Tanggap Darurat Diperpanjang, Sudah 387 Korban Meninggal

oleh -3.328 Kali Dibaca
Tim medis memberikan pertolongan terhadap korban luka terdampak gempa 7 SR di NTB. [Foto BNPB | Rienews.com]

RIENEWS.COMMemasuki hari keenam, Sabtu 11 Agustus 2018, pascagempabumi 7 SR yang mengguncang wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali, penanganan darurat masih terus diintensifkan.

Masa tanggap darurat penanganan dampak gempabumi berakhir  hari ini (Sabtu), oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat diputuskan diperpanjang 14 hari  terhitung Minggu 12 Agustus 2018 hingga Sabtu 25 Agustus 2018.

Kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers yang diterima rienews.com, menyatakan, kondisi di lapangan masih banyak permasalahan, seperti masih adanya korban yang harus dievakuasi, pengungsi yang belum tertangani dengan baik, gempa susulan yang masih terus berlangsung. Bahkan gempa yang merusak dan menimbulkan korban jiwa, dan lainnya.

Berita Terkait: BNPB: Korban Terus Bertambah, 321 Meninggal Akibat Gempa 7 SR

Berita Populer: Sidang Perebutan Harta Warisan Antara Anak dan Ibu Tiri

“Dengan adanya penetapan masa tanggap darurat maka ada kemudahan akses untuk pengerahan personil, penggunaan sumberdaya, penggunaan anggaran, pengadaan barang logistik dan peralatan, dan administrasi sehingga penanganan dampak bencana menjadi lebih cepat,” ujar Sutopo.

Korban Bertambah

Jumlah korban meninggal akibat gempabumi terus bertambah. Hingga Sabtu 11 Agustus 2018, ercatat 387 orang meninggal dunia dengan sebaran Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30 orang, Lombok Timur 10 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang meninggal.

Diperkirakan jumlah korban meninggal akan terus bertambah karena masih ada korban yang diduga tertimbun longsor, bangunan roboh, dan adanya korban meninggal yang belum didata dan dilaporkan ke posko.

“Jika di Kabupaten Lombok Timur kemarin dilaporkan 11 orang meninggal dunia. Setelah diverifikasi ternyata terjadi pencatatan ganda. Satu korban dilaporkan 2 kali karena menggunakan nama panggilan dan nama lengkap,” sebut Sutopo.

Korban luka sebanyak 13.688 orang. Sedangkan jumlah pengungsi tercatat 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik.

Ratusan ribu jiwa pengungsi tersebut tersebar di Kabupaten Lombok Utara 198.846 orang, Kota Mataram 20.343 orang, Lombok Barat 91.372 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.

“Angka pengungsi berubah-ubah karena banyak pengungsi yang pada siang hari kembali ke rumah atau menengok kebunnya, tetapi pada malam hari kembali ke pengungsian. Selain itu belum semua titik pengungsi terdata,” kata Sutopo.

Juga terdapat sebagian warga yang harusnya tidak perlu mengungsi karena kondisi rumah masih berdiri kokoh tanpa kerusakan, tetapi ikut mengungsi karena trauma dengan gempa.

“Semuanya memerlukan bantuan,” ungkap Kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Kerusakan

Pendataan kerusakan fisik 67.875 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak.

“Angka ini juga sementara. Pendataan dan verifikasi masih dilakukan petugas. Pendataan dan verifikasi rumah diprioritaskan agar terdata jumlah kerusakan rumah dengan nama pemilik dan alamat untuk selanjutnya di-SK-kan Bupati/Walikota dan diserahkan ke BNPB untuk selanjutnya korban menerima bantuan stimulus perbaikan rumah,” tegas Sutopo.

Bantuan

Di hari keenam pascagempa 7 SR, terdapat beberapa pengungsi yang belum mendapat bantuan, khususnya di Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Pemenang yang aksesnya sulit dijangkau. Juga di beberapa titik di Lombok Barat.

“Bantuan logistik terus berdatangan. Permasalahan utama adalah distribusi logistik yang untuk mengirimkan ke ribuan titik pengungsian. Akses jalan menuju lokasi pengungsi juga rusak. Sebagian besar jalan di Lombok Utara mengalami kerusakan akibat gempa. Oleh karena itu percepatan distribusi logistik menjadi prioritas saat ini, selain pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi,” jelas Sutopo.

Saat ini kebutuhan mendesak adalah tenda, selimut, makanan siap saji, beras, MCK portable, air minum, air bersih, tendon air, mi instan, pakaian, terpal/alas tidur, alat penerang/listrik, layanan kesehatan dan trauma healing. (Rep-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *