Episenter terletak pada koordinat 2,99 LS dan 118,89 BT tepatnya di darat pada jarak 4 km arah BaratLaut Majene, Sulawesi Barat pada kedalaman 10 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif.
Diduga kuat pemicu gempa ini adalah Sesar Naik Mamuju (mamuju thrust). Terbukti bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
“Banyak warga lari berhamburan keluar rumah karena terkejut guncangan kuat yang terjadi secara tiba-tiba. Melihat peta shakemap hasil analisis BMKG tampaknya gempa ini berpotensi merusak. Hingga hari pukul 14.00 WIB siang ini, hasil monitoring BMKG menunjukkan 2 aktivitas gempabumi susulan (aftershock ) dengan magnitudo maksimum M=4,9,” tulis Daryono.
Belum Ada Laporan Dampak Gempa
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati menyebutkan hingga kini belum ada laporan dampak gempa yang terjadi.
“BNPB melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Majene untuk memonitor kondisi pascagempa. Hingga kini belum ada laporan dari BPBD setempat mengenai dampak akibat gempa yang terjadi pada siang tadi,” kata Raditya melalui siaran pers kepada wartawan.
Dijelaskannya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majene menginformasikan, warga merasakan guncangan kuat.
“Warga merasakan gempa kuat selama kurang lebih 3 detik. Masyarakat panik dan keluar rumah. Setelah gempa terjadi, BPBD Kabupaten Majene melakukan koordinasi dengan perangkat kecamatan dan desa terkait dampak dari gempa,” jelas Raditya. (Red)






