Dosen UMY Sebut Iklan Indonesia Secara Etika Tidak Maju

oleh -969 Kali Dibaca
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi. [Foto UMY | Rienews]

RIENEWS.COM –  Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi mengkritik periklanan Indonesia. Menurutnya, iklan di Indonesia secara etika tidak maju-maju. Hal ini disampaikan Fajar menghadiri launching empat buku; Cermin Pariwara Indonesia (CPI), Kritik Iklan (KRIK), Front Pembela Iklan, dan Lika Liku Luka Iklan, yang diterbitkan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UMY, konsentrasi advertising angkatan 2017.

“Kita lihat praktik periklanan di Indonesia secara etika tidak maju-maju, tetapi secara kreatif majunya luar biasa,” imbuh Fajar, Rabu 16 Mei 2018, di di Langgeng Art Foundation.

Fajar menyoroti konten iklan yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan perguruan tinggi yang dirasa tidak mencerminkan etika yang baik dengan memberikan jaminan pekerjaan bagi mahasiswa ketika lulus, kelak. Hal yang sama juga terjadi pada iklan-iklan klinik pengobatan yang menjamin kesembuhan bagi pasien yang datang berobat ke tempat itu. Atas dasar fenomena seperti di atas, ia menyebut sebagai bentuk tahayul gaya baru.

Baca Berita:

Warga Palas Tewas Diterkam Harimau

Polres Tanah Karo “Rebus” Shabu Senilai Rp9 Miliar

“Tahayul gaya baru, coba kalian bayangkan, ketika tahayul bergeser dari perkataan para dukun berpindah di televisi, yang memperlihatkan ada air putih diberi gelombang elektromagnetik dan kemudian diminum pasti sembuh penyakitnya, siapa yang menjamin pasti sembuh? Iklan perguruan tinggi ngomongnya sebagai institusi perguruan tinggi, tetapi melakukan klaim terbaik, lulusan dijamin kerja. Kampus, institusi yang dihormati tetapi beriklan aja salah,” kata Fajar, dalam siaran pers yang diterima Redaksi.

Fajar mengungkapkan, buku yang ditulis oleh mahasiswa ini, mengungkap praktik prostitusi yang menampilkan iklan di surat kabar sebagai iklan baris. Informasi yang disampaikan pada iklan tersebut adalah jasa pijat, namun setelah ditelusuri ditemukan fakta yang berbeda, yaitu jasa prostitusi.

Fajar Junaedi merekomendasikan keempat buku tersebut dibaca oleh akademisi maupun para praktisi yang bergerak di bidang periklanan karena memberikan fakta-fakta seputar iklan yang patut untuk dipahami secara mendalam. (Rep-02 | Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *