RIENEWS.COM – Dalam Pemilu 2019, tercatat 894 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebut penyebab utama adalah riwayat penyakit bawaan dan beratnya beban kerja. Tragedi itu diharapkan tak berulang dalam Pemilu 2024 mengingat KPPS adalah garda terdepan Pemilu.
Meskipun anggota KPPS telah menunjukkan surat keterangan sehat saat mendaftar, bukan berarti kejadian tersebut tidak akan terulang. Surat tersebut tidak menjamin mengingat kebanyakan penyakit bawaan, terutama kardiovaskular bersifat asymptomatic.
“Penyakit-penyakit kardiovaskular banyak asymptomatic atau tanpa gejala. Itulah yang harus menjadi kewaspadaan,” terang Dokter Spesialis Jantung sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universita Airlangga (Unair), Andrianto, Senin, 12 Februari 2024.
Seseorang untuk bisa melakukan pekerjaan ekstra, lanjutnya, harus memiliki kesiapan fisik dan mental. Kesiapan tersebut bermula dari sebelum hingga berakhirnya pelaksanaan tugas anggota KPPS.
Tips Menjaga Kesehatan
Andrianto mengingatkan, pertama untuk jangan sampai kelelahan sebelum hari pelaksanaan, meskipun persiapannya pun tidaklah ringan. Jadi setiap petugas KPPS perlu punya manajemen waktu istirahat yang baik, tahu kapan waktu kerja dan kapan waktunya istirahat.
Begitupun saat pelaksanaan pemilu. Meskipun istirahat dan beban saat penyelenggaraannya tidak seimbang, KPPS bisa menyiasati waktu untuk memulihkan tenaga walau sebentar.
“Harus juga mengatur beban agar tidak berlebihan. Ada pengaturan jam istirahat sehingga tubuh ada fase untuk recovery,” jelas dia.
Kedua, kecukupan gizi juga menjadi penunjang. Ia tidak menyarankan doping, istilah yang masyarakat kenal dengan mengonsumsi obat-obatan tertentu untuk memperkuat tubuh selama bertugas.
Artikel lain
Kemenkes Siapkan Layanan Kesehatan Pemilu 2024
Forum OBH DIY Buka Pos Pengaduan Korban Rezim Jokowi
Koalisi Sipil, Kriminalisasi Tim Film Dirty Vote Keliru dan Cacat Logika
“Tidak perlu doping. Justru kalau sistem doping, tubuh tidak dalam keadaan fit, dan teraktivasi berlebihan, nantinya juga akan kontraproduktif,” imbuh dia.
Terakhir, kenali diri sendiri. Tubuh akan mengirim sinyal apabila sedang tidak fit. Jika sinyal itu mengganggu seperti kecapaian, ngos-ngosan, dan berdebar, maka patut waspada dan segera kunjungi fasilitas kesehatan.
“Semakin singkat kita memanfaatkan waktu, jantung kita tidak akan dalam keadaan yang lebih buruk,” tutur Andrianto.
Pingsan Saat Bertugas
Ketika ada anggota yang pingsan, Andrianto mengimbau untuk memeriksa terlebih dahulu nafas dan denyut nadinya. Apabila keduanya terdeteksi, pasien hanya perlu berbaring dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala selama 10 hingga 15 menit. Pasien seperti ini harus istirahat dan berlanjut pada pemeriksaan lebih detail di fasilitas kesehatan.
Kondisi tersebut akan berbeda ketika pasien berhenti bernafas dan nadi tidak terdeteksi, terlebih akibat henti jantung. Ia mengungkapkan, jika angka harapan hidup dari henti jantung sangat rendah, maka upaya penanganan harus segera terlaksana.
Artikel lain
Bawaslu Awasi TPS yang Dekat Posko Tim Pemenangan
Aksi Massa Se-Jagad di Yogyakarta Menggugat dan Adili Jokowi
Koalisi Sipil, Unsur Kecurangan Pemilu Terstruktur, Sistemastis dan Masif Terpenuhi
“Ketika upaya penyelamatan henti jantung bisa dilakukan dalam 20 menit, 1 dari 5 bisa selamat. Kalau berhubungan dengan kegawatan jantung, pembuluh darah, dan saraf, sangat berhubungan dengan kecepatan dan ketepatan penanganan,” pungkas dia. (Rep-04)
Sumber: Uniar






