Meliput ‘Srikandi’ Pendidik di Perbatasan Negeri

oleh -1.845 Kali Dibaca
Jalan sempit yang digenangi air, musti ditempuh menuju SDN 18, Desa Sungai Dungun, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. [Foto HAD|Rienews.com]

 

Jalan sempit yang digenangi air, musti ditempuh menuju SDN 18, Desa Sungai Dungun, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. [Foto HAD|Rienews.com]

air dari laut naik ke jalan, air dari gunung turun juga ke jalan, belum lagi ancaman hadangan buaya 

RIENEWS.COM – MEREKA  mengabdikan diri di daerah pelosok, Negara Indonesia berbatasan dengan Negeri Malaysia. Berjibaku dengan jalan berlumpur, menghindari ancaman binatang predator, buaya.

Semua itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian mereka kepada generasi penerus bangsa Indonesia, kelak.

Begitulah potret keseharian tiga ‘Srikandi’ pendidik di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.

KLIK: Ini Pesan Bupati Karo Kepada Ketua DPC Gerindra

“Kami bertiga, saya, ibu Titin, dan ibu Siti setiap hari pergi-pulang dari Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, untuk mengajar di SDN 18 Desa Sungai Dungun, Kecamatan Paloh,” tutur Rubiah, 34 tahun.

Mewakili dua sejawatnya, Rubiah menuturkan mereka melintasi jalur menuju sekolah dengan kondisi berat, saban hari.

“Kondisi jalannya tak terbayangkan,” sebut dia.

Kondisi jalan yang berat, sama sekali tidak menyurutkan semangat ketiganya  mengajarkan ilmu kepada para murid.


Kondisi jalan yang ditempuh Rubiah dan kawan-kawannya menuju SDN 18, Desa Sungai Dungun, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. [Foto HAD|Rienews.com]
“Kami tidak bisa lewat jalan utama yaitu Jalan Desa Sungai Dungun, karena kondisinya sangat parah, ada banjir yang tak bisa dilewati, air dari laut naik ke jalan, air dari gunung turun juga ke jalan, belum lagi ancaman hadangan buaya yang naik akibat banjir. Banyak kambing warga yang hilang, kami tak mau jadi santapannya,” kata Rubiah.

Sebagai guru, tanggungjawab, mereka mengabaikan medan bahayai tersebut.Rubiah, Titin, dan Siti mengambil inisiatif melewati jalan lereng bukit.

“Kami harus tetap mengajar, bagaimanapun caranya. Kami memutuskan untuk melewati jalan alternatif yang terletak di kaki bukit, sedikit lebih baik dan bisa dilewati, meskipun jalan tersebut juga terkadang becek dan banjir,” sebut dia.

Mereka tak punya pilihan lain, saban hari, pergi-pulang usai mengajar anak muridnya, melintasi jalur berbahaya itu. Terlintas solusi mengatasi kondisi tersebut, menginap di sekitaran sekolah.

“Kami pernah berpikir untuk menginap saja di dekat lokasi sekolah, tapi tak ada tempat untuk menginap di sana. Jadinya setiap hari kami harus berjuang bersama melewati jalan mana saja yang kami bisa untuk pergi mengajar,” tutur Rubiah.

Tanggungjawab mereka, sangat layak diapresiasi. Seusai menunaikan tugas sebagai pendidik di SDN 18 Desa Sungai Dungun. Setiba di rumah, mereka mengemban tugas, tanggungjawab sebagai istri dan seorang ibu.

“Ada teman yang sampai keguguran,” kenang Rubiah.

Tak hanya Rubiah, Titin, dan Siti alami kondisi jalur berbahaya. Para murid  lainnya menempuh jalur medan berbahaya demi mendapatkan ilmu pendidikan.


Ancaman binatang binatang buas, buaya, jadi ancaman para pelintas di jalur ini menuju SDN 18, Desa Sungai Dungun, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. [Foto HAD|Rienews.com]
“Siswa kita juga ada yang harus menempuh jalan yang sama, kemarin ada yang jatuh ke sungai,” kenang Rubiah.

Hal ini dilalui para guru dan pelajar kurun waktu sapta (tujuh) tahun.

“Sudah sejak tahun 2010. Pertama mengajar sudah begini keadaan yang kita alami, perjalanan yang semestinya bisa ditempuh selama belasan menit, harus dilalui selama lebih dari dua jam, panjang jalan yang rusak mungkin mencapai lima kilometer lebih,” ujarnya.

Permohonan perhatian pernah mereka sampaikan kepada pemerintah setempat.  Dengan asa datanganya perbaikan jalur lintas menuju sekolag.  Namun, perhatian dan perbaikan tak kunjung tiba.

“Sudah pernah kami melaporkan keadaan ini kepada Pemerintah Desa setempat dan Pemerintah Kabupaten, akan tetapi tak ada respons berarti, begitulah keadaannya tetap rusak,” kata Rubiah.

Meski perhatian akan kesulitan yang dihadapi Rubiah dan sejawatnya, tidak didapatkan dari pemerintah dan instansi terkait. Mereka tak putus semangat.

Secara swadaya mereka memperbaiki kondisi jalan.

“Kami tiap tahun patungan untuk membeli kayu, bekas pohon kelapa, dan papan untuk diletakkan pada ruas jalan agar kita bisa lewat. Mungkin tahun ini kami harus urunan lagi, kami ingin membangun jalan kecil di bahu jalan, yang penting bisa dilewati sepeda motor,” kata Rubiah bersemangat. (HAD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *