Kurator Pameran Arsip Moesoem Pers Jogjakarta, Anang Saptoto menjelaskan, tim menafsir ulang arsip-arsip KR menjadi berbagai karya seni. Karya infografis dan lukisan pada kanvas berbahan cat akrilik dan pigura kayu, contohnya. Karya berjudul Alur Pemikiran Proyek Museum Pers Jogja berukuran 150×125 sentimeter secara visual menggambarkan berbagai temuan dari KR berupa ilustrasi dan tulisan.
Menggunakan pendekatan dekoratif, karya dua panel ini memakai sentuhan kelir cerah yang menyimbolkan pemikiran segar, progresif, tanpa meninggalkan ketajaman cara berpikir. Ada juga karya berjudul Infografis Peta Sejarah Pers Jogjakarta berbentuk infografis dan lukisan berbahan cat akrilik dan pigura kayu berukuran 125×150 sentimeter. Karya tiga panel itu menggunakan kolase gambar dan judul artikel KR pada 1945 hingga 2012. Selain itu, pameran benda-benda memorabilia menjadi saksi berbagai liputan Pemimpin Redaksi KR, Octo Lampito dan sejumlah jurnalis KR.
Penggagas kolaborasi, Masduki menyebutkan KR menggambarkan Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia, ruang kolektif dalam dinamika politik, bisnis, dan partisipasi warga negara. KR menyuguhkan public good saat media massa berada pada era konvensional atau versi cetak. Surat kabar ini membuktikan konten-konten yang bagus dalam karya jurnalistik membawa dampak loyalitas dan penguatan merk hingga menjadi media legendaris.
Artikel lain
BSSN Beberkan Serangan Ransomware ke Pusat Data Nasional Sementara
Kasus Vina Cirebon Kapolri Terjunkan Tim Mabes
Yaqut Menjawab Soal Alokasi Kuota Tambahan Haji 10 Ribu ke ONH Plus
Pameran ini akan dibuka oleh Rektor UII, Fathul Wahid bersamaan dengan pengukuhan Masduki sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Media dan Jurnalisme Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII. Masduki juga akan meluncurkan buku karyanya berjudul Negara, Media, dan Jurnalisme Indonesia pasca-Orde Baru yang diterbitkan Kompas Gramedia. Masduki menjelaskan pameran perdana hasil kolaborasi ini bisa dikembangkan. (Red)






