Menelisik Kota Berastagi Jadi Lapak “Surga” Pedagang Monza

oleh -2.212 Kali Dibaca
Suasana lapak monza di kawasan Terminal Berastagi, Kota Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. [Foto Rienews]

RIENEWS.COMMeski Pemerintah belum mencabut larangan impor pakaian bekas, sebagaimana Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 51/M-Dag/Per/7/2015 Tahun 2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas, nyatanya ini tidak menjadi penghalang para pedagang menjajakan pakaian bekas dari luar negeri.

Pedagang monza, sebutan untuk pakaian impor bekas, kian menjamur di kota wisata, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dengan lapak-lapak yang berdiri dengan penyangah kayu dan beratapkan terpal, pedagang monza berupa jins, jaket, baju, dan lainnya, tampak “subur” di pinggir jalan utama kawasan Terminal Berastagi, terutama di hari Sabtu dan Minggu.

Baca Berita: Tragedi Mirip KM Sinar Bangun Terjadi di Perairan Selayar

Apa yang menyebabkan para pedagang monza di Kota Berastagi tidak khawatir  menjajakan dagangan yang dikategorikan dilarang oleh pemerintah.

Seorang pedagang yang mengakui adanya cibiran terhadap kehadiran mereka, menyebabkan kesemrawautan. Pedagang berdalih, keberadaan lapak monza mereka “resmi” karena adanya kutipan retribusi.

“Walaupun kami pedagang monza yang diangap meresahkan dan merusak keindahan ruas jalan, dan terminal Berastagi. Tetapi kami juga dikenakan retribusi Rp50 ribu per hari,” ujar pedagang monza bermarga Tarigan, Senin 2 Juli 2018.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Karo Hendrik Philemon Tarigan menegaskan, bila ada anggotanya yang melakukan kutipan itu, agar ditangkap.

Berita Populer: Bupati Karo: Selamat Pak Jenderal

“Jika ada anggota saya yang mengutip biaya kepada para pedagang monza, saya harap kepada masyarakat agar menangkapnya dan menyerahkan kepada pihak berwajib,” ujar Hendrik, Selasa 3 Juli 2018.

Ditegaskan Hendrik, bilat terbukti melakukan kutipan, yang bersangkutan akan ditindak sesuai peraturan.

Menyoal keberadaan lapak-lapak monza menjamu pada hari Sabtu dan Minggu di Kota Berastagi, Hendrik mengaku belum maksimal melakukan penertiban terhadap pedagang monza, berasal dari Korea dan Cina.

Seorang warga Kota Berastagi, Amin Sebayang mengungkapkan, pedagang monza tidak pernah ditertibkan.

“Setahu saya sebelum Lebaran, pedagang monza di terminal Berastagi sudah nyaman, menjajakan dagangannya. Tidak pernah ada pihak dari mana pun mengamankannya, terutama dari Satpol PP sendiri. Jika ada pengusuran, paling bertahan hanya satu minggu saja, siap itu mulai masuk lagi pedagang monza,” ujar  Amin. (Rep-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *