RIENEWS.COM – Aksi massa Jogja Memanggil memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia batal digelar di kawasan Tugu Yogyakarta. Demi alasan keamanan, massa Jogja Memanggil memindahkan aksinya ke bekas kampus Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan Cik di Tiro, dan dilanjutkan ke Museum TNI, Jalan Sudirman.
Saat massa aksi Jogja Memanggil tiba di kawasan Tugu, pasukan polisi dan massa dari ormas sudah “menduduki” kawasan tersebut.
“Untuk menghindari bentrők dan kekerasan, maka massa aksi Jogja Memanggil memindahkan lokasi aksi,” ujar Marsinah, Humas Jogja Memanggil dalam siaran pers, Rabu, 10 Desember 2025.
Marsinah menjelaskan, dengan memindahkan lokasi aksi Jogja Memanggil, itu menggagalkan skenario konflik, agar memberikan stigma negatif bagi gerakan massa.
Dalam aksi kali ini, massa Jogja Memanggil membawa berbagai spanduk dan poster di antaranya, ”Tangkap Adili dan Penjarakan Pelanggar HAM”, “Bebaskan Kawan Kami”.
Dalam orasınya, para aktivist juga menyinggung rezim Prabowo-Gibran yang terus melakukan eksploitasi alam, hilangnya hutan seluas 31 juta hektar kerena ditebangi untuk diambil kayunya dan dijadikan tambang, telah menyebabkan bencana alam besar seperti terjadi di Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Bencana di Sumatra telah menyebabkan hampir 1.000 orang tewas dan kerugian materi mencapai lebih dari Rp60 triliun.
Selain itu, penangkapan para aktivis prodemokrasi terjadi, aksi akhir Ağustus dan awal September lalu.
“Dalam memperingati Hari HAM Sedunia ini, Jogja Memanggil menuntut agar bencana di Sumatra ditetapkan sebagai bencana Nasional, adili para pelanggar HAM dan perusak lingkungan, tolak segala produk hukum yang antidemokrasi dan antirakyat,” ujar Marsinah.
Massa Jogja Memanggil juga menuntut agar seluruh tahanan politik dibebaskan, hentikan MBG, wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis dan bervisi kerakyatan. (Rep-Red)






