Ini Jembatan Rp2 M Bernilai Historis Perjuangan Bangsa

oleh -1.297 Kali Dibaca
Bupati Karo Terkelin Brahmana bersama pejabat Pemkab Karo, Selasa 25 Juni 2019, berfoto di jembatan “Napak Tilas Pahlawan Nasional Kiras Bangun” yang dibangun dengan anggaran APBD 2017 senilai Rp2 miliar. [Foto Ist | Rienews]

RIENEWS.COM – Pembangunan infrastruktur di antaranya, pembangunan jalan dan jembatan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini merupakan bagian dari visi dan misi Pemerintah Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

“Karena pembangunan jalan dan jembatan memiliki daya dorong yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan. Dengan demikian, desa harus terus didorong mampu memberi nilai tambah pada komoditas pertanian agar memiliki daya jual lebih tinggi,” kata Bupati Karo Terkelin Brahmana, ketika meninjau jembatan “Napak Tilas Pahlawan Nasional Kiras Bangun”,  dan pelebaran jalan baru yang menjadi penghubung antara Desa Kutasuah Kecamatan Munte dengan Desa Batukarang dan Desa Rimokayu, Kecamatan Payung, Selasa 25 Juni 2019.

Dalam peninjauan itu, Bupati Karo didampingi Kepala Bappeda Nasib Sianturi, tokoh masyarakat Desa Payung, Tuah Pandia, anggota DPRD Karo Mansur Ginting, Kepala Dinas PUPR Paten Purba, Sekcam Payung Mariani br Sitepu, Kepala UPT Dinas Pendidikan Provinsi H. Syahri Ginting, Kepala Dinas Pendidikan Karo Eddy Surianta Surbakti, Sekdes Batukarang Firdaus Bangun, tokoh pemuda Frans Maradona Bangun serta sejumlah warga Desa Batukarang dan warga Desa Rimokayu.

Bupati mengutarakan bahwa jembatan yang dibangun di atas sungai Lau Biang dengan anggaran sekitar Rp2 miliar dari APBD Kabupaten Karo Tahun Anggaran 2017,  itu memiliki nilai historis.

Baca Berita:

“Tidak Kusangka Bapak Bupati Jalan Kaki 1 Kilometer”

Polisi ‘Buntu’ Ungkap Pembunuh Mahasiswi UQB

“Lokasi jembatan tersebut memiliki historis sejarah perjuangan bangsa kita, yang dulunya merupakan lokasi napak tilas Pahlawan Nasional Kiras Bangun (Garamata). Demikian juga pejuang-pejuang kita seperti Komandan Batalyon I di TNI Sektor III, Kapten Pala Bangun yang akhirnya gugur dalam pertempuran di Bertah 7 Mei 1949, tidak jauh dari jembatan ini,” kata Terkelin.

“Sejarah merupakan jejak dari suatu peristiwa. Nilai-nilai sejarah tersebut perlu dijunjung tinggi dan dikenang agar tertanam rasa cinta pada Tanah Air,” imbuh Terkelin.

Di kesempatan tersebut, Bupati Karo minta Camat Payung, Jepta Tarigan melalui Sekcam Mariani br Sitepu, dan Kepala Desa Batukarang, Roin Andreas Bangun, agar jalan tersebut diperlebar lagi, dari 8 meter menjadi 12 meter.

“Pelebaran ini sangat penting. Pembangunan jalan adalah urat nadi perekonomian warga, karena konsep kita untuk kepentingan 20 hingga 30 tahun ke depan,” katanya.

Merespons hal itu,  Mariani br Sitepu menyatakan akan dimusyawarahkan (runggud) dengan warga, karena tanah warga akan terkena pelebaran jalan. Mariani meyakini arga Desa Batukarang akan merelakan tanahnya untuk pelebaran jalan.

“Sepertinya, warga akan mendukung. Mengingat pembangunan jalan ini direspons positif dan diapresiasi warga sejak awal. Namun demikian, kami akan kembali musyawarahkan lagi,” tuturnya.

Pembangunan jalan dan jembatan di kawasan itu, sebut Mariani, sudah lama menjadi impian warga Desa Batukarang, Desa Rimokayu, Payung dan Kutasuah. Jalan dan jembatan baru ini sangat strategis sebagai jalan penghubung antar desa dan kecamatan.

“Kami berterimakasih kepada Bapak Bupati Karo Terkelin Brahmana yang sudah menganggarkan pembangunan jalan dan jembatan ini sekaligus berkenan melihat langsung jalan dan jembatan yang sudah siap dibangun. Dengan adanya jalan dan jembatan ini akan mempercepat laju perekonomian masyarakat sekitar,” imbuh Mariani.

Kepala Bappeda Karo, Nasib Sianturi menambahkan pembangunan jalan dan jembatan, selain sebagai jalur evakuasi dan jalan penghubung antar desa dan kecamatan, jalan tersebut nantinya berfungsi menjadi jalan alternatif antar kecamatan yang multifungsi untuk mempercepat laju pertumbuhan perekonomian masyarakat petani.

“Pembangunan ini bersumber dari APBD Karo Tahun Anggaran 2017 dengan total dana digelontorkan sekitar Rp 2 miliar lebih,” ujar Nasib.

Menyinggung panjang jalan yang juga telah selesai dibangun dari arah Desa Batukarang sampai jembatan pertama adalah 285 meter, selanjutnya dibangun jembatan pertama dengan panjang 12 meter dengan lebar 5 meter. Kemudian, dari jembatan pertama dibangun lagi jalan sepanjang 286 meter, baru dibangun jembatan kedua dengan panjang 24 meter, dengan lebar 4,5 m. Jembatan itu berada di atas jurang yang berkedalaman 50 – 70 meter mengarah ke sungai Lau Biang.

“Untuk menghubungkan Desa Batukarang (Kecamatan Payung) dengan Desa Kutasuah (Kecamatan Munte),” kata Nasib. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *