penyuplaian air bersih dari sumber mata air Lau Berneh tidak dapat difungsikan. Sedangkan tiga sumber mata air PDAM lainnya, mengalami gangguan teknis dan force majeure hingga menyebabkan tidak dapat dioperasionalkan.

“Tidak berfungsi akibat teknis dan alam. Semisal, (sumber mata air) Aek bolon pipa putus, mata air Lau Melas kena longsor, mata air Lau Bawang tersumbat lumpur akibat hujan,” ujar Terkelin.

Baca Berita:

Ini Salah Satu Rahasia Sehat Bupati Karo

Bupati Karo Diminta Hadiri Perayaan Natal Saitun GBKP Klasis Kabanjahe

Bupati menyatakan penjelasan ini dilakukan untuk meluruskan informasi tidak benar yang beredar di masyarakat.

“Banyak masukan dan saran didengar untuk klarifikasi berita yang beredar, yang tidak sinkron,” tegas Terkelin.

Dikatakannya, tarif air bersih yang diberlakukan PDAM Tirta Malem sejak 1996 sebesar Rp700 per meter, dan dinaikkan sejak Tahun 2010 menjadi Rp1.200 per meter.

Menurut Terkelin, besaran tarif itu tidak seimbang dengan biaya operasional PDAM Tirta Malem, khususnya dalam penggunaan listrik dari PLN.

“Ternyata tidak seimbang dengan faktor listrik yang membebani dalam pemeliharaan dan menggerakkan mesin rotator yang hidup setiap hari. Alhasil berdampak kepada mesin dihidupkan kadang dua hari sekali, mengingat tingginya biaya operasional listrik. Namun demikian PDAM Tirta Malem tetap bertahan walaupun sudah diujung tanduk,” ungkapnya.

Tingginya biaya listrik makin membebani PDAM Tirta Malem sejak 5 tahun terakhir, diakibatkan kenaikan tarif dasar listrik oleh PLN.

“Hingga tahun 2019 ini (PLN) sudah menaikkan tarif listrik sebanyak tiga kali. Ironisnya tarif air minum PDAM Tirta Malem masih tetap yakni Rp1.200 permeter. Sehingga biaya operasional mesin tidak cukup,” katanya.

Terkelin membandingkan harga jual air bersih antara PDAM Tirta Malem dengan pengusaha air tangki.  Pengusaha air bersih menjual air bersih dengan harga Rp6.000 per drum, sedangkan PDAM Tirta Malem mematok tarif air bersih permeter Rp1.200. Satu meter air sama dengan empat drum. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *