Mengefektifkan Penanganan Gempa Sulbar, BNPB Aktifkan Desk Relawan

oleh -131 Kali Dibaca
BNPB mendistribusikan bantuan logistik untuk warga penyintas dampak gempa di Sulawesi Barat dengan menggunakan helikopter. [Foto BNPB]

RIENEWS.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaksimalkan penanganan kedaruratan dampak gempa di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Hingga Senin 17 Januari 2021, pukul 11.11 WIB, kawasan ini masih diguncang lindu darat berkekuatan Magnitudo (M)4,2. Pusat gempa berada di darat 16 kilometer timur laut Majene dengan kedalaman 10 kilometer.

Dalam penanganan warga penyintas dampak gempa bumi di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene, BNPB pada Minggu 17 Januari 2021, mendistribusikan bantuan logistik dengan menggunakan helikopter.

Bantuan logistik yang didistribusikan melalui jalur udara itu berupa 270 dus mie instan, 15 dus air mineral dan 5 bal selimut, dilaporkan telah didistribusikan dari Posko Bandara Tampa Padang Mamuju ke Kantor Camat Malunda, Kantor Camat Ulumanda dan Tubosendang, Kabupaten Majene serta Kecamatan Takandeang, Kabupaten Mamuju.

“Selanjutnya pendistribusian bantuan logistik via udara akan dilakukan ke beberapa desa di Kabupaten Majene, yaitu Desa Onang Selatan, Desa Kabiran, Desa Tandeallo dan Desa Sukamuyu pada  Senin (18 Januari 2021),” ujar Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Baca Berita:

Percepat Tangani Dampak Gempa Sulbar, BNPB Akan Beri Dana Stimulan Kerusakan Rumah

Optimalkan Penanganan Korban Dampak Gempa Majene

Bertempat di Kota Mamuju, Minggu 17 Januari 2021, Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan menggelar briefing pengaktifan desk relawan dalam penanganan darurat bencana gempa Sulawesi Barat dengan organisasi kemanusiaan (relawan).

Lilik menyampaikan tiga poin di antaranya, mengenai penjelasan desk relawan, penggunaan InaRISK untuk survei bangunan terdampak, dan laporan setiap perwakilan organisasi. Dia berharap, organisasi kemanusiaan dapat saling berkolaborasi dengan pos komando (posko) sehingga penanganan darurat di lapangan dapat berlangsung terpadu dan efektif.

Relawan merupakan kekuatan yang sangat penting dalam penanganan darurat yang berdampak seperti di Kota Mamuju maupun Kabupaten Majene. Mereka memiliki sumber daya yang menanggulangi kesenjangan maupun melengkapi kebutuhan di lapangan, misalnya evakuasi dan pencarian, transportasi logistik maupun pendampingan warga terdampak.

“Kami berharap pertemuan antar-para relawan ini dilakukan secara harian setiap harinya, pukul 16.00 WIB,” ujar Lilik.

Jumlah Korban dan Warga Penyintas

Pusat pengendali operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan jumlah korban meninggal dunia, terdata hingga Minggu 17 Januari 2021, pukul 20.00 WIB, sebanyak 81 orang.

“70 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan 11 orang di Kabupaten Majane,” kata Raditya Jati.

Dikatakannya, BPBD Kabupaten Majene, Kabupaten Mamuju serta Kabupaten Polewali Mandar terus melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan TNI-Polri, Basarnas serta relawan maupun instansi lainnya dalam proses evakuasi masyarakat terdampak.

Selain itu, Pusdalops BNPB juga memutakhirkan data kerugian materil di Kabupaten Majene antara lain 1.150 unit rumah rusak yang masih dalam proses pendataan serta 15 unit sekolah terdampak.

Pusdalops BNPB melaporkan jumlah warga penyintas dampak gempa di Sulbar, 19.435 jiwa.

“Dengan rincian 15.014 orang mengungsi di Kabupaten Mamuju, dan 4.421 orang mengungsi di Kabupaten Majane,” ujar Radita.

Kabupaten Majene terdapat 25 titik pengungsian tersebar di Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang serta Desa Limbua yang masih dalam proses pendataan. Sedangkan di Kabupaten Mamuju terdapat lima titik pengungsian di Kecamatan Mamuju dan Kecamatan Simboro yang masih dalam proses pendataan.

Cegah Penularan Covid-19

Kepala BNPB Doni Monardo yang juga Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memberikan alat tes cepat antigen untuk memeriksa dan menelusuri adanya penularan Covid-19 di lingkungan pengungsian.

“Nanti akan ada proses swab antigen, untuk kita menjamin para pengungsi tidak terpapar Covid-19,” kata Doni, Minggu 17 Januari 2021.

Apabila terdapat warga pengungsi yang reaktif (hasil) swab antigen, maka akan segera mendapatkan tindak lanjut dari dinas kesehatan setempat.

Untuk mencegah penularan Covid-19, Doni meminta pemisahan kelompok rentan dengan usia muda di tempat pengungsian.

Majene Kembali Diguncang Gempa

Senin 17 Januari 2021, pukul 11.11 WIB, Kabupaten Majene, Sulbar, kembali diguncang gempa darat berkekuatan Magnitudo (M)4,2. Pusat gempa berada di darat 16 kilometer timur laut Majene dengan kedalaman 10 kilometer.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati menyebutkan, informasi tim relawan yang berada di Mamuju, gempa dirasakan cukup kuat namun tidak sampai menimbulkan kepanikan.

“Belum ada laporan terkait dampak gempa susulan tersebut,” kata Raditya dalam siaran persnya kepada jurnalis.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan gempa susulan masih akan terjadi. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan selalu waspada terkait adanya potensi gempa susulan yang berkekuatan signifikan.

BNPB juga mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dengan tebing curam untuk waspada terhadap longsoran dan reruntuhan batu. Bagi yang tinggal di kawasan pantai atau pesisir, diharapkan untuk selalu waspada dan segera menjauhi pantai apabila merasakan adanya gempa susulan.

Masyarakat dapat mengikuti perkembangan informasi kegempaan melalui BMKG dan portal InaRisk untuk mengetahui potensi risiko bencana yang ada disekitar tempat tinggal. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *