Penelitian Suhadi, Permukaan Air Tanah di Sleman Tiap Tahun Turun

oleh -1.781 Kali Dibaca
Dosen FIS UNY Suhadi Purwantara. [Foto UGM | Rienews]

RIENEWS.COM – Suhadi Purwantara dalam disertasinya mengemukakan, permukaan air tanah di Kabupaten Sleman, Provinsi DIY, tiap tahun mengalami penurunan hingga 30 sentimeter. Penurunan ini disebabkan antara lain, makin berkurangnya area resepan air akibat dampak perluasan pemukiman.

“Semakin luasnya pertumbuhan permukiman mengakibatkan semakin berkurangnya ruang peresapan air hujan,” ujar Suhadi.

Penelitian Suhadi di Kabupaten Sleman, khususnya di dataran kaki lereng Gunung Merapi sisi selatan, terjadi pemekaran permukiman atau kawasan terbangun di daerah tersebut. Sementara di daerah perkotaan, terbentang di dekat jalan lingkar utara telah menjadi lahan terbangun relatif padat.

Lahan yang memiliki potensi menjadi kawasan resapan banyak tertutup oleh bangunan yang tidak menyerap air hujan. Kawasan ini menjadi penyumbang limpasan air hujan semakin besar.

Pada 10 tahun mendatang, kata Suhadi, wilayah tersebut diperediksi akan mengalami perluasan lahan terbangun hingga ratusan hektar.

“Hal ini akan berakibat pada ruang peresapan air hujan yang menyebabkan berkurangnya cadangan air tanah. Selain itu, bertambahnya larian air ke sungai menyebabkan seringnya terjadi banjir,” ungkap Suhadi dalam ujian terbuka Program Doktor di Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta, Rabu 30 Januari 2019.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (FIS UNY) itu, menyatakan, kawasan dengan lahan terbangun relatif padat seperti di sekitar jalur lingkar utara Jalan Magelang, Kampus UII terpadu, kedalaman muka air tanahnya semakin turun. Padahal, kawasan padat penduduk tersebut sangat berpotensi menjadi daerah resapan.

Baca Berita: 8 Sekolah di Karo Raih Anugerah Adiwiyata

Suhadi menekankan perlunya pengelolaan khusus peresapan buatan di kawasan sub-urban yang berada dekat Kota Yogyakarta. Pengelolaan peresapan buatan di kawasan Yogyakarta bagian utara perlu dilakukan untuk meningkatkan cadangan air tanah.

Langkah tersebut perlu dilakukan mengingat laju penurunan permukaan air tanah di Yogyakarta dan sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman terus terjadi.

Setiap tahunnya, menurut Suhadi, muka air tanah di Kabupaten Sleman mengalami penurunan sebesar 15 hingga 30 sentimeter. Kondisi tersebut disebabkan tingginya pemakaian air, sementara wilayah resapan air semakin berkurang, karena alih fungsi lahan menjadi perumahan dan bangunan publik.

“Pada kawasan tersebut, kedalaman air tanah sangat dalam dan laju peresapan sangat tinggi sehingga patut dibangun sumur resapan buatan,” kata Suhadi.

Besarnya sumur resapan yang perlu dibangun, Suhadi mengusulkan alternatif di kawasan terbangun seluas 28,3 kilometer persegi diperlukan sumur resapan sebanyak 361.473. Namun, perhitungan tersebut tidak mencakup kawasan yang kurang potensial atau dengan muka air tanah dangkal. (Rep-04 | Rel)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *